Kapoera, dalam Bahasa Inggris ditulis capoeira. Saya sangat tertarik dengan kapoera karena gerakan-gerakan akrobatikya, dan terlebih lagi setiap para praktisi kapoera sudah mulai berkumpul untuk melakukan jogo (permainan), yaitu dua orang pemain saling berhadapan dimana seluruh rekannya berkumpul membentuk lingkaran (roda) sambil memainkan musik yang khas, wow...rasanya sangat senang melihat pertunjukan mereka. Yang unik, mereka berhadapan bukan untuk saling melukai, tapi saling menghindar dan menunjukkan teknik-teknik akrobatik yang membutuhkan kekuatan dan kelenturan luar biasa. Teman saya sempat mengajarkan beberapa teknik dan iseng-iseng saya coba praktekkan, dan hasilnya...susah sekali! Dia hanya tertawa melihat rangkaian kegagalanku, hehehe.
Sekilas sejarah, kapoera adalah bela diri yang dikembangkan oleh para budak dari Afrika di Brazil yang didatangkan oleh orang-orang Portugis. Tekanan yang dihadapi oleh budak-budak inilah yang membuat mereka akhirnya mengembangkan cara untuk melawan dengan tangan kosong. Setelah masa perbudakan berakhir, para budak akhirnya menjadi tidak punya pekerjaan dan akhirnya membentuk atau bergabung dengan geng kriminal. Mereka tetap berlatih kapoera. Kapoera sempat dilarang di Brazil pada tahun 1892. Namun berangsur-angsur kapoera tidak lagi dilarang sampai puncaknya, Mestre Bimba (Manuel dos Reis Machado), seorang ahli kapoera diundang untuk memperagakan kapoera di depan presiden pada tahun 1937. Dia lalu diijinkan untuk membuka sekolah kapoera pertama di Brazil, dan kapoera akhirnya diakui sebagai olahraga nasional. Sejak itu perkembangan kapoera meningkat dan menyebar ke seluruh dunia.
Ada yang beranggapan kapoera hanya sekedar olahraga, ada juga yang menganggap sebagai beladiri. Namun kita tidak perlu larut dalam perdebatan tentang kapoera tersebut, karena kapoera lebih dari sekedar perdebatan, perdebatan hanya untuk para penguasa (mungkin bisa dibaca: politisi) yang rela menusuk rekannya sendiri demi kepentingan pribadi, serta rela menyengsarakan rakyat (mungkin karena benar-benar muak melihat para politisi dan sok politisi di Indonesia berlaku demikian, jadinya kesal banget). Dalam kapoera, persahabatan dan saling menghargai di antara dua orang yang sedang ber-jogo merupakan hal yang utama, sambil mereka juga bisa menghibur sehingga mendatangkan kesenangan bagi orang yang menontonnya. Jadi pilih mana, menjadi capoeiristas atau politisi? (I prefer to be a capoeristas).
Sunday, December 31, 2006
Senyum yang Telah Hilang...
Waktu memang tidak bisa dilawan, waktu terus menggerogoti kita.
Waktu juga yang telah merampas senyum itu.
Senyum itu sudah hilang, hampir tak berbekas.
Semua kenangan dalam senyum itu hanya terkenang manis dalam pikiran.
Masih belum terlupakan saat senyum itu ternyata membuat larut di dalamnya, senyum dengan warna pelangi.
Namun,
Mengapa sangat mudah senyum itu hilang?
Seperti pasir yang terhempas angin, hampir tak berbekas.
Hidup terus berjalan, mungkin kita telah banyak berbuat salah.
Apakah kesalahan itu tidak tertebus dengan apapun?
Apakah yang membuat senyum itu terhempas dari pandangan?
Sulit untuk mengetahui jawabannya, sesulit mengetahui penyebab kecelakaan Putri Diana.
Apakah memang semua putri gampang kehilangan senyumnya?
Kita harus cukup kuat untuk menerima semua kehilangan.
Dan kita harus berusaha selama masih bisa mendapatkan senyum itu.
Terus berjuang, Pejuang Senyum! :)
Waktu juga yang telah merampas senyum itu.
Senyum itu sudah hilang, hampir tak berbekas.
Semua kenangan dalam senyum itu hanya terkenang manis dalam pikiran.
Masih belum terlupakan saat senyum itu ternyata membuat larut di dalamnya, senyum dengan warna pelangi.
Namun,
Mengapa sangat mudah senyum itu hilang?
Seperti pasir yang terhempas angin, hampir tak berbekas.
Hidup terus berjalan, mungkin kita telah banyak berbuat salah.
Apakah kesalahan itu tidak tertebus dengan apapun?
Apakah yang membuat senyum itu terhempas dari pandangan?
Sulit untuk mengetahui jawabannya, sesulit mengetahui penyebab kecelakaan Putri Diana.
Apakah memang semua putri gampang kehilangan senyumnya?
Kita harus cukup kuat untuk menerima semua kehilangan.
Dan kita harus berusaha selama masih bisa mendapatkan senyum itu.
Terus berjuang, Pejuang Senyum! :)
Venesia
Benvenuto! Welcome to Venice!
Menikmati keindahan di Venesia sama seperti sebuah simulasi sebelum ke surga, meski kamu belum pernah mengalami pengalaman transendensial untuk mengetahui surga itu seperti apa. Sepulang dari Venesia mungkin saja kamu bisa menjadi lebih religius meskipun kota ini bukanlah Mekkah ataupun Vatikan. Mengagumi keindahan juga bisa menjadi wisata spiritual yang baik, jika kamu menyadarinya.
Venesia juga bagai sutradara ulung yang mampu mempertontonkan alur cerita yang mengesankan dalam sebuah film melalui perjalanan dengan menggunakan gondolanya yang terkenal itu (tentunya di saat yang sama kamu harus mengalirkan Euro terus-menerus). Kotanya seperti mengapung di atas air, polusi sangat susah kamu temui di Venesia karena lebih banyak pejalan kaki dan gondola disana (juga vaporetti atau ‘bus perahu’ yang menggunakan mesin untuk berjalan).
Inilah sebabnya mengapa saya merasa harus mengajak Clarine datang ke kota kelahiran Marco Polo ini, hanya berdua. Bersama dengannya menonton sebuah film nyata dengan judul Venesia ini pasti akan menancapkan memori yang kuat di otak. Nonton di bioskop sudah terlalu biasa, tidak ada yang bisa kamu nikmati disana. Memberi kebahagiaan Clarine adalah misi utamanya. Apakah Clarine selama ini tidak bahagia? Tentu saja tidak. Clarine memiliki segalanya. Orang tua yang baik, saudara-saudara yang lucu, prestasi yang cemerlang, rumah yang bagus dan masih banyak lagi. Tapi kenapa saya masih tetap membawa misi membahagiakan Clarine? Agar Clarine tahu bahwa dia begitu berarti bagi saya. Tapi mengapa harus Venesia, tempat ini terlalu jauh dan menghabiskan banyak biaya untuk mencapainya? Bagi saya Venesia adalah tempat dimana malaikat yang memujanya, dan Clarine patut dipuja malaikat, oleh karena itu saya yakin para malaikat akan ikut memuja Clarine di Venesia (saya mengeluarkan teoriku sendiri dengan gaya sok tahu yang mungkin bisa dihujat oleh para pemuja malaikat, teori yang sama sekali tidak ilmiah, karena di Venesia juga kan ada penjahat masak malaikat akan memuja penjahat itu juga, hahaha, tapi saya sungguh yakin akan hal itu), karena Venesia adalah salah satu kota terindah di muka bumi ini.
Clarine adalah seorang wanita yang periang, manis, dan lebih dari itu semua dia sangat baik. Kalau dia mau jadi model video klip dari lagu seperti “Mahadewi”-nya grup Padi pasti sangat cocok, karena sesuai dengan lirik lagunya, “Alam raya pun semua tersenyum merunduk dan memuja hadirnya,” begitulah sosok Clarine saya deskripsikan. Sering juga saya diperingati untuk berhati-hati dan jangan terlalu berlebihan karena toh dia juga masih manusia biasa, khilaf tidak akan bisa lepas dari dirinya juga. Apa kamu yakin dia sebaik itu? Apa kamu siap untuk kecewa jika dia ternyata dia bersikap jauh dari harapanmu? Apakah kamu siap sebelanga susu rusak karena setitik nila? Lebih dari itu semua apakah kamu tulus? Ada benarnya juga. Sering saya melihat problem rumah tangga yang menimpa para selebritis kita (karena sering terekspos). Pada saat awal membentuk rumah tangga segalanya serba “Mahadewi”, namun entah perubahan drastis mahadahsyat seperti apa yang membuat segalanya menjadi “Mahaneraka”, apa kehendak yang Mahakuasa dibalik semua ini? Kata orang bijak kita harus selalu siap menerima perubahan karena perubahan tidak bisa dihindari. Semoga saya bisa mendapatkan jawabannya di Venesia. Banyak seniman besar terlahir ataupun terinspirasi dari Venesia. Vivaldi, Titian, Tintoretto, Marco Polo, Casanova (cirinya dengan Marco Polo adalah sama-sama petualang, tapi yang satu ini terkenal sebagai ‘petualang perempuan’ ) dan masih banyak lagi. Saya sedikit berharap daya magis Venesia bisa bekerja dalam diriku kali ini, benarkah saya terlalu berlebihan memuja Clarine? Misi ke Venesia akhirnya bertambah satu lagi, saya harus benar-benar memastikan sosok Clarine memang yang “terbaik”.
Nama Clarine konon diambil dari nama alat musik “clarinet”. Ayahnya adalah penggemar alat musik tiup ini. Sosok clarinetis jazz asal Swedia Hans Olof Wickman-lah yang membuatnya tergila-gila dengan clarinet. Tapi tentu saja beliau bukan pemain yang handal, tapi tidak jelek juga. Ibunya tidak terlalu menaruh perhatian terhadap musik, senang mendengar musik yang sederhana terutama lagu nostalgia. Pemberian nama “Clarine” terhadap putri mereka cukup disetujui oleh ibu Clarine, karena terdengar lumayan untuk nama seorang wanita. Wah saya tidak bisa membayangkan kalau ayahnya adalah seorang penggemar drum, gitar, ataupun lebih ekstrim bonang! (alat musik gamelan Jawa), pasti ayahnya akan berpikir ekstra mencarikan nama untuk putrinya. Bagaimana caranya memberi nama yang pas untuk putri dari kata drum, gitar, bonang. Tapi hidup ini memang penuh misteri, kalau saja ayahnya waktu muda tidak mendengar lantunan clarinet Hans Olof Wickman, maka tidak akan ada Clarine (yang ada bisa-bisa Bonang!).
Setelah tiba di Venesia, kami beristirahat dulu seharian, karena perjalanan kesini memerlukan waktu yang panjang. Aroma Venesia membuat kami tidak tahan lagi untuk menyusurinya. Clarine begitu antusias untuk berkeliling kota dengan gondola, langsung saja kami berdua meminta untuk diajak berkeliling kota Venesia. Pendayung gondola adalah asisten sutradara di Venesia, karena merekalah yang akan menunjukkan keelokan Venesia dengan sangat beritme. Bak sebuah film mereka memulai perjalanan melewati tempat dengan pemandangan yang ‘biasa-biasa’ saja dengan melewati kanal-kanal yang sempit. Clarine tampak begitu menikmati perjalanan ini. Ingat, misi saya adalah membahagiakannya bukan menghayati perjalanan ini dan terbuai dengan Venesia, saya sempat sejenak melupakan misi saya ini karena larut dalam belaian Venesia. Kita akan melewati Canale Grande kanal yang luas dan sangat terkenal, terutama setelah melewati gereja Basilica di Santa Maria della Salute yang terkenal itu, begitu orang-orang menyebutnya disini. Sang sutradara sudah menetapkan inilah klimaks dari film (ditandai dengan makin menariknya pemandangan yang tersaji disekitar), ritme yang pas sehingga Clarine pun menyandarkan kepalanya di bahuku. Ekspresinya begitu damai. Tangannya dingin karena suhu disini begitu rendah, tapi mampu mengalirkan kehangatan yang kamu tidak akan bisa mencari rumus ilmiahnya.
Tapi dari tadi benakku masih muncul sejumlah pertanyaan, misteri Clarine, bagaimana saya mencari atau memastikan sosok “terbaik” ini pada diri Clarine? Juga saya harus bertanya kepada diri sendiri, atas dasar apa kamu mencintai Clarine? Dia cantik, dia baik, dia pintar, dia begini, dia begitu. Bagaimana kalau semua itu mendadak hilang? Masih ada cintamu untuk dia, masih tulus kamu untuk dia? Semua yang kamu lakukan ini benarkah jauh dari hanya sekedar ilusi cintamu? Ugh! Saya tidak boleh tampak aneh di depannya. Hasil dari dua misi yang kuemban masih belum bisa dinilai. Ah, biarlah saya dan Clarine meneruskan perjalanan ini dulu, kami akan ke areal dimana terdapat gereja St. Mark yang terkenal itu. Saya juga patut salut untuk ratusan kalinya terhadap Venesia, pendayung gondolanya memang paham betul keinginan sutradaranya, mereka sangat kompak dalam melestarikan lembaran skenario romantis yang berusia ratusan tahun ini, memang pantas UNESCO memasukkan Venesia sebagai warisan budaya dunia.
Basilica di San Marco, bahasa Italianya. Dalam bahasa Inggris disebut St. Mark’s Basilica. Namanya diambil untuk menghormati St. Mark yang dijadikan semacam orang suci panutan dan pelindung bagi Venesia. Gereja ini sangat indah dan menjadi salah satu tujuan wisata utama di Venesia, umurnya sudah ratusan tahun. Di depannya terdapat lapangan yang begitu luas yang bernama Piazza San Marco. Ratusan orang berjubel disini. Burung merpati juga sangat banyak. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan bersejarah. Clarine sangat senang. Dia mengagumi burung merpati, katanya. Dia senang jika melihat burung merpati terbang begitu bebas tapi di saat yang sama dia juga tetap bisa kembali kepadamu, dia juga sedikit iri kepada jenis hewan bersayap ini karena dia juga ingin bisa terbang. Baginya melihat susunan bangunan yang berjejer dari ketinggian memberikan pandangan yang semakin luas dan sudut pandang lain dalam melihat sesuatu dan semakin tahu detailnya jika dilihat dari atas karena semua perlahan menjadi mengecil. Merpati adalah lambang persahabatan yang abadi seperti yang dia simak dari film favoritnya “Home Alone 2”. Dalam film itu si pemeran utama Kevin diberi hadiah sepasang hiasan merpati oleh pemilik toko mainan yang misterius. Simpan satu dan berilah satu kepada orang yang kamu tidak ingin lupakan, maka persahabatan kalian akan abadi, kurang-lebih begitu filosofi burung merpati yang disampaikan dalam film itu.
Saya mulai bisa mendalami isi kepala Clarine. Clarine tidak butuh cinta murahan (tentunya bukan hanya Clarine). Saling memberi dan saling pengertian dan yang penting adalah tulus, tidak ada pamrih melekat disana, hanya cinta seorang ibu yang bisa menandingi cinta muda-mudi ini.
Matahari mulai tenggelam. Hari ini kami berkeliling di tempat-tempat yang bersejarah di Venesia. Rasa lelah menjadi semakin menjadi-jadi karena dingin begitu menusuk meski jaket sudah berlapis-lapis. Tubuhku yang terbiasa dengan suhu di daerah khatulistiwa dipaksa untuk beradaptasi dengan perubahan suhu yang ekstrim ini. Lampu-lampu kota sudah mulai menyala menerangi Venesia. Kami duduk di bangku dengan pemandangan menghadap kanal yang menjadi jalur transportasinya gondola-gondola.
Saya memulai pembicaraan dengan Clarine.
“Clarine... apakah kamu bahagia?,” tanyaku.
“Tentu saja,” jawabnya.
Syukurlah, sahutku dalam hati. “Inilah sebabnya mengapa saya mengajakmu ke Venesia.”
Sambil menatap mataku, Clarine berkata, “Kamu tahu, tanpa Venesia pun Clarine sudah sangat bahagia atas semua yang telah kamu berikan. Clarine sudah mendapatkan segala kebahagiaan jika pada saat sedih ada yang menghibur Clarine, pada saat bahagia ada yang bersama Clarine. Venesia tidak bisa berbicara kepada Clarine, Venesia tidak bisa mendengarkan isi hati Clarine, Venesia betapapun indahnya dia bisu.”
“Tapi kamu bisa memberikan Clarine kebahagiaan yang lebih dari yang bisa Venesia berikan.”
Lalu saya bertanya,” Clarine, apakah saya sudah memberikan yang terbaik untukmu? Apakah saya sudah menjadi yang terbaik untuk Clarine?”
“Tentu! Clarine selalu merasakan apa yang kamu berikan adalah yang terbaik dan tulus. Clarine sangat bahagia! Untuk bisa memberikan yang terbaik untukmu Clarine bisa memberinya setiap saat, rasa saling pengertian tidak akan tumbuh melalui perjalanan indah, melainkan dipupuk dengan sabar, maka cinta akan tumbuh subur.”
Clarine cukup pandai berfilosofi, saya benar-benar tidak bisa dibuat banyak bicara. Matanya lalu menatap dengan tulus, matanya seolah berbicara tegas dalam diamnya bahwa dia akan selalu menjadi yang terbaik. Saya semakin yakin kalau Clarine adalah yang “terbaik” itu.
“Tapi, perjalanan ke Venesia berkesan bukan?,” tanyaku.
“Ya! Kamu memang nekat! Baru kali ini Clarine dapat kejutan seheboh ini, Venesia...!? sungguh mengejutkan pokoknya!,” serunya sambil tersenyum dengan raut wajah yang meluap-luap.
Clarine lalu beraksi ketika secara samar-samar dia mendengar ada lantunan sonata. Itu sonata-nya Vivaldi, pemain biola yang menciptakan banyak karya musik yang merdu. Vivaldi begitu dipuja di Venesia karena dia adalah seorang putra daerah. Banyak orang yang memainkan karyanya. Clarine beranjak lalu mengajakku mencari sumber dari bunyian itu, dia berjalan duluan sementara saya masih terduduk sejenak, masih ingin merenung sejenak.
Saya ingin merenungi pernyataan Clarine. Saya juga ingin menjawab pertanyaan yang timbul di pikiranku ini. Parameter “terbaik” memang akhirnya akan sangat susah untuk kamu temui. Ini bukan hitung-hitungan matematika. Bagi saya kita tidak perlu terlalu serakah dan terlalu menuntut. “Terbaik” akan timbul sendirinya jika kamu sabar memupuknya. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain akan bergerak seiring dengan jalan pikiran kita, Clarine itu juga individu yang punya keinginan pribadi. Katanya tadi rasa saling pengertian tidak akan diperoleh melalui perjalanan indah, tapi dipupuk. Pengertian...kamu akan susah mendefinisikannya, karena bagi saya pengertian harus dialami dan dirasakan, agar kamu tidak jatuh berantakan nantinya.
Jadi, apakah Clarine terbaik untukku? Ya!
Tuluskah kamu untuk Clarine? Ya!
Kenapa kamu seyakin itu?
Saya yakin bukan karena hanya saya yang bisa melakukan itu, tapi Clarine juga mampu melakukannya untuk saya. Merpati itu milik Clarine!
Venesia.....perlukah setiap orang harus ke Venesia untuk menemukan yang terbaik bagi dirinya? Tidak!
Terus Venesia memiliki daya magis bukan? Keindahan kota Venesia bisa membuat siapa saja terkagum-kagum kepadanya dan memujanya.
Ya, tentu saja!
Jadi apakah setiap orang perlu berkunjung ke Venesia?
Pikirkan sendiri, carilah jawabannya dalam misteri kehidupanmu.
SELESAI
Menikmati keindahan di Venesia sama seperti sebuah simulasi sebelum ke surga, meski kamu belum pernah mengalami pengalaman transendensial untuk mengetahui surga itu seperti apa. Sepulang dari Venesia mungkin saja kamu bisa menjadi lebih religius meskipun kota ini bukanlah Mekkah ataupun Vatikan. Mengagumi keindahan juga bisa menjadi wisata spiritual yang baik, jika kamu menyadarinya.
Venesia juga bagai sutradara ulung yang mampu mempertontonkan alur cerita yang mengesankan dalam sebuah film melalui perjalanan dengan menggunakan gondolanya yang terkenal itu (tentunya di saat yang sama kamu harus mengalirkan Euro terus-menerus). Kotanya seperti mengapung di atas air, polusi sangat susah kamu temui di Venesia karena lebih banyak pejalan kaki dan gondola disana (juga vaporetti atau ‘bus perahu’ yang menggunakan mesin untuk berjalan).
Inilah sebabnya mengapa saya merasa harus mengajak Clarine datang ke kota kelahiran Marco Polo ini, hanya berdua. Bersama dengannya menonton sebuah film nyata dengan judul Venesia ini pasti akan menancapkan memori yang kuat di otak. Nonton di bioskop sudah terlalu biasa, tidak ada yang bisa kamu nikmati disana. Memberi kebahagiaan Clarine adalah misi utamanya. Apakah Clarine selama ini tidak bahagia? Tentu saja tidak. Clarine memiliki segalanya. Orang tua yang baik, saudara-saudara yang lucu, prestasi yang cemerlang, rumah yang bagus dan masih banyak lagi. Tapi kenapa saya masih tetap membawa misi membahagiakan Clarine? Agar Clarine tahu bahwa dia begitu berarti bagi saya. Tapi mengapa harus Venesia, tempat ini terlalu jauh dan menghabiskan banyak biaya untuk mencapainya? Bagi saya Venesia adalah tempat dimana malaikat yang memujanya, dan Clarine patut dipuja malaikat, oleh karena itu saya yakin para malaikat akan ikut memuja Clarine di Venesia (saya mengeluarkan teoriku sendiri dengan gaya sok tahu yang mungkin bisa dihujat oleh para pemuja malaikat, teori yang sama sekali tidak ilmiah, karena di Venesia juga kan ada penjahat masak malaikat akan memuja penjahat itu juga, hahaha, tapi saya sungguh yakin akan hal itu), karena Venesia adalah salah satu kota terindah di muka bumi ini.
Clarine adalah seorang wanita yang periang, manis, dan lebih dari itu semua dia sangat baik. Kalau dia mau jadi model video klip dari lagu seperti “Mahadewi”-nya grup Padi pasti sangat cocok, karena sesuai dengan lirik lagunya, “Alam raya pun semua tersenyum merunduk dan memuja hadirnya,” begitulah sosok Clarine saya deskripsikan. Sering juga saya diperingati untuk berhati-hati dan jangan terlalu berlebihan karena toh dia juga masih manusia biasa, khilaf tidak akan bisa lepas dari dirinya juga. Apa kamu yakin dia sebaik itu? Apa kamu siap untuk kecewa jika dia ternyata dia bersikap jauh dari harapanmu? Apakah kamu siap sebelanga susu rusak karena setitik nila? Lebih dari itu semua apakah kamu tulus? Ada benarnya juga. Sering saya melihat problem rumah tangga yang menimpa para selebritis kita (karena sering terekspos). Pada saat awal membentuk rumah tangga segalanya serba “Mahadewi”, namun entah perubahan drastis mahadahsyat seperti apa yang membuat segalanya menjadi “Mahaneraka”, apa kehendak yang Mahakuasa dibalik semua ini? Kata orang bijak kita harus selalu siap menerima perubahan karena perubahan tidak bisa dihindari. Semoga saya bisa mendapatkan jawabannya di Venesia. Banyak seniman besar terlahir ataupun terinspirasi dari Venesia. Vivaldi, Titian, Tintoretto, Marco Polo, Casanova (cirinya dengan Marco Polo adalah sama-sama petualang, tapi yang satu ini terkenal sebagai ‘petualang perempuan’ ) dan masih banyak lagi. Saya sedikit berharap daya magis Venesia bisa bekerja dalam diriku kali ini, benarkah saya terlalu berlebihan memuja Clarine? Misi ke Venesia akhirnya bertambah satu lagi, saya harus benar-benar memastikan sosok Clarine memang yang “terbaik”.
Nama Clarine konon diambil dari nama alat musik “clarinet”. Ayahnya adalah penggemar alat musik tiup ini. Sosok clarinetis jazz asal Swedia Hans Olof Wickman-lah yang membuatnya tergila-gila dengan clarinet. Tapi tentu saja beliau bukan pemain yang handal, tapi tidak jelek juga. Ibunya tidak terlalu menaruh perhatian terhadap musik, senang mendengar musik yang sederhana terutama lagu nostalgia. Pemberian nama “Clarine” terhadap putri mereka cukup disetujui oleh ibu Clarine, karena terdengar lumayan untuk nama seorang wanita. Wah saya tidak bisa membayangkan kalau ayahnya adalah seorang penggemar drum, gitar, ataupun lebih ekstrim bonang! (alat musik gamelan Jawa), pasti ayahnya akan berpikir ekstra mencarikan nama untuk putrinya. Bagaimana caranya memberi nama yang pas untuk putri dari kata drum, gitar, bonang. Tapi hidup ini memang penuh misteri, kalau saja ayahnya waktu muda tidak mendengar lantunan clarinet Hans Olof Wickman, maka tidak akan ada Clarine (yang ada bisa-bisa Bonang!).
Setelah tiba di Venesia, kami beristirahat dulu seharian, karena perjalanan kesini memerlukan waktu yang panjang. Aroma Venesia membuat kami tidak tahan lagi untuk menyusurinya. Clarine begitu antusias untuk berkeliling kota dengan gondola, langsung saja kami berdua meminta untuk diajak berkeliling kota Venesia. Pendayung gondola adalah asisten sutradara di Venesia, karena merekalah yang akan menunjukkan keelokan Venesia dengan sangat beritme. Bak sebuah film mereka memulai perjalanan melewati tempat dengan pemandangan yang ‘biasa-biasa’ saja dengan melewati kanal-kanal yang sempit. Clarine tampak begitu menikmati perjalanan ini. Ingat, misi saya adalah membahagiakannya bukan menghayati perjalanan ini dan terbuai dengan Venesia, saya sempat sejenak melupakan misi saya ini karena larut dalam belaian Venesia. Kita akan melewati Canale Grande kanal yang luas dan sangat terkenal, terutama setelah melewati gereja Basilica di Santa Maria della Salute yang terkenal itu, begitu orang-orang menyebutnya disini. Sang sutradara sudah menetapkan inilah klimaks dari film (ditandai dengan makin menariknya pemandangan yang tersaji disekitar), ritme yang pas sehingga Clarine pun menyandarkan kepalanya di bahuku. Ekspresinya begitu damai. Tangannya dingin karena suhu disini begitu rendah, tapi mampu mengalirkan kehangatan yang kamu tidak akan bisa mencari rumus ilmiahnya.
Tapi dari tadi benakku masih muncul sejumlah pertanyaan, misteri Clarine, bagaimana saya mencari atau memastikan sosok “terbaik” ini pada diri Clarine? Juga saya harus bertanya kepada diri sendiri, atas dasar apa kamu mencintai Clarine? Dia cantik, dia baik, dia pintar, dia begini, dia begitu. Bagaimana kalau semua itu mendadak hilang? Masih ada cintamu untuk dia, masih tulus kamu untuk dia? Semua yang kamu lakukan ini benarkah jauh dari hanya sekedar ilusi cintamu? Ugh! Saya tidak boleh tampak aneh di depannya. Hasil dari dua misi yang kuemban masih belum bisa dinilai. Ah, biarlah saya dan Clarine meneruskan perjalanan ini dulu, kami akan ke areal dimana terdapat gereja St. Mark yang terkenal itu. Saya juga patut salut untuk ratusan kalinya terhadap Venesia, pendayung gondolanya memang paham betul keinginan sutradaranya, mereka sangat kompak dalam melestarikan lembaran skenario romantis yang berusia ratusan tahun ini, memang pantas UNESCO memasukkan Venesia sebagai warisan budaya dunia.
Basilica di San Marco, bahasa Italianya. Dalam bahasa Inggris disebut St. Mark’s Basilica. Namanya diambil untuk menghormati St. Mark yang dijadikan semacam orang suci panutan dan pelindung bagi Venesia. Gereja ini sangat indah dan menjadi salah satu tujuan wisata utama di Venesia, umurnya sudah ratusan tahun. Di depannya terdapat lapangan yang begitu luas yang bernama Piazza San Marco. Ratusan orang berjubel disini. Burung merpati juga sangat banyak. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan bersejarah. Clarine sangat senang. Dia mengagumi burung merpati, katanya. Dia senang jika melihat burung merpati terbang begitu bebas tapi di saat yang sama dia juga tetap bisa kembali kepadamu, dia juga sedikit iri kepada jenis hewan bersayap ini karena dia juga ingin bisa terbang. Baginya melihat susunan bangunan yang berjejer dari ketinggian memberikan pandangan yang semakin luas dan sudut pandang lain dalam melihat sesuatu dan semakin tahu detailnya jika dilihat dari atas karena semua perlahan menjadi mengecil. Merpati adalah lambang persahabatan yang abadi seperti yang dia simak dari film favoritnya “Home Alone 2”. Dalam film itu si pemeran utama Kevin diberi hadiah sepasang hiasan merpati oleh pemilik toko mainan yang misterius. Simpan satu dan berilah satu kepada orang yang kamu tidak ingin lupakan, maka persahabatan kalian akan abadi, kurang-lebih begitu filosofi burung merpati yang disampaikan dalam film itu.
Saya mulai bisa mendalami isi kepala Clarine. Clarine tidak butuh cinta murahan (tentunya bukan hanya Clarine). Saling memberi dan saling pengertian dan yang penting adalah tulus, tidak ada pamrih melekat disana, hanya cinta seorang ibu yang bisa menandingi cinta muda-mudi ini.
Matahari mulai tenggelam. Hari ini kami berkeliling di tempat-tempat yang bersejarah di Venesia. Rasa lelah menjadi semakin menjadi-jadi karena dingin begitu menusuk meski jaket sudah berlapis-lapis. Tubuhku yang terbiasa dengan suhu di daerah khatulistiwa dipaksa untuk beradaptasi dengan perubahan suhu yang ekstrim ini. Lampu-lampu kota sudah mulai menyala menerangi Venesia. Kami duduk di bangku dengan pemandangan menghadap kanal yang menjadi jalur transportasinya gondola-gondola.
Saya memulai pembicaraan dengan Clarine.
“Clarine... apakah kamu bahagia?,” tanyaku.
“Tentu saja,” jawabnya.
Syukurlah, sahutku dalam hati. “Inilah sebabnya mengapa saya mengajakmu ke Venesia.”
Sambil menatap mataku, Clarine berkata, “Kamu tahu, tanpa Venesia pun Clarine sudah sangat bahagia atas semua yang telah kamu berikan. Clarine sudah mendapatkan segala kebahagiaan jika pada saat sedih ada yang menghibur Clarine, pada saat bahagia ada yang bersama Clarine. Venesia tidak bisa berbicara kepada Clarine, Venesia tidak bisa mendengarkan isi hati Clarine, Venesia betapapun indahnya dia bisu.”
“Tapi kamu bisa memberikan Clarine kebahagiaan yang lebih dari yang bisa Venesia berikan.”
Lalu saya bertanya,” Clarine, apakah saya sudah memberikan yang terbaik untukmu? Apakah saya sudah menjadi yang terbaik untuk Clarine?”
“Tentu! Clarine selalu merasakan apa yang kamu berikan adalah yang terbaik dan tulus. Clarine sangat bahagia! Untuk bisa memberikan yang terbaik untukmu Clarine bisa memberinya setiap saat, rasa saling pengertian tidak akan tumbuh melalui perjalanan indah, melainkan dipupuk dengan sabar, maka cinta akan tumbuh subur.”
Clarine cukup pandai berfilosofi, saya benar-benar tidak bisa dibuat banyak bicara. Matanya lalu menatap dengan tulus, matanya seolah berbicara tegas dalam diamnya bahwa dia akan selalu menjadi yang terbaik. Saya semakin yakin kalau Clarine adalah yang “terbaik” itu.
“Tapi, perjalanan ke Venesia berkesan bukan?,” tanyaku.
“Ya! Kamu memang nekat! Baru kali ini Clarine dapat kejutan seheboh ini, Venesia...!? sungguh mengejutkan pokoknya!,” serunya sambil tersenyum dengan raut wajah yang meluap-luap.
Clarine lalu beraksi ketika secara samar-samar dia mendengar ada lantunan sonata. Itu sonata-nya Vivaldi, pemain biola yang menciptakan banyak karya musik yang merdu. Vivaldi begitu dipuja di Venesia karena dia adalah seorang putra daerah. Banyak orang yang memainkan karyanya. Clarine beranjak lalu mengajakku mencari sumber dari bunyian itu, dia berjalan duluan sementara saya masih terduduk sejenak, masih ingin merenung sejenak.
Saya ingin merenungi pernyataan Clarine. Saya juga ingin menjawab pertanyaan yang timbul di pikiranku ini. Parameter “terbaik” memang akhirnya akan sangat susah untuk kamu temui. Ini bukan hitung-hitungan matematika. Bagi saya kita tidak perlu terlalu serakah dan terlalu menuntut. “Terbaik” akan timbul sendirinya jika kamu sabar memupuknya. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain akan bergerak seiring dengan jalan pikiran kita, Clarine itu juga individu yang punya keinginan pribadi. Katanya tadi rasa saling pengertian tidak akan diperoleh melalui perjalanan indah, tapi dipupuk. Pengertian...kamu akan susah mendefinisikannya, karena bagi saya pengertian harus dialami dan dirasakan, agar kamu tidak jatuh berantakan nantinya.
Jadi, apakah Clarine terbaik untukku? Ya!
Tuluskah kamu untuk Clarine? Ya!
Kenapa kamu seyakin itu?
Saya yakin bukan karena hanya saya yang bisa melakukan itu, tapi Clarine juga mampu melakukannya untuk saya. Merpati itu milik Clarine!
Venesia.....perlukah setiap orang harus ke Venesia untuk menemukan yang terbaik bagi dirinya? Tidak!
Terus Venesia memiliki daya magis bukan? Keindahan kota Venesia bisa membuat siapa saja terkagum-kagum kepadanya dan memujanya.
Ya, tentu saja!
Jadi apakah setiap orang perlu berkunjung ke Venesia?
Pikirkan sendiri, carilah jawabannya dalam misteri kehidupanmu.
SELESAI
That’s good for pregnant woman!
Telepon genggamku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk, “Kamu bisa datang kesini kalau mau karena ada bule yang bisa diajak ngobrol,” kurang lebih begitu isi pesan yang kuterima. Dhani namanya, kawanku yang mengurus pengadaan guru les untuk anak asrama putra di sekolah St. Yusuf Malang yang terkenal juga dengan sebutan Hwa-Ind. Hari ini kebetulan ada kelas conversation (bahasa Inggris) dan saya diizinkan Dhani untuk nimbrung. Ok, saya terima ajakannya iseng-iseng bisa melatih percakapan dalam bahasa Inggris.
Begitu saya tiba di Hwa-Ind, kawan saya itu langsung menyambut saya dan mengarahkan saya ke kelas. Ternyata memang ada seorang bule. Namanya Jules, gadis Australia yang berbadan besar ini menyambut dengan senyum. Di kelas itu juga ada seorang murid yang sedang latihan bercakap-cakap untuk memperdalam kemampuan berbahasa Inggris-nya. Begitu saya mendekati Jules, Jules langsung bereaksi melihat jaket yang saya pakai (jaket saya ada logo “Guinness”, yang merupakan merk bir hitam), “Do you like drink?”, saya hanya menggelengkan kepala. “Guinnes, that’s good for pregnant woman!”. Hah, yang benar saja, saya benar-benar tidak bisa memastikan apakah dia serius atau bercanda, ekspresi wajahnya datar sekali. “Are you sure?”. “Yes, guinness contain a lot of vitamin B”. Wah, kalau memang si Jules benar nanti kalau sudah beristri dan istri saya hamil, saya akan beri Guinness saja. :)
Jules sudah lumayan lama tinggal di Malang. Jules adalah kawan Dhani semasa dia tinggal di Australia (Dhani sempat tinggal 7 tahun di Australia). Dia mengutarakan pandangan-pandangannya tentang budaya Indonesia yang saat ini mulai tidak dilirik lagi oleh generasi muda. Katanya budaya yang begitu indah seperti ini jangan sampai punah. Ya, Jules benar di Malang tepatnya di daerah Tumpang malah ada seorang bule asal Amerika yang menjadi sinden dan membuka sanggar di sana, namanya Elizabeth Karen. Begitu saya beritahu Jules tentang Elizabeth ini, “There’s an American lady who has stayed here for 10 years and trying to preserve this javanese culture”, reaksi dia malah “I don’t like to listen if the singer is an american!”. Jules ingin menegaskan bahwa dia lebih senang kalau yang nyinden itu adalah orang-orang kita sendiri. Pesan dia adalah mulailah belajar mengenal budaya negeri ini, pelajarilah tari-tariannya, lagu-lagunya dll. Pesan dari Jules ini tentu saja menjadi semacam peringatan dan juga tamparan bagi kita orang Indonesia sendiri yang malah begitu mudahnya menyerap budaya-budaya asing. Conversation kali ini banyak membahas tentang budaya, jadi kita tidak hanya melatih kemampuan berbahasa Inggris dengan berbasa-basi tapi sekaligus berdiskusi saling mengutarakan pendapat.
Jules lalu mengajarkan ke kita sebuah lagu dari Australia, tapi dia hanya memetik bagian reff-nya. Dia juga memperagakan gerakan-gerakan yang harus kita ikuti sambil menyanyikan lagu ini.
Give me home among the gumtrees
With lots of plum trees, a sheep or two and a kangaroo.
A clothesline out the back, verandah out the front, and an old rocking chair
Kita sampai bergaya seperti kanguru, tapi seru juga karena lagu ini cukup populer katanya.
Setelah Jules ingin mengakhiri pertemuan hari ini, Dhani kawan saya menggoda si Jules dengan celetukan yang kurang-lebih bahasa indonesia-nya seperti ini, “Jules ingin menunjukkan pada kalian betapa religiusnya dia dengan masuk ke kapel dan berlutut disana selama 1 jam”, si Jules hanya berkata, “Ow..please!”. Begitulah, kata Dhani di Australia orang-orang sudah mulai meninggalkan agama karena sudah mulai tidak relevan dan tidak memberi solusi atas permasalahan kehidupan yang mereka hadapi, dan Jules termasuk salah satu di antaranya. Wah Jules memang orang yang sangat kritis, dan pertemuan hari ini sangat menambah wawasan.
Thank you miss Jules, i’ll always remember about the vitamin B!
Begitu saya tiba di Hwa-Ind, kawan saya itu langsung menyambut saya dan mengarahkan saya ke kelas. Ternyata memang ada seorang bule. Namanya Jules, gadis Australia yang berbadan besar ini menyambut dengan senyum. Di kelas itu juga ada seorang murid yang sedang latihan bercakap-cakap untuk memperdalam kemampuan berbahasa Inggris-nya. Begitu saya mendekati Jules, Jules langsung bereaksi melihat jaket yang saya pakai (jaket saya ada logo “Guinness”, yang merupakan merk bir hitam), “Do you like drink?”, saya hanya menggelengkan kepala. “Guinnes, that’s good for pregnant woman!”. Hah, yang benar saja, saya benar-benar tidak bisa memastikan apakah dia serius atau bercanda, ekspresi wajahnya datar sekali. “Are you sure?”. “Yes, guinness contain a lot of vitamin B”. Wah, kalau memang si Jules benar nanti kalau sudah beristri dan istri saya hamil, saya akan beri Guinness saja. :)
Jules sudah lumayan lama tinggal di Malang. Jules adalah kawan Dhani semasa dia tinggal di Australia (Dhani sempat tinggal 7 tahun di Australia). Dia mengutarakan pandangan-pandangannya tentang budaya Indonesia yang saat ini mulai tidak dilirik lagi oleh generasi muda. Katanya budaya yang begitu indah seperti ini jangan sampai punah. Ya, Jules benar di Malang tepatnya di daerah Tumpang malah ada seorang bule asal Amerika yang menjadi sinden dan membuka sanggar di sana, namanya Elizabeth Karen. Begitu saya beritahu Jules tentang Elizabeth ini, “There’s an American lady who has stayed here for 10 years and trying to preserve this javanese culture”, reaksi dia malah “I don’t like to listen if the singer is an american!”. Jules ingin menegaskan bahwa dia lebih senang kalau yang nyinden itu adalah orang-orang kita sendiri. Pesan dia adalah mulailah belajar mengenal budaya negeri ini, pelajarilah tari-tariannya, lagu-lagunya dll. Pesan dari Jules ini tentu saja menjadi semacam peringatan dan juga tamparan bagi kita orang Indonesia sendiri yang malah begitu mudahnya menyerap budaya-budaya asing. Conversation kali ini banyak membahas tentang budaya, jadi kita tidak hanya melatih kemampuan berbahasa Inggris dengan berbasa-basi tapi sekaligus berdiskusi saling mengutarakan pendapat.
Jules lalu mengajarkan ke kita sebuah lagu dari Australia, tapi dia hanya memetik bagian reff-nya. Dia juga memperagakan gerakan-gerakan yang harus kita ikuti sambil menyanyikan lagu ini.
Give me home among the gumtrees
With lots of plum trees, a sheep or two and a kangaroo.
A clothesline out the back, verandah out the front, and an old rocking chair
Kita sampai bergaya seperti kanguru, tapi seru juga karena lagu ini cukup populer katanya.
Setelah Jules ingin mengakhiri pertemuan hari ini, Dhani kawan saya menggoda si Jules dengan celetukan yang kurang-lebih bahasa indonesia-nya seperti ini, “Jules ingin menunjukkan pada kalian betapa religiusnya dia dengan masuk ke kapel dan berlutut disana selama 1 jam”, si Jules hanya berkata, “Ow..please!”. Begitulah, kata Dhani di Australia orang-orang sudah mulai meninggalkan agama karena sudah mulai tidak relevan dan tidak memberi solusi atas permasalahan kehidupan yang mereka hadapi, dan Jules termasuk salah satu di antaranya. Wah Jules memang orang yang sangat kritis, dan pertemuan hari ini sangat menambah wawasan.
Thank you miss Jules, i’ll always remember about the vitamin B!
They need our help
Sebelumnya kami sudah pernah bertemu dengan dia, tapi waktu itu pertemuan kami tidak disengaja karena tujuan kami bukan untuk betemu dengan dia melainkan karena ingin melihat area rehabilitasi hewan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu yang letaknya di Malang namun sedikit keluar dan terletak di dataran tinggi. Saya dan Bayu, teman baik anggota ProFauna, tiba-tiba beralih ke sosok tinggi besar ini karena dia tiba-tiba datang mendekati kami waktu sedang bersantai di kafe. Matanya biru, rambutnya pirang. Namanya Silvio, orang Swedia yang sedang menjadi relawan di PPS Petungsewu dalam waktu 1 bulan kalau tidak salah. Usianya baru 24 tahun. Dia menyapa, “Do I know you before?”, tentu saja kami jawab tidak karena ini pertama kali kita ketemu dengannya. Pertemuan hari ini kita habiskan dengan berfoto bersama saja akhirnya. Bayu kemudian berinisiatif dan mengatur jadwal agar kami bisa bertemu lagi dengan Silvio untuk sekedar mengobrol dan berdiskusi dengannya, karena orang seperti dia pasti memiliki pengalaman yang sangat banyak.
Ok, janji sudah diatur, kita bersiap-siap untuk bertemu lagi 11 hari setelah hari pertemuan pertama kali ini.
Kali ini kami datang bertiga dengan tambahan seorang kawan lagi, si Frans. Setelah disambut oleh mbak Eva staf di PPS yang ramah ini, kami diajak duduk santai. Setelah berbincang sejenak, datanglah si narasumber utama, Silvio. Tampaknya dia sedang kena flu, dia menggunakan jaket yang ada penutup kepalanya sambil sedikit menggigil (maklum Petungsewu terletak di dataran tinggi jadi suhunya agak dingin). Begitu ditanya keadaannya oleh mbak Eva, Silvio lalu merespon dengan gaya khas orang barat yang blak-blakan. “There’s someone (maaf)f**k my ass last nigth.”
Tentu saja kami langsung tertawa, tapi kami tahu Silvio hanya bercanda karena perangainya sopan. Awalan yang seru. Kami ingin menggali mengenai daerah asalnya yaitu Swedia, mengenai pekerjaannya, juga mengenai pemikiran-pemikirannya. Oh ya, Silvio oleh orang-orang di PPS namanya diganti menjadi “Solikin”, nama Indonesia. “They call me Solikin,” katanya.
Ayah Silvio adalah seorang warga Italia dan ibunya adalah warga Finlandia, namun mereka berdua akhirnya ke Swedia, tepatnya di kota Lund sampai sekarang. Silvio juga berkata kalau dia adalah siswa ‘bodoh’ di sekolah. Setelah itu dia pergi ke New York dan tinggal selama 1 tahun disana.
“I realized how beautiful Sweden is when I came back from New York,” katanya. Ya, New York sangat bising katanya dan jauh berbeda dari Swedia yang benar-benar ramah lingkungan. Disana segalanya didaur ulang, tempat sampah diklasifikasikan berdasarkan jenis sampahnya. Bagi warga Swedia, katanya, bisa bersekolah berapapun usianya dengan biaya nol alias gratis! Oh my god! Kami disarankan agar suatu saat harus melihat Swedia. Saya dan Bayu sangat antusias karena sebelumnya kami sudah pernah membahas tentang budaya dan musik celtic. Meski negaranya Raja Carl XIV Gustaf ini lebih dikenal dengan viking-nya, namun sedikit-banyak menurut informasi masih ada sisa-sisa celticnya, Silvio sendiri tahu sedikit masalah celtic. Tapi entah kapan kami bisa menuju Swedia, kita tetap akan menyimpan mimpi ini.
Kami lalu masuk mengenai topik yang menjadi alasan utamanya berada di Malang, yaitu tentang perlindungan satwa. Sebelumnya Bayu sempat bertanya mengenai apakah dia vegetarian dan ternyata dia mengamininya. Yang unik alasan Silvio menjadi vegetarian selain karena dia concern terhadap kesejahteraan satwa, dia juga menyatakan dia kagum dengan para biksu buddhis yang ketat berpantang makan daging (biksu mahayana). “I’m christian-buddhist, but sometimes atheist.”
Dari sini kami dapat mengambil kesimpulan kalau negara-negara barat tidak pernah sama sekali mempermasalahkan agama dalam hidupnya, KTP-nya, apalagi yang namanya konflik agama. Mereka sudah berbeda dari yang dulu-dulu. Pemikiran orang-orang barat sangat terbuka.
Di Indonesia, kalau saya sembarangan berkata bahwa saya atheis mungkin saya sudah dipenggal, dicap komunis, bahkan anak-cucu saya akan mendapatkan perlakuan diskriminatif seolah-olah dihilangkan haknya untuk hidup di negara ini. Padahal mereka ber-Tuhan semua, nah lihatlah paradoksnya negara yang kita cintai ini. Kami bertiga semua beda agama-beda suku, di KTP saya tercantum Buddha-Makassar tulen, Bayu Islam-Jawa seperempat Madura tulen, Frans Kristen-Batak tulen, tapi kami semua tidak pernah berkonflik hanya karena persoalan agama. Bahkan kami bisa saling meledek dan bercanda tentang agama-agama itu, juga tentang suku-suku yang melekat pada kami. Misalnya saya sering meledek Bayu dengan memberi barang selalu dengan tangan kiri tanpa permisi dulu, Frans meledek saya dengan memanggil turunan Om Liem saya juga balas dia dengan memanggil turunan Bang Ollo Panggabean, semua dalam suasana bercanda. Tidak sekedar meledek, saya juga diajarkan Bayu aksara Jawa, kromo inggil dan tata krama Jawa. Dari Frans saya dapat sedikit bahasa Batak, pengetahuan mengenai silsilah marga, dll.
Saya merasa cukup beruntung bertemu dengan orang-orang yang sudah terbebas dari hanya sekedar memuja simbol-simbol agama tanpa tahu maknanya. Bayu sendiri dengan terang-terangan berkata kepada Silvio kalau dia senang makan daging babi (tapi sekarang dia jadi vegetarian yang hebat), karena tadi Silvio sempat menyinggung masalah makanan di Swedia yang menggunakan pork katanya. Mbak Eva yang dari tadi menemani kita ngobrol hanya terdiam dan mungkin sedikit kaget dengan isi otak kami. :)
Silvio bercita-cita untuk bekerja total untuk pelestarian satwa. “They need our help,” tegasnya. Wah, hebat juga, kita saja untuk peduli sesama manusia sulitnya minta ampun tapi ini ada orang yang mau peduli terhadap satwa yang tidak akan pernah mengenal dan berterima kasih kepada penolongnya. Lompatan pemikiran, ketulusan dan cita-cita mereka memang luar biasa jauh dibandingkan kita di Indonesia yang masih sangat ketinggalan, namun bukan berarti tidak ada yang berpikiran maju (buktinya ada kelompok-kelompok pelestari satwa ini meski dalam jumlah yang masih kecil, tapi mereka terus berkembang karena konsisten). Saya tidak mengagung-agungkan kebudayaan barat dan mendiskreditkan Indonesia, tidak semua kebudayaan barat juga cocok untuk diterapkan, tapi menurut saya yang patut diambil adalah etos kerja mereka yang luar biasa.
Pembicaraan yang hangat itu begitu mengalir sehingga tidak terasa adzan maghrib sudah berkumandang. Matahari sudah hampir tenggelam, Silvio juga ingin beristirahat. Sebelum kami pergi dia juga berkata kalau dia mempraktekkan meditasi kuan-yin (hmm...meditasi apa ini?).
Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari pertemuan dengan Silvio. Totalitas orang barat sering membuat saya terkagum-kagum. Ada orang barat yang menjadi sinden di Jawa. Di Bali banyak yang mendirikan sanggar untuk melestarikan budaya Bali. Soal buku, jangan ditanyakan lagi banyaknya ragam kebudayaan kita yang ditulis oleh penulis barat melalui penelitian (tanpa bermaksud mendiskreditkan penulis-penulis kita yang kontribusinya tentu tidak boleh dipandang sebelah mata). Saya pernah lihat buku “Manusia Bugis” yang ditulis oleh orang Prancis (namanya lupa). Dalam menulis bukunya itu dia tinggal bersama-sama dengan orang Bugis selama puluhan tahun, ada lagi buku “Pribadi dan Masyarakat di Jawa” oleh Niels Mulder (bukunya si Bayu). Belum lagi kalau melihat para kru National Geographic. Kadang saya berpikir apa ya motivasi kuat dibalik segala totalitas mereka? Keinginan Silvio untuk bekerja diluar jalur mainstream dan sangat tidak populer di jalur kesejahteraan satwa sungguh pilihan yang berani bagi otak Indonesia kami yang tidak terbiasa dengan hal-hal demikian.
Kami pulang sambil tetap menjaga mimpi suatu saat kelak Indonesia bisa menjadi sebuah negara yang maju, memiliki SDM yang berkualitas, menghargai kehidupan manusia dan satwanya serta selalu melestarikan lingkungan. Tak lupa ke Swedia. Mimpi ini akan terus kami pelihara dan entah kapan bisa terwujud.
Sampai ketemu di Swedia, Silvio!
Ok, janji sudah diatur, kita bersiap-siap untuk bertemu lagi 11 hari setelah hari pertemuan pertama kali ini.
Kali ini kami datang bertiga dengan tambahan seorang kawan lagi, si Frans. Setelah disambut oleh mbak Eva staf di PPS yang ramah ini, kami diajak duduk santai. Setelah berbincang sejenak, datanglah si narasumber utama, Silvio. Tampaknya dia sedang kena flu, dia menggunakan jaket yang ada penutup kepalanya sambil sedikit menggigil (maklum Petungsewu terletak di dataran tinggi jadi suhunya agak dingin). Begitu ditanya keadaannya oleh mbak Eva, Silvio lalu merespon dengan gaya khas orang barat yang blak-blakan. “There’s someone (maaf)f**k my ass last nigth.”
Tentu saja kami langsung tertawa, tapi kami tahu Silvio hanya bercanda karena perangainya sopan. Awalan yang seru. Kami ingin menggali mengenai daerah asalnya yaitu Swedia, mengenai pekerjaannya, juga mengenai pemikiran-pemikirannya. Oh ya, Silvio oleh orang-orang di PPS namanya diganti menjadi “Solikin”, nama Indonesia. “They call me Solikin,” katanya.
Ayah Silvio adalah seorang warga Italia dan ibunya adalah warga Finlandia, namun mereka berdua akhirnya ke Swedia, tepatnya di kota Lund sampai sekarang. Silvio juga berkata kalau dia adalah siswa ‘bodoh’ di sekolah. Setelah itu dia pergi ke New York dan tinggal selama 1 tahun disana.
“I realized how beautiful Sweden is when I came back from New York,” katanya. Ya, New York sangat bising katanya dan jauh berbeda dari Swedia yang benar-benar ramah lingkungan. Disana segalanya didaur ulang, tempat sampah diklasifikasikan berdasarkan jenis sampahnya. Bagi warga Swedia, katanya, bisa bersekolah berapapun usianya dengan biaya nol alias gratis! Oh my god! Kami disarankan agar suatu saat harus melihat Swedia. Saya dan Bayu sangat antusias karena sebelumnya kami sudah pernah membahas tentang budaya dan musik celtic. Meski negaranya Raja Carl XIV Gustaf ini lebih dikenal dengan viking-nya, namun sedikit-banyak menurut informasi masih ada sisa-sisa celticnya, Silvio sendiri tahu sedikit masalah celtic. Tapi entah kapan kami bisa menuju Swedia, kita tetap akan menyimpan mimpi ini.
Kami lalu masuk mengenai topik yang menjadi alasan utamanya berada di Malang, yaitu tentang perlindungan satwa. Sebelumnya Bayu sempat bertanya mengenai apakah dia vegetarian dan ternyata dia mengamininya. Yang unik alasan Silvio menjadi vegetarian selain karena dia concern terhadap kesejahteraan satwa, dia juga menyatakan dia kagum dengan para biksu buddhis yang ketat berpantang makan daging (biksu mahayana). “I’m christian-buddhist, but sometimes atheist.”
Dari sini kami dapat mengambil kesimpulan kalau negara-negara barat tidak pernah sama sekali mempermasalahkan agama dalam hidupnya, KTP-nya, apalagi yang namanya konflik agama. Mereka sudah berbeda dari yang dulu-dulu. Pemikiran orang-orang barat sangat terbuka.
Di Indonesia, kalau saya sembarangan berkata bahwa saya atheis mungkin saya sudah dipenggal, dicap komunis, bahkan anak-cucu saya akan mendapatkan perlakuan diskriminatif seolah-olah dihilangkan haknya untuk hidup di negara ini. Padahal mereka ber-Tuhan semua, nah lihatlah paradoksnya negara yang kita cintai ini. Kami bertiga semua beda agama-beda suku, di KTP saya tercantum Buddha-Makassar tulen, Bayu Islam-Jawa seperempat Madura tulen, Frans Kristen-Batak tulen, tapi kami semua tidak pernah berkonflik hanya karena persoalan agama. Bahkan kami bisa saling meledek dan bercanda tentang agama-agama itu, juga tentang suku-suku yang melekat pada kami. Misalnya saya sering meledek Bayu dengan memberi barang selalu dengan tangan kiri tanpa permisi dulu, Frans meledek saya dengan memanggil turunan Om Liem saya juga balas dia dengan memanggil turunan Bang Ollo Panggabean, semua dalam suasana bercanda. Tidak sekedar meledek, saya juga diajarkan Bayu aksara Jawa, kromo inggil dan tata krama Jawa. Dari Frans saya dapat sedikit bahasa Batak, pengetahuan mengenai silsilah marga, dll.
Saya merasa cukup beruntung bertemu dengan orang-orang yang sudah terbebas dari hanya sekedar memuja simbol-simbol agama tanpa tahu maknanya. Bayu sendiri dengan terang-terangan berkata kepada Silvio kalau dia senang makan daging babi (tapi sekarang dia jadi vegetarian yang hebat), karena tadi Silvio sempat menyinggung masalah makanan di Swedia yang menggunakan pork katanya. Mbak Eva yang dari tadi menemani kita ngobrol hanya terdiam dan mungkin sedikit kaget dengan isi otak kami. :)
Silvio bercita-cita untuk bekerja total untuk pelestarian satwa. “They need our help,” tegasnya. Wah, hebat juga, kita saja untuk peduli sesama manusia sulitnya minta ampun tapi ini ada orang yang mau peduli terhadap satwa yang tidak akan pernah mengenal dan berterima kasih kepada penolongnya. Lompatan pemikiran, ketulusan dan cita-cita mereka memang luar biasa jauh dibandingkan kita di Indonesia yang masih sangat ketinggalan, namun bukan berarti tidak ada yang berpikiran maju (buktinya ada kelompok-kelompok pelestari satwa ini meski dalam jumlah yang masih kecil, tapi mereka terus berkembang karena konsisten). Saya tidak mengagung-agungkan kebudayaan barat dan mendiskreditkan Indonesia, tidak semua kebudayaan barat juga cocok untuk diterapkan, tapi menurut saya yang patut diambil adalah etos kerja mereka yang luar biasa.
Pembicaraan yang hangat itu begitu mengalir sehingga tidak terasa adzan maghrib sudah berkumandang. Matahari sudah hampir tenggelam, Silvio juga ingin beristirahat. Sebelum kami pergi dia juga berkata kalau dia mempraktekkan meditasi kuan-yin (hmm...meditasi apa ini?).
Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari pertemuan dengan Silvio. Totalitas orang barat sering membuat saya terkagum-kagum. Ada orang barat yang menjadi sinden di Jawa. Di Bali banyak yang mendirikan sanggar untuk melestarikan budaya Bali. Soal buku, jangan ditanyakan lagi banyaknya ragam kebudayaan kita yang ditulis oleh penulis barat melalui penelitian (tanpa bermaksud mendiskreditkan penulis-penulis kita yang kontribusinya tentu tidak boleh dipandang sebelah mata). Saya pernah lihat buku “Manusia Bugis” yang ditulis oleh orang Prancis (namanya lupa). Dalam menulis bukunya itu dia tinggal bersama-sama dengan orang Bugis selama puluhan tahun, ada lagi buku “Pribadi dan Masyarakat di Jawa” oleh Niels Mulder (bukunya si Bayu). Belum lagi kalau melihat para kru National Geographic. Kadang saya berpikir apa ya motivasi kuat dibalik segala totalitas mereka? Keinginan Silvio untuk bekerja diluar jalur mainstream dan sangat tidak populer di jalur kesejahteraan satwa sungguh pilihan yang berani bagi otak Indonesia kami yang tidak terbiasa dengan hal-hal demikian.
Kami pulang sambil tetap menjaga mimpi suatu saat kelak Indonesia bisa menjadi sebuah negara yang maju, memiliki SDM yang berkualitas, menghargai kehidupan manusia dan satwanya serta selalu melestarikan lingkungan. Tak lupa ke Swedia. Mimpi ini akan terus kami pelihara dan entah kapan bisa terwujud.
Sampai ketemu di Swedia, Silvio!
Subscribe to:
Posts (Atom)