Sebelumnya kami sudah pernah bertemu dengan dia, tapi waktu itu pertemuan kami tidak disengaja karena tujuan kami bukan untuk betemu dengan dia melainkan karena ingin melihat area rehabilitasi hewan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu yang letaknya di Malang namun sedikit keluar dan terletak di dataran tinggi. Saya dan Bayu, teman baik anggota ProFauna, tiba-tiba beralih ke sosok tinggi besar ini karena dia tiba-tiba datang mendekati kami waktu sedang bersantai di kafe. Matanya biru, rambutnya pirang. Namanya Silvio, orang Swedia yang sedang menjadi relawan di PPS Petungsewu dalam waktu 1 bulan kalau tidak salah. Usianya baru 24 tahun. Dia menyapa, “Do I know you before?”, tentu saja kami jawab tidak karena ini pertama kali kita ketemu dengannya. Pertemuan hari ini kita habiskan dengan berfoto bersama saja akhirnya. Bayu kemudian berinisiatif dan mengatur jadwal agar kami bisa bertemu lagi dengan Silvio untuk sekedar mengobrol dan berdiskusi dengannya, karena orang seperti dia pasti memiliki pengalaman yang sangat banyak.
Ok, janji sudah diatur, kita bersiap-siap untuk bertemu lagi 11 hari setelah hari pertemuan pertama kali ini.
Kali ini kami datang bertiga dengan tambahan seorang kawan lagi, si Frans. Setelah disambut oleh mbak Eva staf di PPS yang ramah ini, kami diajak duduk santai. Setelah berbincang sejenak, datanglah si narasumber utama, Silvio. Tampaknya dia sedang kena flu, dia menggunakan jaket yang ada penutup kepalanya sambil sedikit menggigil (maklum Petungsewu terletak di dataran tinggi jadi suhunya agak dingin). Begitu ditanya keadaannya oleh mbak Eva, Silvio lalu merespon dengan gaya khas orang barat yang blak-blakan. “There’s someone (maaf)f**k my ass last nigth.”
Tentu saja kami langsung tertawa, tapi kami tahu Silvio hanya bercanda karena perangainya sopan. Awalan yang seru. Kami ingin menggali mengenai daerah asalnya yaitu Swedia, mengenai pekerjaannya, juga mengenai pemikiran-pemikirannya. Oh ya, Silvio oleh orang-orang di PPS namanya diganti menjadi “Solikin”, nama Indonesia. “They call me Solikin,” katanya.
Ayah Silvio adalah seorang warga Italia dan ibunya adalah warga Finlandia, namun mereka berdua akhirnya ke Swedia, tepatnya di kota Lund sampai sekarang. Silvio juga berkata kalau dia adalah siswa ‘bodoh’ di sekolah. Setelah itu dia pergi ke New York dan tinggal selama 1 tahun disana.
“I realized how beautiful Sweden is when I came back from New York,” katanya. Ya, New York sangat bising katanya dan jauh berbeda dari Swedia yang benar-benar ramah lingkungan. Disana segalanya didaur ulang, tempat sampah diklasifikasikan berdasarkan jenis sampahnya. Bagi warga Swedia, katanya, bisa bersekolah berapapun usianya dengan biaya nol alias gratis! Oh my god! Kami disarankan agar suatu saat harus melihat Swedia. Saya dan Bayu sangat antusias karena sebelumnya kami sudah pernah membahas tentang budaya dan musik celtic. Meski negaranya Raja Carl XIV Gustaf ini lebih dikenal dengan viking-nya, namun sedikit-banyak menurut informasi masih ada sisa-sisa celticnya, Silvio sendiri tahu sedikit masalah celtic. Tapi entah kapan kami bisa menuju Swedia, kita tetap akan menyimpan mimpi ini.
Kami lalu masuk mengenai topik yang menjadi alasan utamanya berada di Malang, yaitu tentang perlindungan satwa. Sebelumnya Bayu sempat bertanya mengenai apakah dia vegetarian dan ternyata dia mengamininya. Yang unik alasan Silvio menjadi vegetarian selain karena dia concern terhadap kesejahteraan satwa, dia juga menyatakan dia kagum dengan para biksu buddhis yang ketat berpantang makan daging (biksu mahayana). “I’m christian-buddhist, but sometimes atheist.”
Dari sini kami dapat mengambil kesimpulan kalau negara-negara barat tidak pernah sama sekali mempermasalahkan agama dalam hidupnya, KTP-nya, apalagi yang namanya konflik agama. Mereka sudah berbeda dari yang dulu-dulu. Pemikiran orang-orang barat sangat terbuka.
Di Indonesia, kalau saya sembarangan berkata bahwa saya atheis mungkin saya sudah dipenggal, dicap komunis, bahkan anak-cucu saya akan mendapatkan perlakuan diskriminatif seolah-olah dihilangkan haknya untuk hidup di negara ini. Padahal mereka ber-Tuhan semua, nah lihatlah paradoksnya negara yang kita cintai ini. Kami bertiga semua beda agama-beda suku, di KTP saya tercantum Buddha-Makassar tulen, Bayu Islam-Jawa seperempat Madura tulen, Frans Kristen-Batak tulen, tapi kami semua tidak pernah berkonflik hanya karena persoalan agama. Bahkan kami bisa saling meledek dan bercanda tentang agama-agama itu, juga tentang suku-suku yang melekat pada kami. Misalnya saya sering meledek Bayu dengan memberi barang selalu dengan tangan kiri tanpa permisi dulu, Frans meledek saya dengan memanggil turunan Om Liem saya juga balas dia dengan memanggil turunan Bang Ollo Panggabean, semua dalam suasana bercanda. Tidak sekedar meledek, saya juga diajarkan Bayu aksara Jawa, kromo inggil dan tata krama Jawa. Dari Frans saya dapat sedikit bahasa Batak, pengetahuan mengenai silsilah marga, dll.
Saya merasa cukup beruntung bertemu dengan orang-orang yang sudah terbebas dari hanya sekedar memuja simbol-simbol agama tanpa tahu maknanya. Bayu sendiri dengan terang-terangan berkata kepada Silvio kalau dia senang makan daging babi (tapi sekarang dia jadi vegetarian yang hebat), karena tadi Silvio sempat menyinggung masalah makanan di Swedia yang menggunakan pork katanya. Mbak Eva yang dari tadi menemani kita ngobrol hanya terdiam dan mungkin sedikit kaget dengan isi otak kami. :)
Silvio bercita-cita untuk bekerja total untuk pelestarian satwa. “They need our help,” tegasnya. Wah, hebat juga, kita saja untuk peduli sesama manusia sulitnya minta ampun tapi ini ada orang yang mau peduli terhadap satwa yang tidak akan pernah mengenal dan berterima kasih kepada penolongnya. Lompatan pemikiran, ketulusan dan cita-cita mereka memang luar biasa jauh dibandingkan kita di Indonesia yang masih sangat ketinggalan, namun bukan berarti tidak ada yang berpikiran maju (buktinya ada kelompok-kelompok pelestari satwa ini meski dalam jumlah yang masih kecil, tapi mereka terus berkembang karena konsisten). Saya tidak mengagung-agungkan kebudayaan barat dan mendiskreditkan Indonesia, tidak semua kebudayaan barat juga cocok untuk diterapkan, tapi menurut saya yang patut diambil adalah etos kerja mereka yang luar biasa.
Pembicaraan yang hangat itu begitu mengalir sehingga tidak terasa adzan maghrib sudah berkumandang. Matahari sudah hampir tenggelam, Silvio juga ingin beristirahat. Sebelum kami pergi dia juga berkata kalau dia mempraktekkan meditasi kuan-yin (hmm...meditasi apa ini?).
Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari pertemuan dengan Silvio. Totalitas orang barat sering membuat saya terkagum-kagum. Ada orang barat yang menjadi sinden di Jawa. Di Bali banyak yang mendirikan sanggar untuk melestarikan budaya Bali. Soal buku, jangan ditanyakan lagi banyaknya ragam kebudayaan kita yang ditulis oleh penulis barat melalui penelitian (tanpa bermaksud mendiskreditkan penulis-penulis kita yang kontribusinya tentu tidak boleh dipandang sebelah mata). Saya pernah lihat buku “Manusia Bugis” yang ditulis oleh orang Prancis (namanya lupa). Dalam menulis bukunya itu dia tinggal bersama-sama dengan orang Bugis selama puluhan tahun, ada lagi buku “Pribadi dan Masyarakat di Jawa” oleh Niels Mulder (bukunya si Bayu). Belum lagi kalau melihat para kru National Geographic. Kadang saya berpikir apa ya motivasi kuat dibalik segala totalitas mereka? Keinginan Silvio untuk bekerja diluar jalur mainstream dan sangat tidak populer di jalur kesejahteraan satwa sungguh pilihan yang berani bagi otak Indonesia kami yang tidak terbiasa dengan hal-hal demikian.
Kami pulang sambil tetap menjaga mimpi suatu saat kelak Indonesia bisa menjadi sebuah negara yang maju, memiliki SDM yang berkualitas, menghargai kehidupan manusia dan satwanya serta selalu melestarikan lingkungan. Tak lupa ke Swedia. Mimpi ini akan terus kami pelihara dan entah kapan bisa terwujud.
Sampai ketemu di Swedia, Silvio!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment