Telepon genggamku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk, “Kamu bisa datang kesini kalau mau karena ada bule yang bisa diajak ngobrol,” kurang lebih begitu isi pesan yang kuterima. Dhani namanya, kawanku yang mengurus pengadaan guru les untuk anak asrama putra di sekolah St. Yusuf Malang yang terkenal juga dengan sebutan Hwa-Ind. Hari ini kebetulan ada kelas conversation (bahasa Inggris) dan saya diizinkan Dhani untuk nimbrung. Ok, saya terima ajakannya iseng-iseng bisa melatih percakapan dalam bahasa Inggris.
Begitu saya tiba di Hwa-Ind, kawan saya itu langsung menyambut saya dan mengarahkan saya ke kelas. Ternyata memang ada seorang bule. Namanya Jules, gadis Australia yang berbadan besar ini menyambut dengan senyum. Di kelas itu juga ada seorang murid yang sedang latihan bercakap-cakap untuk memperdalam kemampuan berbahasa Inggris-nya. Begitu saya mendekati Jules, Jules langsung bereaksi melihat jaket yang saya pakai (jaket saya ada logo “Guinness”, yang merupakan merk bir hitam), “Do you like drink?”, saya hanya menggelengkan kepala. “Guinnes, that’s good for pregnant woman!”. Hah, yang benar saja, saya benar-benar tidak bisa memastikan apakah dia serius atau bercanda, ekspresi wajahnya datar sekali. “Are you sure?”. “Yes, guinness contain a lot of vitamin B”. Wah, kalau memang si Jules benar nanti kalau sudah beristri dan istri saya hamil, saya akan beri Guinness saja. :)
Jules sudah lumayan lama tinggal di Malang. Jules adalah kawan Dhani semasa dia tinggal di Australia (Dhani sempat tinggal 7 tahun di Australia). Dia mengutarakan pandangan-pandangannya tentang budaya Indonesia yang saat ini mulai tidak dilirik lagi oleh generasi muda. Katanya budaya yang begitu indah seperti ini jangan sampai punah. Ya, Jules benar di Malang tepatnya di daerah Tumpang malah ada seorang bule asal Amerika yang menjadi sinden dan membuka sanggar di sana, namanya Elizabeth Karen. Begitu saya beritahu Jules tentang Elizabeth ini, “There’s an American lady who has stayed here for 10 years and trying to preserve this javanese culture”, reaksi dia malah “I don’t like to listen if the singer is an american!”. Jules ingin menegaskan bahwa dia lebih senang kalau yang nyinden itu adalah orang-orang kita sendiri. Pesan dia adalah mulailah belajar mengenal budaya negeri ini, pelajarilah tari-tariannya, lagu-lagunya dll. Pesan dari Jules ini tentu saja menjadi semacam peringatan dan juga tamparan bagi kita orang Indonesia sendiri yang malah begitu mudahnya menyerap budaya-budaya asing. Conversation kali ini banyak membahas tentang budaya, jadi kita tidak hanya melatih kemampuan berbahasa Inggris dengan berbasa-basi tapi sekaligus berdiskusi saling mengutarakan pendapat.
Jules lalu mengajarkan ke kita sebuah lagu dari Australia, tapi dia hanya memetik bagian reff-nya. Dia juga memperagakan gerakan-gerakan yang harus kita ikuti sambil menyanyikan lagu ini.
Give me home among the gumtrees
With lots of plum trees, a sheep or two and a kangaroo.
A clothesline out the back, verandah out the front, and an old rocking chair
Kita sampai bergaya seperti kanguru, tapi seru juga karena lagu ini cukup populer katanya.
Setelah Jules ingin mengakhiri pertemuan hari ini, Dhani kawan saya menggoda si Jules dengan celetukan yang kurang-lebih bahasa indonesia-nya seperti ini, “Jules ingin menunjukkan pada kalian betapa religiusnya dia dengan masuk ke kapel dan berlutut disana selama 1 jam”, si Jules hanya berkata, “Ow..please!”. Begitulah, kata Dhani di Australia orang-orang sudah mulai meninggalkan agama karena sudah mulai tidak relevan dan tidak memberi solusi atas permasalahan kehidupan yang mereka hadapi, dan Jules termasuk salah satu di antaranya. Wah Jules memang orang yang sangat kritis, dan pertemuan hari ini sangat menambah wawasan.
Thank you miss Jules, i’ll always remember about the vitamin B!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment