Sunday, December 31, 2006

Venesia

Benvenuto! Welcome to Venice!
Menikmati keindahan di Venesia sama seperti sebuah simulasi sebelum ke surga, meski kamu belum pernah mengalami pengalaman transendensial untuk mengetahui surga itu seperti apa. Sepulang dari Venesia mungkin saja kamu bisa menjadi lebih religius meskipun kota ini bukanlah Mekkah ataupun Vatikan. Mengagumi keindahan juga bisa menjadi wisata spiritual yang baik, jika kamu menyadarinya.

Venesia juga bagai sutradara ulung yang mampu mempertontonkan alur cerita yang mengesankan dalam sebuah film melalui perjalanan dengan menggunakan gondolanya yang terkenal itu (tentunya di saat yang sama kamu harus mengalirkan Euro terus-menerus). Kotanya seperti mengapung di atas air, polusi sangat susah kamu temui di Venesia karena lebih banyak pejalan kaki dan gondola disana (juga vaporetti atau ‘bus perahu’ yang menggunakan mesin untuk berjalan).

Inilah sebabnya mengapa saya merasa harus mengajak Clarine datang ke kota kelahiran Marco Polo ini, hanya berdua. Bersama dengannya menonton sebuah film nyata dengan judul Venesia ini pasti akan menancapkan memori yang kuat di otak. Nonton di bioskop sudah terlalu biasa, tidak ada yang bisa kamu nikmati disana. Memberi kebahagiaan Clarine adalah misi utamanya. Apakah Clarine selama ini tidak bahagia? Tentu saja tidak. Clarine memiliki segalanya. Orang tua yang baik, saudara-saudara yang lucu, prestasi yang cemerlang, rumah yang bagus dan masih banyak lagi. Tapi kenapa saya masih tetap membawa misi membahagiakan Clarine? Agar Clarine tahu bahwa dia begitu berarti bagi saya. Tapi mengapa harus Venesia, tempat ini terlalu jauh dan menghabiskan banyak biaya untuk mencapainya? Bagi saya Venesia adalah tempat dimana malaikat yang memujanya, dan Clarine patut dipuja malaikat, oleh karena itu saya yakin para malaikat akan ikut memuja Clarine di Venesia (saya mengeluarkan teoriku sendiri dengan gaya sok tahu yang mungkin bisa dihujat oleh para pemuja malaikat, teori yang sama sekali tidak ilmiah, karena di Venesia juga kan ada penjahat masak malaikat akan memuja penjahat itu juga, hahaha, tapi saya sungguh yakin akan hal itu), karena Venesia adalah salah satu kota terindah di muka bumi ini.

Clarine adalah seorang wanita yang periang, manis, dan lebih dari itu semua dia sangat baik. Kalau dia mau jadi model video klip dari lagu seperti “Mahadewi”-nya grup Padi pasti sangat cocok, karena sesuai dengan lirik lagunya, “Alam raya pun semua tersenyum merunduk dan memuja hadirnya,” begitulah sosok Clarine saya deskripsikan. Sering juga saya diperingati untuk berhati-hati dan jangan terlalu berlebihan karena toh dia juga masih manusia biasa, khilaf tidak akan bisa lepas dari dirinya juga. Apa kamu yakin dia sebaik itu? Apa kamu siap untuk kecewa jika dia ternyata dia bersikap jauh dari harapanmu? Apakah kamu siap sebelanga susu rusak karena setitik nila? Lebih dari itu semua apakah kamu tulus? Ada benarnya juga. Sering saya melihat problem rumah tangga yang menimpa para selebritis kita (karena sering terekspos). Pada saat awal membentuk rumah tangga segalanya serba “Mahadewi”, namun entah perubahan drastis mahadahsyat seperti apa yang membuat segalanya menjadi “Mahaneraka”, apa kehendak yang Mahakuasa dibalik semua ini? Kata orang bijak kita harus selalu siap menerima perubahan karena perubahan tidak bisa dihindari. Semoga saya bisa mendapatkan jawabannya di Venesia. Banyak seniman besar terlahir ataupun terinspirasi dari Venesia. Vivaldi, Titian, Tintoretto, Marco Polo, Casanova (cirinya dengan Marco Polo adalah sama-sama petualang, tapi yang satu ini terkenal sebagai ‘petualang perempuan’ ) dan masih banyak lagi. Saya sedikit berharap daya magis Venesia bisa bekerja dalam diriku kali ini, benarkah saya terlalu berlebihan memuja Clarine? Misi ke Venesia akhirnya bertambah satu lagi, saya harus benar-benar memastikan sosok Clarine memang yang “terbaik”.

Nama Clarine konon diambil dari nama alat musik “clarinet”. Ayahnya adalah penggemar alat musik tiup ini. Sosok clarinetis jazz asal Swedia Hans Olof Wickman-lah yang membuatnya tergila-gila dengan clarinet. Tapi tentu saja beliau bukan pemain yang handal, tapi tidak jelek juga. Ibunya tidak terlalu menaruh perhatian terhadap musik, senang mendengar musik yang sederhana terutama lagu nostalgia. Pemberian nama “Clarine” terhadap putri mereka cukup disetujui oleh ibu Clarine, karena terdengar lumayan untuk nama seorang wanita. Wah saya tidak bisa membayangkan kalau ayahnya adalah seorang penggemar drum, gitar, ataupun lebih ekstrim bonang! (alat musik gamelan Jawa), pasti ayahnya akan berpikir ekstra mencarikan nama untuk putrinya. Bagaimana caranya memberi nama yang pas untuk putri dari kata drum, gitar, bonang. Tapi hidup ini memang penuh misteri, kalau saja ayahnya waktu muda tidak mendengar lantunan clarinet Hans Olof Wickman, maka tidak akan ada Clarine (yang ada bisa-bisa Bonang!).

Setelah tiba di Venesia, kami beristirahat dulu seharian, karena perjalanan kesini memerlukan waktu yang panjang. Aroma Venesia membuat kami tidak tahan lagi untuk menyusurinya. Clarine begitu antusias untuk berkeliling kota dengan gondola, langsung saja kami berdua meminta untuk diajak berkeliling kota Venesia. Pendayung gondola adalah asisten sutradara di Venesia, karena merekalah yang akan menunjukkan keelokan Venesia dengan sangat beritme. Bak sebuah film mereka memulai perjalanan melewati tempat dengan pemandangan yang ‘biasa-biasa’ saja dengan melewati kanal-kanal yang sempit. Clarine tampak begitu menikmati perjalanan ini. Ingat, misi saya adalah membahagiakannya bukan menghayati perjalanan ini dan terbuai dengan Venesia, saya sempat sejenak melupakan misi saya ini karena larut dalam belaian Venesia. Kita akan melewati Canale Grande kanal yang luas dan sangat terkenal, terutama setelah melewati gereja Basilica di Santa Maria della Salute yang terkenal itu, begitu orang-orang menyebutnya disini. Sang sutradara sudah menetapkan inilah klimaks dari film (ditandai dengan makin menariknya pemandangan yang tersaji disekitar), ritme yang pas sehingga Clarine pun menyandarkan kepalanya di bahuku. Ekspresinya begitu damai. Tangannya dingin karena suhu disini begitu rendah, tapi mampu mengalirkan kehangatan yang kamu tidak akan bisa mencari rumus ilmiahnya.

Tapi dari tadi benakku masih muncul sejumlah pertanyaan, misteri Clarine, bagaimana saya mencari atau memastikan sosok “terbaik” ini pada diri Clarine? Juga saya harus bertanya kepada diri sendiri, atas dasar apa kamu mencintai Clarine? Dia cantik, dia baik, dia pintar, dia begini, dia begitu. Bagaimana kalau semua itu mendadak hilang? Masih ada cintamu untuk dia, masih tulus kamu untuk dia? Semua yang kamu lakukan ini benarkah jauh dari hanya sekedar ilusi cintamu? Ugh! Saya tidak boleh tampak aneh di depannya. Hasil dari dua misi yang kuemban masih belum bisa dinilai. Ah, biarlah saya dan Clarine meneruskan perjalanan ini dulu, kami akan ke areal dimana terdapat gereja St. Mark yang terkenal itu. Saya juga patut salut untuk ratusan kalinya terhadap Venesia, pendayung gondolanya memang paham betul keinginan sutradaranya, mereka sangat kompak dalam melestarikan lembaran skenario romantis yang berusia ratusan tahun ini, memang pantas UNESCO memasukkan Venesia sebagai warisan budaya dunia.

Basilica di San Marco, bahasa Italianya. Dalam bahasa Inggris disebut St. Mark’s Basilica. Namanya diambil untuk menghormati St. Mark yang dijadikan semacam orang suci panutan dan pelindung bagi Venesia. Gereja ini sangat indah dan menjadi salah satu tujuan wisata utama di Venesia, umurnya sudah ratusan tahun. Di depannya terdapat lapangan yang begitu luas yang bernama Piazza San Marco. Ratusan orang berjubel disini. Burung merpati juga sangat banyak. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan bersejarah. Clarine sangat senang. Dia mengagumi burung merpati, katanya. Dia senang jika melihat burung merpati terbang begitu bebas tapi di saat yang sama dia juga tetap bisa kembali kepadamu, dia juga sedikit iri kepada jenis hewan bersayap ini karena dia juga ingin bisa terbang. Baginya melihat susunan bangunan yang berjejer dari ketinggian memberikan pandangan yang semakin luas dan sudut pandang lain dalam melihat sesuatu dan semakin tahu detailnya jika dilihat dari atas karena semua perlahan menjadi mengecil. Merpati adalah lambang persahabatan yang abadi seperti yang dia simak dari film favoritnya “Home Alone 2”. Dalam film itu si pemeran utama Kevin diberi hadiah sepasang hiasan merpati oleh pemilik toko mainan yang misterius. Simpan satu dan berilah satu kepada orang yang kamu tidak ingin lupakan, maka persahabatan kalian akan abadi, kurang-lebih begitu filosofi burung merpati yang disampaikan dalam film itu.

Saya mulai bisa mendalami isi kepala Clarine. Clarine tidak butuh cinta murahan (tentunya bukan hanya Clarine). Saling memberi dan saling pengertian dan yang penting adalah tulus, tidak ada pamrih melekat disana, hanya cinta seorang ibu yang bisa menandingi cinta muda-mudi ini.

Matahari mulai tenggelam. Hari ini kami berkeliling di tempat-tempat yang bersejarah di Venesia. Rasa lelah menjadi semakin menjadi-jadi karena dingin begitu menusuk meski jaket sudah berlapis-lapis. Tubuhku yang terbiasa dengan suhu di daerah khatulistiwa dipaksa untuk beradaptasi dengan perubahan suhu yang ekstrim ini. Lampu-lampu kota sudah mulai menyala menerangi Venesia. Kami duduk di bangku dengan pemandangan menghadap kanal yang menjadi jalur transportasinya gondola-gondola.

Saya memulai pembicaraan dengan Clarine.
“Clarine... apakah kamu bahagia?,” tanyaku.
“Tentu saja,” jawabnya.
Syukurlah, sahutku dalam hati. “Inilah sebabnya mengapa saya mengajakmu ke Venesia.”
Sambil menatap mataku, Clarine berkata, “Kamu tahu, tanpa Venesia pun Clarine sudah sangat bahagia atas semua yang telah kamu berikan. Clarine sudah mendapatkan segala kebahagiaan jika pada saat sedih ada yang menghibur Clarine, pada saat bahagia ada yang bersama Clarine. Venesia tidak bisa berbicara kepada Clarine, Venesia tidak bisa mendengarkan isi hati Clarine, Venesia betapapun indahnya dia bisu.”
“Tapi kamu bisa memberikan Clarine kebahagiaan yang lebih dari yang bisa Venesia berikan.”
Lalu saya bertanya,” Clarine, apakah saya sudah memberikan yang terbaik untukmu? Apakah saya sudah menjadi yang terbaik untuk Clarine?”
“Tentu! Clarine selalu merasakan apa yang kamu berikan adalah yang terbaik dan tulus. Clarine sangat bahagia! Untuk bisa memberikan yang terbaik untukmu Clarine bisa memberinya setiap saat, rasa saling pengertian tidak akan tumbuh melalui perjalanan indah, melainkan dipupuk dengan sabar, maka cinta akan tumbuh subur.”
Clarine cukup pandai berfilosofi, saya benar-benar tidak bisa dibuat banyak bicara. Matanya lalu menatap dengan tulus, matanya seolah berbicara tegas dalam diamnya bahwa dia akan selalu menjadi yang terbaik. Saya semakin yakin kalau Clarine adalah yang “terbaik” itu.
“Tapi, perjalanan ke Venesia berkesan bukan?,” tanyaku.
“Ya! Kamu memang nekat! Baru kali ini Clarine dapat kejutan seheboh ini, Venesia...!? sungguh mengejutkan pokoknya!,” serunya sambil tersenyum dengan raut wajah yang meluap-luap.

Clarine lalu beraksi ketika secara samar-samar dia mendengar ada lantunan sonata. Itu sonata-nya Vivaldi, pemain biola yang menciptakan banyak karya musik yang merdu. Vivaldi begitu dipuja di Venesia karena dia adalah seorang putra daerah. Banyak orang yang memainkan karyanya. Clarine beranjak lalu mengajakku mencari sumber dari bunyian itu, dia berjalan duluan sementara saya masih terduduk sejenak, masih ingin merenung sejenak.

Saya ingin merenungi pernyataan Clarine. Saya juga ingin menjawab pertanyaan yang timbul di pikiranku ini. Parameter “terbaik” memang akhirnya akan sangat susah untuk kamu temui. Ini bukan hitung-hitungan matematika. Bagi saya kita tidak perlu terlalu serakah dan terlalu menuntut. “Terbaik” akan timbul sendirinya jika kamu sabar memupuknya. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain akan bergerak seiring dengan jalan pikiran kita, Clarine itu juga individu yang punya keinginan pribadi. Katanya tadi rasa saling pengertian tidak akan diperoleh melalui perjalanan indah, tapi dipupuk. Pengertian...kamu akan susah mendefinisikannya, karena bagi saya pengertian harus dialami dan dirasakan, agar kamu tidak jatuh berantakan nantinya.

Jadi, apakah Clarine terbaik untukku? Ya!
Tuluskah kamu untuk Clarine? Ya!
Kenapa kamu seyakin itu?
Saya yakin bukan karena hanya saya yang bisa melakukan itu, tapi Clarine juga mampu melakukannya untuk saya. Merpati itu milik Clarine!

Venesia.....perlukah setiap orang harus ke Venesia untuk menemukan yang terbaik bagi dirinya? Tidak!

Terus Venesia memiliki daya magis bukan? Keindahan kota Venesia bisa membuat siapa saja terkagum-kagum kepadanya dan memujanya.
Ya, tentu saja!

Jadi apakah setiap orang perlu berkunjung ke Venesia?
Pikirkan sendiri, carilah jawabannya dalam misteri kehidupanmu.

SELESAI

No comments: