Sabtu 16 Juni kemarin, saya melihat di jalan sekelompok anak SMU dengan pakaian yang sudah tercorat-coret, mereka merayakan kemenangannya karena dinyatakan lulus ujian nasional. Di sisi jalan lain juga sama saja. Hari itu adalah hari perayaan. Memang sejak standar kelulusan ujian nasional yang ditetapkan pemerintah dinaikkan, para siswa/i tidak semudah dulu lagi kalau mau lulus ujian. Waktu saya masih SMA dulu, ujian seperti formalitas saja, jarang sekali yang tidak lulus. Dan ujian nasional ini memang masih mendapat banyak kritikan dari para pakar pendidikan, dari Imam Prasojo sampai artis Sophia Latjuba ikut memperjuangkan mereka yang tidak lulus tahun kemarin. Tahun ini...kita lihat saja apa lagi yang menjadi masalah.
Perjalanan belum berakhir. Mereka harus siap-siap masuk perguruan tinggi lagi. Ngejar ijasah lagi. Ah, saya lalu merefleksikan ke diri saya sendiri. Sekarang tahun kelimaku kuliah. Seharusnya sudah lulus. Tapi saya telat menyelesaikan kuliah. Harus ngejar nih.
Dulu saya senang bisa diterima di perguruan tinggi negeri (saya kuliah di Unibraw Malang), bergengsi katanya. Tapi, begitu merasakan sistim pendidikan yang ternyata sama saja, tidak karuan, saya jadi tidak bersemangat. Entah sudah berapa banyak tugas membuat yang sudah diberikan ke kami mahasiswa, hanya sekedar formalitas agar jadi pertimbangan nilai akhir. Dibaca atau tidak, embuh.
Lalu dari semua itu kita diganjar nilai yang katanya merepresentasikan bodoh-pintarnya, berprestasi-gobloknya mahasiswa. Ya itulah ukuran dari universitas untuk kita.
Belakangan saya agak terjebak dengan rutinitas akademis. Bosan. Tujuannya untuk mengejar nilai, bukan ilmu. Saya jadi ingin ke tempat sahabat sekaligus guru saya, pak Rianto, seorang kakek :) yang jenaka dengan beda usia 31 tahun dari usia saya. Seperti dalam buku Tuesday With Morrie, beliau saya anggap sosok dosen sejati, dosen kehidupan, berjiwa muda, tidak konservatif, pemikir independen.
Lalu hari itu juga, di Kompas ada artikel seorang keluarga tidak mampu berjuang untuk menyekolahkan anaknya, nekat, sampai akhirnya keluar dari sekolah karena tidak mampu membayar. Pendidikan masih begitu diidamkan oleh mereka, berharap agar kelak anak mereka bisa menjadi berguna setidaknya buat keluarga, syukur-syukur untuk bangsa dan negara juga.
Pendidikan di negeri ini begitu berantakan, mahal, syukur-syukur kalau benar-benar mendidik. Di IPDN pelajar yang masuk malah menjadi buas sampai tega memukul juniornya.
Inilah potret pendidikan di negeriku... kusut dan sampai hari ini saya tidak tahu dimana peran pemerintah selain hanya memberi ijasah. Bisakah dibenahi?
Saya lalu membaca kembali novel Saman-nya Ayu Utami. Ada pernyataan It is better to light the candle than just curse the darkness. Maknanya, terus berusaha! Gitu kali :)
Monday, June 25, 2007
Tuesday, May 29, 2007
Dunia Ramal-Meramal
Masa depan adalah tidak tentu, penuh misteri, dan mungkin karena itu banyak yang jadi penasaran karenanya. Seseorang jadi semakin penasaran lagi karena ternyata ada beberapa orang yang konon bisa melihat masa depan. Mereka yakin, setidaknya jika dibacakan masa depannya mereka bisa lebih tenang, atau malah sebaliknya, makanya butuh kesiapan mental juga dari seseorang yang akan diramal, begitu katanya.
Omong-omong soal itu, saya pernah diramal setidaknya oleh dua orang, juga pernah menjadi...TUKANG RAMAL!. Yang pertama dengan cara Feng Shui. Beliau menampik kalau dikatakan meramal, tapi membaca kondisi saja serta potensi-potensi kita. Okelah.
Tanggal, bulan, tahun dan jam lahir saya diminta. Lalu dimasukkan semua data itu ke komputer. Sekali lagi dia mempertegas, “Feng Shui itu ilmu, hitungan murni, bukan menggunakan indera ke-enam.” Okelah. Setelah itu keluarlah sejumlah data ala Feng Shui di komputer. “Nah sudah ketahuan semua, siapa anda sebenarnya!,” tegasnya dengan sangat yakin.
Begini analisanya. Pertama, saya dikatakan seorang pemimpin, tidak akan bisa bekerja untuk seseorang karena tidak akan pernah cocok, kalau pun bekerja untuk orang rejeki saya nantinya malah untuk orang itu. Eman-eman, mending aku kerja sendiri. Not bad, usul yang bagus, negara ini butuh banyak para wirausahawan katanya.
Kedua, untuk menunjang itu semua saya disarankan memakai asesoris logam seumur hidupku, katanya unsur logam saya sangat sedikit hampir tidak ada. Yang ini berbau ‘mistis’.
Ketiga, saya adalah orang dengan banyak ide, namun tidak pernah merealisasikannya, lalu disarankan untuk menuangkan semua isi kepala saya ke dalam bentuk tulisan, jangan didiamkan begitu saja. Oke, saran ini masih bisa diterima.
Keempat, kesehatan saya rawan di daerah paru-paru. Oh, sedemikian detailnya. Padahal saya bukan seorang perokok. Atau mungkin tiba-tiba ketularan TBC, bisa jadi.
Kelima, dalam dunia perjodohan saya akan mengalami saat-saat yang sangat romantis dan tidak ada halangan berarti. Semoga benar adanya :D Demikian analisis ahli Feng Shui itu.
Di lain kesempatan saya diramal tukang ramal yang kedua dengan cara agak unik. Full mistis kalau yang ini (katanya bisa berkomunikasi dengan mahluk lain). Dan sarannya pun juga unik, seunik metoda ramalnya. Saya disarankan harus punya adik perempuan untuk menunjang nasib baik saya. Titik. Selesai. Hanya demikian tanpa saran yang berarti. Saya adalah kakak dari dua adik lelaki. Kami semua sudah dewasa dan ibu saya tidak mungkin punya anak lagi. Yang ini super ngawur, lebih baik saya mencari mantu yang baik untuk ibu saya daripada nyari adik perempuan.
Lalu saya pernah juga menjadi tukang ramal dadakan, dengan pasien wanita semua (hehe). Ceritanya suatu kali saya membaca sekilas buku palmistri, metoda pembacaan jalan hidup dengan menelisik guratan-guratan di telapak tangan. Garis-garis tersebut merepresentasikan rejeki, kesehatan, kecerdasan, watak, dan...jodoh (ini pertanyaan populer, pasien biasanya berputar-putar dahulu sebelum menanyakan hal ini).
Iseng lah saya melihat garis tangan kawan saya, mahasiswi kedokteran, tanpa maksud untuk meramal, tanpa memenyentuh tangannya sedikitpun. Ada dua kawannya juga yang semua berstatus sama waktu itu.
Siapa sangka reaksinya berlebihan. Saya diminta meramal! Ampun! Saya katakan saya tidak punya kemampuan seperti itu. Tapi tetap didesak. Minimal ada masukan, masak tidak bisa. Harus! Apa boleh bikin. Saya buat analisa sendiri, mengira-ngira berdasarkan watak orang tersebut.
“Jangan lupakan keluarga, mereka penunjang agar karirmu mulus.” Lalu keluar lagi masukan sok bijak, “Dalam berumah-tangga nanti kamu yang akan dominan, jadi hati-hati harus seimbang.” Sepertinya masukan saya diamini, bisa diterima, “Ooooo....begitu.”
Dan tugas saya belum selesai karena dua pasien lain makin penasaran dengan masukan sok bijak. Kamu harus ini, jangan lupakan ini, waspada terhadap ini. Masukan standar, seperti memberi saran kalau kamu lapar makanlah, kalau haus minumlah, dan kalau cape tidur sana.
Saya berpikir, sebenarnya ramalan bukanlah hal yang mutlak adanya. Misalnya jika Mama Lauren mengatakan akan banyak kecelakaan transportasi, maka ini akan sangat bagus jika disikapi sebagai peringatan, lalu berbenah agar mencegah itu terjadi.
Tapi sebenarnya untuk hal-hal demikian kita tidak butuh jasa seorang peramal pun untuk memberi peringatan. Sudah demikian tumpulkah daya pikir kita sehingga harus memakai jasa ahli nujum untuk memberi peringatan. (Tapi kok pernah diramal?)
Dan kalau memang ramalan pasti benar, saya rela membayar mahal kepada seorang peramal untuk memastikan skor pertandingan sepak bola, lalu ikut bertaruh. (Bodoh ya, kalau dipikir-pikir, ngapain peramal itu masih mau cari uang dengan jadi peramal sementara dia bisa jadi milyuner lewat berjudi ke Las Vegas, hahaha).
Ada-ada saja.
Omong-omong soal itu, saya pernah diramal setidaknya oleh dua orang, juga pernah menjadi...TUKANG RAMAL!. Yang pertama dengan cara Feng Shui. Beliau menampik kalau dikatakan meramal, tapi membaca kondisi saja serta potensi-potensi kita. Okelah.
Tanggal, bulan, tahun dan jam lahir saya diminta. Lalu dimasukkan semua data itu ke komputer. Sekali lagi dia mempertegas, “Feng Shui itu ilmu, hitungan murni, bukan menggunakan indera ke-enam.” Okelah. Setelah itu keluarlah sejumlah data ala Feng Shui di komputer. “Nah sudah ketahuan semua, siapa anda sebenarnya!,” tegasnya dengan sangat yakin.
Begini analisanya. Pertama, saya dikatakan seorang pemimpin, tidak akan bisa bekerja untuk seseorang karena tidak akan pernah cocok, kalau pun bekerja untuk orang rejeki saya nantinya malah untuk orang itu. Eman-eman, mending aku kerja sendiri. Not bad, usul yang bagus, negara ini butuh banyak para wirausahawan katanya.
Kedua, untuk menunjang itu semua saya disarankan memakai asesoris logam seumur hidupku, katanya unsur logam saya sangat sedikit hampir tidak ada. Yang ini berbau ‘mistis’.
Ketiga, saya adalah orang dengan banyak ide, namun tidak pernah merealisasikannya, lalu disarankan untuk menuangkan semua isi kepala saya ke dalam bentuk tulisan, jangan didiamkan begitu saja. Oke, saran ini masih bisa diterima.
Keempat, kesehatan saya rawan di daerah paru-paru. Oh, sedemikian detailnya. Padahal saya bukan seorang perokok. Atau mungkin tiba-tiba ketularan TBC, bisa jadi.
Kelima, dalam dunia perjodohan saya akan mengalami saat-saat yang sangat romantis dan tidak ada halangan berarti. Semoga benar adanya :D Demikian analisis ahli Feng Shui itu.
Di lain kesempatan saya diramal tukang ramal yang kedua dengan cara agak unik. Full mistis kalau yang ini (katanya bisa berkomunikasi dengan mahluk lain). Dan sarannya pun juga unik, seunik metoda ramalnya. Saya disarankan harus punya adik perempuan untuk menunjang nasib baik saya. Titik. Selesai. Hanya demikian tanpa saran yang berarti. Saya adalah kakak dari dua adik lelaki. Kami semua sudah dewasa dan ibu saya tidak mungkin punya anak lagi. Yang ini super ngawur, lebih baik saya mencari mantu yang baik untuk ibu saya daripada nyari adik perempuan.
Lalu saya pernah juga menjadi tukang ramal dadakan, dengan pasien wanita semua (hehe). Ceritanya suatu kali saya membaca sekilas buku palmistri, metoda pembacaan jalan hidup dengan menelisik guratan-guratan di telapak tangan. Garis-garis tersebut merepresentasikan rejeki, kesehatan, kecerdasan, watak, dan...jodoh (ini pertanyaan populer, pasien biasanya berputar-putar dahulu sebelum menanyakan hal ini).
Iseng lah saya melihat garis tangan kawan saya, mahasiswi kedokteran, tanpa maksud untuk meramal, tanpa memenyentuh tangannya sedikitpun. Ada dua kawannya juga yang semua berstatus sama waktu itu.
Siapa sangka reaksinya berlebihan. Saya diminta meramal! Ampun! Saya katakan saya tidak punya kemampuan seperti itu. Tapi tetap didesak. Minimal ada masukan, masak tidak bisa. Harus! Apa boleh bikin. Saya buat analisa sendiri, mengira-ngira berdasarkan watak orang tersebut.
“Jangan lupakan keluarga, mereka penunjang agar karirmu mulus.” Lalu keluar lagi masukan sok bijak, “Dalam berumah-tangga nanti kamu yang akan dominan, jadi hati-hati harus seimbang.” Sepertinya masukan saya diamini, bisa diterima, “Ooooo....begitu.”
Dan tugas saya belum selesai karena dua pasien lain makin penasaran dengan masukan sok bijak. Kamu harus ini, jangan lupakan ini, waspada terhadap ini. Masukan standar, seperti memberi saran kalau kamu lapar makanlah, kalau haus minumlah, dan kalau cape tidur sana.
Saya berpikir, sebenarnya ramalan bukanlah hal yang mutlak adanya. Misalnya jika Mama Lauren mengatakan akan banyak kecelakaan transportasi, maka ini akan sangat bagus jika disikapi sebagai peringatan, lalu berbenah agar mencegah itu terjadi.
Tapi sebenarnya untuk hal-hal demikian kita tidak butuh jasa seorang peramal pun untuk memberi peringatan. Sudah demikian tumpulkah daya pikir kita sehingga harus memakai jasa ahli nujum untuk memberi peringatan. (Tapi kok pernah diramal?)
Dan kalau memang ramalan pasti benar, saya rela membayar mahal kepada seorang peramal untuk memastikan skor pertandingan sepak bola, lalu ikut bertaruh. (Bodoh ya, kalau dipikir-pikir, ngapain peramal itu masih mau cari uang dengan jadi peramal sementara dia bisa jadi milyuner lewat berjudi ke Las Vegas, hahaha).
Ada-ada saja.
Monday, May 28, 2007
Kepercayaan Ini-Itu
Pernah suatu kali waktu saya naik pesawat kebetulan di sebelah saya duduk seorang mahasiswi yang menempuh studi di Jogja. Wah seru nih. Tidak juga. Dia lalu mengajak aku ngobrol. Tapi ujung-ujungnya dia lalu mengambil lembaran yang terselip di bangku depan bagian belakang, ternyata isinya panduan doa. Lengkap panduan doa lima agama disana. Lalu dia tanya kamu berdoa dengan cara mana. Pertanyaan kuno banget bagi saya. Tapi ya harus dijawab, dan jawaban saya tidak satu pun.
Hehe, saya sudah berapa kali membuat orang kaget atas jawaban saya. Tapi dengan begitu dia justru dengan leluasa menceritakan pengalaman-pengalaman spiritualnya dalam berasosiasi dengan salah satu kategori kepercayaan itu tanpa harus merasa menyinggung saya. Saya katakan saya sangat menghargai semua tokoh-tokoh agama. Lalu saya bercerita tentang Anthony De Mello. Senanglah dia. Eits, tapi saya lalu bercerita tentang Alm. Munir, Dalai Lama, Gandhi dan Sufi juga. Ups, mimiknya sedikit berubah. Kena kau :D
Dia juga minta dukungan doa atas seorang rohaniwannya yang meninggal, dan saya katakan pasti.
Waktu kecil, sekitar kelas 3 atau 4 SD, saya pernah dapat doktrin-doktrin aneh. Saya punya beberapa kartu dengan tokoh video game yang terkenal saat itu, Street Fighter. Saya punya gambarnya Dhalsim, yang memakai kalung tengkorak. Lalu ada juga tokoh Zangief, yang diceritakan asalnya dari Uni Soviet, negara komunis. Dan sepupu saya yang seumuran saya waktu itu menyuruh saya membakarnya, loh kenapa? Katanya berhubungan dengan simbol-simbol setan. Dan dengan bodohnya saya ikut saja, padahal saya senang sekali dengan Street Fighter.
Saya juga pernah disuruh berhati-hati dengan sesuatu yang berhubungan dengan angka 666. Simbol setan lagi. Dan saya kembali takut. Guru saya katakan nanti saya bakalan dipanggang seumur hidup. Lalu waktu menjelang tanggal 9 bulan September 1999 juga dikatakan akan kiamat. 999 dibalik menjadi 666, Devil’s Day. Padahal kalau kiamat gampang saja, suruh saja Amerika dan Rusia meledakkan semua senjata perangnya yang paling maut, maka kekuatan ledakannya bisa menghancurkan tujuh bumi, kata Alm. Cak Nur satu ketika yang pernah saya dengar.
Ada juga yang percaya kutukan sebuah angka. Orang C(h)ina sangat menghindari sesuatu yang berbau 4. Orang Eropa saat ini masih percaya dengan tahayul angka 13.
Menyangkut perjodohan, mereka yang merintih karena kesendiriannya begitu rajin melihat ramalan bintang tiap minggu. Ada juga yang rajin menghitung dan mencocok-cocokkan shionya dengan pasangannya. Shio ini cocok dengan shio itu. Zodiak ini cocok dengan zodiak itu.
Dasar. Gitu kok dipercaya. Orang-orang di sekitar kita sangat gampang ditakut-takuti jika sudah menyangkut dunia transenden. Padahal mereka bisa saja dibodohi oleh pemangkunya itu.
Lalu saya tetap ditanya, apa kepercayaanmu? Hehe, saya hanya tersenyum, biarlah itu menjadi urusan saya, karena apapun agama saya (mungkin tidak beragama dan tidak berTuhan) saya tidak akan membuat rusuh atau membuat kelompok baru penyebar paham-paham. Tidak akan, karena tidak berguna, setidaknya bagi saya.
Hehe, saya sudah berapa kali membuat orang kaget atas jawaban saya. Tapi dengan begitu dia justru dengan leluasa menceritakan pengalaman-pengalaman spiritualnya dalam berasosiasi dengan salah satu kategori kepercayaan itu tanpa harus merasa menyinggung saya. Saya katakan saya sangat menghargai semua tokoh-tokoh agama. Lalu saya bercerita tentang Anthony De Mello. Senanglah dia. Eits, tapi saya lalu bercerita tentang Alm. Munir, Dalai Lama, Gandhi dan Sufi juga. Ups, mimiknya sedikit berubah. Kena kau :D
Dia juga minta dukungan doa atas seorang rohaniwannya yang meninggal, dan saya katakan pasti.
Waktu kecil, sekitar kelas 3 atau 4 SD, saya pernah dapat doktrin-doktrin aneh. Saya punya beberapa kartu dengan tokoh video game yang terkenal saat itu, Street Fighter. Saya punya gambarnya Dhalsim, yang memakai kalung tengkorak. Lalu ada juga tokoh Zangief, yang diceritakan asalnya dari Uni Soviet, negara komunis. Dan sepupu saya yang seumuran saya waktu itu menyuruh saya membakarnya, loh kenapa? Katanya berhubungan dengan simbol-simbol setan. Dan dengan bodohnya saya ikut saja, padahal saya senang sekali dengan Street Fighter.
Saya juga pernah disuruh berhati-hati dengan sesuatu yang berhubungan dengan angka 666. Simbol setan lagi. Dan saya kembali takut. Guru saya katakan nanti saya bakalan dipanggang seumur hidup. Lalu waktu menjelang tanggal 9 bulan September 1999 juga dikatakan akan kiamat. 999 dibalik menjadi 666, Devil’s Day. Padahal kalau kiamat gampang saja, suruh saja Amerika dan Rusia meledakkan semua senjata perangnya yang paling maut, maka kekuatan ledakannya bisa menghancurkan tujuh bumi, kata Alm. Cak Nur satu ketika yang pernah saya dengar.
Ada juga yang percaya kutukan sebuah angka. Orang C(h)ina sangat menghindari sesuatu yang berbau 4. Orang Eropa saat ini masih percaya dengan tahayul angka 13.
Menyangkut perjodohan, mereka yang merintih karena kesendiriannya begitu rajin melihat ramalan bintang tiap minggu. Ada juga yang rajin menghitung dan mencocok-cocokkan shionya dengan pasangannya. Shio ini cocok dengan shio itu. Zodiak ini cocok dengan zodiak itu.
Dasar. Gitu kok dipercaya. Orang-orang di sekitar kita sangat gampang ditakut-takuti jika sudah menyangkut dunia transenden. Padahal mereka bisa saja dibodohi oleh pemangkunya itu.
Lalu saya tetap ditanya, apa kepercayaanmu? Hehe, saya hanya tersenyum, biarlah itu menjadi urusan saya, karena apapun agama saya (mungkin tidak beragama dan tidak berTuhan) saya tidak akan membuat rusuh atau membuat kelompok baru penyebar paham-paham. Tidak akan, karena tidak berguna, setidaknya bagi saya.
"Agama saya sederhana yaitu agama kebaikan.”
(Dalai Lama XIV)
“Aku mencintaimu ketika aku bersujud di masjid, bersimpuh di kuil,
bersembahyang di gereja, karena kamu dan aku anak-anak dari satu agama, dan
itulah jiwa.”
(Kahlil Gibran)
“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu, karena takut pada neraka, maka
bakarlah aku di dalam neraka. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan
surga, campakkanlah aku dari dalam surga. Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi
Engkau,janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu, yang Abadi
kepadaku.”
(Rabi'ah Al-Adawi'yah )
Wednesday, May 23, 2007
Tolong Jangan Gunakan Kekerasan (Lagi)
KARENA MEREKA JUGA BISA MERASAKAN SAKIT DAN PUNYA PERASAAN
Menakutkan dan memprihatinkan memang, saat perbedaan pendapat disikapi dengan cara yang memancing kekerasan. Dalihnya pun sederhana, hukum kita seperti macan ompong! Lihat saja mereka para koruptor yang melarikan uang negara tidak pernah diadili. Setuju. Juga siapa yang berani menyeret para pelanggar hukum yang pernah memegang jabatan strategis di pemerintahan seperti presiden, menteri atau jendral ?
Setuju kawan, setuju. Tapi saya yakin cara-cara yang menggunakan kekerasan bukan solusi tepat-guna juga, karena proses ini akan berulang terus, bisa jadi skalanya makin besar, dan yang menjadi korban adalah mereka yang juga tidak tahu-menahu apa yang kita lakukan. Gandhi pernah bilang mata dibalas mata hanya membuat kita buta. Dan batin kita pun ikut buta...
Kawan setuju akan ketidakadilan yang melanda di muka bumi ini kan? Kawan menentang Amerika dengan begitu kuatnya, atas segala kelalimannya. Setuju kawan, setuju. Mereka hanya sepersekian dari penduduk bumi, namun konsumsi energi yang digunakan mereka serta emisi yang mereka muntahkan untuk keperluan konsumsi mereka menyebabkan seluruh dunia ini, bahkan mereka yang tidak pernah merasakan nikmatnya menggunakan energi bumi ini, harus bersiap terkena resiko kanker kulit. Mereka mungkin masih punya 1001 cara untuk melindungi warga mereka, namun bagaimana dengan mereka di negara yang miskin di Afrika sana misalnya?
Saya setuju atas pandangan kawan tentang ketidakadilan. Oleh karena itu, saya sangat berharap agar kawan tidak ikut-ikutan menjadi sumber ketidakadilan, agar kawan tidak seperti Amerika yang kawan dan kita semua tentang atas ketidakadilan yang mereka perbuat, iya kan, kawan?
Kawan, saudaraku, saya tidak bermaksud menggurui kawan, apalah artinya satu orang ini dibandingkan dengan apa yang kawan sekalian perjuangkan. Namun, kawan, saya yakin kawan mampu mengajak kita semua menjadi khafilah di muka bumi ini.
Beberapa yang hari lalu kawan, saya melihat seorang anak kecil yang lugu, dia tampak begitu senang berjalan dengan orang tuanya. Dia lalu tersenyum untuk saya yang tidak pernah dikenalnya. Setidaknya saya merenung, jangan ambil senyum-senyum ini dari mereka yang mencintainya, mereka yang tidak tahu apa-apa atas semua ketidakadilan yang sudah menimpa kita. Setidaknya, saya butuh senyum itu.
Terima kasih.
Menakutkan dan memprihatinkan memang, saat perbedaan pendapat disikapi dengan cara yang memancing kekerasan. Dalihnya pun sederhana, hukum kita seperti macan ompong! Lihat saja mereka para koruptor yang melarikan uang negara tidak pernah diadili. Setuju. Juga siapa yang berani menyeret para pelanggar hukum yang pernah memegang jabatan strategis di pemerintahan seperti presiden, menteri atau jendral ?
Setuju kawan, setuju. Tapi saya yakin cara-cara yang menggunakan kekerasan bukan solusi tepat-guna juga, karena proses ini akan berulang terus, bisa jadi skalanya makin besar, dan yang menjadi korban adalah mereka yang juga tidak tahu-menahu apa yang kita lakukan. Gandhi pernah bilang mata dibalas mata hanya membuat kita buta. Dan batin kita pun ikut buta...
Kawan setuju akan ketidakadilan yang melanda di muka bumi ini kan? Kawan menentang Amerika dengan begitu kuatnya, atas segala kelalimannya. Setuju kawan, setuju. Mereka hanya sepersekian dari penduduk bumi, namun konsumsi energi yang digunakan mereka serta emisi yang mereka muntahkan untuk keperluan konsumsi mereka menyebabkan seluruh dunia ini, bahkan mereka yang tidak pernah merasakan nikmatnya menggunakan energi bumi ini, harus bersiap terkena resiko kanker kulit. Mereka mungkin masih punya 1001 cara untuk melindungi warga mereka, namun bagaimana dengan mereka di negara yang miskin di Afrika sana misalnya?
Saya setuju atas pandangan kawan tentang ketidakadilan. Oleh karena itu, saya sangat berharap agar kawan tidak ikut-ikutan menjadi sumber ketidakadilan, agar kawan tidak seperti Amerika yang kawan dan kita semua tentang atas ketidakadilan yang mereka perbuat, iya kan, kawan?
Kawan, saudaraku, saya tidak bermaksud menggurui kawan, apalah artinya satu orang ini dibandingkan dengan apa yang kawan sekalian perjuangkan. Namun, kawan, saya yakin kawan mampu mengajak kita semua menjadi khafilah di muka bumi ini.
Beberapa yang hari lalu kawan, saya melihat seorang anak kecil yang lugu, dia tampak begitu senang berjalan dengan orang tuanya. Dia lalu tersenyum untuk saya yang tidak pernah dikenalnya. Setidaknya saya merenung, jangan ambil senyum-senyum ini dari mereka yang mencintainya, mereka yang tidak tahu apa-apa atas semua ketidakadilan yang sudah menimpa kita. Setidaknya, saya butuh senyum itu.
Terima kasih.
Thursday, May 17, 2007
Aku Benci Pertemuan Karena Sedih Akan Berpisah
Sabtu 5 Mei 2007.. saya harus melepas kepergian sahabat baik saya, bahkan saudara, yang harus pulang kembali ke kampung halamannya, Medan. Studinya sudah selesai dengan gelar sarjana digenggaman, dan dia memilih untuk pulang kampung.
Saya tinggal satu pondokan, bahasa keren dari kos-kosan, dalam kurun 2 tahun. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan masuk ke pondokan, dan 2 tahun lalu itu datang saudara yang satu ini, Frans namanya.
Pada dasarnya kami penghuni pondokan semua bersahabat baik. Saya tidak pernah memilah-milih teman, namun banyaknya kesesuaian pandangan, ide, pemikiran membuat seseorang lebih akrab satu sama lain.. mirip orang pacaran lah gitu :)
Tinggal satu pondokan membuat suasana seperti rumah sendiri dan diisi saudara-saudara berbagai daerah. Kebiasaan-kebiasaan yang baik dan buruk akan kelihatan semua, kami tinggal seatap, serumah, berinteraksi tiap hari, seperti keluarga.
Saya teringat jika kita menghabiskan malam dengan nonton bersama. Kalau nonton berita politik yang sedang hangat, maka komentar-komentar meluncur deras. Frans dan saya sangat seru jika berkomentar tentang ketentaraan :) konon banyak saudaranya yang memilih profesi tentara sebagai jalan hidupnya dan banyak sekali cerita-cerita ‘lucu’ mengenai pengalaman ketentaraan tersebut, disamping komentar lainnya yang usil. Apalagi kalau menonton komedi sejenis Empat Mata ramai-ramai, tempat kita jadi heboh sekali dengan tawa.
Saya juga teringat saat melakukan perjalanan bareng. Kami pernah ke Jogja 2 malam, ke tempat kenalan Frans pemilik Ayam Goreng Suharti Jogja, dan dijamu makan luar biasa enak dan banyak sekali! Belum lagi perjalanan ke Gunung Bromo dengan sepeda motor, lalu mendirikan tenda sambil menunggu matahari pagi. Dan masih banyak lagi. Kami senang berjelajah!
Bicara soal kebiasaan, saya coba angkat sedikit kebiasaan Frans (maaf bang). Frans punya rekor bangun kesiangan, setiap bangun dan keluar dari kamar pasti teman-teman yang lain akan menertawakan, mengomentari usil dan memberi nasihat yang agak bijak bahwa jika begini terus kapan Indonesia bisa bangkit :)
Semua itu bumbu-bumbu persaudaraan yang sebentar lagi akan hilang. Saya dengan teman mengantar ke bandara Abdulrahman Saleh di Malang. Sewaktu dia masuk untuk check-in teman saya berkata saya benci pertemuan karena sedih akan berpisah.
....Pertemuan tidak bisa dihindari, dan setiap saat saya harus bersiap untuk bersedih. Akhirnya berpisah juga, pesawat sudah harus berangkat, melepas saudara yang tidak tahu kapan lagi akan bertemu, namun kami berjanji akan saling berkunjung.
Esok pagi, kamar itu sudah tidak berpenghuni lagi, hingga siang dia tidak keluar-keluar, ya.. penghuninya sudah pergi. Tidak ada lagi celetukan usil untuk seseorang yang bangun kesiangan.
Dan air mata pun menetes...
Wednesday, April 25, 2007
Belajar Sambil bermain
Anak-anak ini sedang belajar bagaimana rasanya jika mereka yang dikurung dalam kandang kecil, tempat dimana kita biasanya mengandangkan satwa liar, satwa yang masih memiliki sifat-sifat liar dan biasanya dilindungi serta sudah hampir punah.
Demi uang, kita sebagai manusia menjadi terlalu tega untuk melakukan apa saja meskipun merugikan. Hutan kita babat sehingga habitat orangutan di Kalimantan makin terancam. Orangutannya sendiri kita ambil untuk diseludupkan ke luar negeri.
Setidaknya sejak usia dini kesadaran untuk menghargai berbagai bentuk kehidupan sudah harus ditanamkan, agar kala dewasa nanti anak-anak tersebut tidak menjadi eksploitator satwa maupun lingkungan, setidaknya bertambah beberapa orang lagi yang siap memerangi eksploitasi satwa. Bermain sambil mendidik, anak-anak tersebut sangat menikmati, senyum lucu tidak lepas dari raut wajahnya, senyum keceriaan masa kanak-kanak.
Lokasi: Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), Petungsewu, Malang, Jawa Tim
ur.
Di Salah Satu Sudut Kota Malang

Untung Rezim Orde Baru sudah menjadi lembaran lama. Kalau tidak, toko buku mini ini sudah diobrak-abrik atau diawasi intel saban hari. Tulisan Pancasila di dindingnya diplesetkan sedemikian rupa menjadi hamunan. Sang pemilik toko buku hanya cengar-cengir.
Saat sistim hukum masih tebang pilih dan kinerja pemerintah jauh api dari panggang, beginilah ekspresi mereka. Wajar-wajar saja saya rasa, mereka tidak bikin kisruh kok, apalagi sampai membakar diri seperti aksi-aksi protes yang biasa dilakukan oleh demonstran di Korea Selatan atau kelompok biksu di Vietnam saat Perang Vietnam, belum sejauh itu.
Mereka hanya berusaha menyampaikan dengan cara mereka, banyak cara untuk menyampaikan pendapat dan kritik bukan. Kalau punya dukungan dan konsep lebih menarik bisa lewat televisi seperti acara parodi politik Republik Mimpi yang disiarkan Metro TV.
Terus bagaimana cara saya menyampaikan pendapat? Mungkin lewat blog ini salah satunya, mengangkat kepada teman-teman pembaca mereka yang berekspresi. Ada yang mau berbagi pengalaman? :)
Tuesday, April 10, 2007
Menghayal

Di sebuah desa, ya katakanlah desa, sangat hijau dan tertata rapih, tidak ada sampah berserakan, airnya bersih, polusi pun hampir tidak ada karena penduduk lebih banyak menggunakan sepeda. Untuk bepergian agak jauh ada kereta yang melaju di atas rel dengan teknologi ramah lingkungan, tanpa bahan bakar minyak.
Disana perkembangan seni, budaya, sastra sangat diapresiasi. Ada sebuah panggung yang disediakan, panggung yang besar, untuk menampilkan pertunjukan-pertunjukan tersebut. Berbagai pertunjukan teater dari belahan dunia manapun hampir bisa ditemui disini. Siti Nurbaya, Malinkundang, Tangkuban Perahu, sampai Sampek dan Engtay, Romeo dan Juliet, Roro Mendut dan Pronocitro, semua ada disini.
Baca puisi, lomba menulis, lomba mewarnai pun ada. Hasil karya mereka lalu dibukukan, dijual, dan yang pasti disimpan di perpustakaan dengan rapih sebagai bukti sejarah sastra, profil para kreator pun tidak lupa ditampilkan agar seluruh desa dan pengunjung dari desa lain bisa mengenal mereka.
Dari panggung itu juga kita bisa melihat pertunjukan musik dan tari. Tari dari Rusia, Jepang, India, Mesir, Kongo, dan Indonesia sendiri ada semua. Musik jazz, blues, rock bisa berdampingan dengan damai bersama campursari, dangdut, melayu bahkan shalawat, koor gereja, nyanyian buddhisme Tibet, pujian terhadap Krishna, Saraswati, dan banyak lagi.
Bagi pengunjung dari desa lain atau turis bisa mendapat informasi dari pusat-pusat informasi yang tersebar di berbagai lokasi. Brosur-brosurnya selalu diperbaharui, menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Selalu ada informasi mengenai event-event yang akan berlangsung, jalur transportasi, info penginapan, dan petugasnya ramah serta tahu betul apa yang harus diberitakan. Pariwisata pun berjalan lancar.
Ekonomi berjalan baik. Mereka yang berkebun tidak membabat hutan sembarangan untuk membuka areal kebun, yang bertani tidak menggunakan bahan kimia, pokoknya tidak merugikan lingkungan, hasilnya dikonsumsi oleh warga desa dan juga dikirim ke desa lain yang membutuhkan, desa lain juga membawa hasil buminya yang dibutuhkan desa ini.
Pejabat bekerja karena memang ingin mengabdi untuk mengatur desa, guru mengajar karena memang ingin mengajar, mengerjakan pekerjaan dengan hati, akhirnya siswa pun senang, belajar jadi santai, nalar berjalan etika terjaga.
Biaya sebagian besar desa-desa yang makmur itu datang dari orang-orang terkaya dunia, yang membagi-bagikan kekayaannya secara merata, untuk membangun semua desa di seluruh dunia. Urusan perut beres, logika berjalan, kesemrawutan lumayan bisa diatasi.
Suatu hari sambil duduk di taman, saya duduk dengan santai sambil menyanyi ditemani........
“DHUAAAAAAAAAAR!”
Kaget.
“Dasar, kamu bikin kaget saja.”
“Kamu sih asik sekali menghayal dari tadi, apa yang kamu pikirkan?”
Cerita.
“Walah, desa utopi, impian, kamu ini pengikut Marx ya?”
“Daripada berpikir jorok. Marx...siapa itu?”
“Yah, cita-citanya untuk mewujudkan sebuah masayarakat tanpa kelas, modal dikelola bersama, lalu dia punya teori-teori untuk mewujudkan itu, kamu ikuti aja caranya.”
“Nggak tau ah, saya tidak tau soal itu, emang dia berhasil?”
“Tidak juga sih.”
“Ya sudah, kasihan juga ya kawan Marx itu. Aku tidak mau tau tentang Marx atau teori apalah...Pokoknya tau-tau menghayal saja.”
“Memangnya kamu dapat apa setelah menghayal? Daripada menghayal mending bekerja sana, rencanakan hidupmu lebih matang di ranah penuh persaingan ini.”
“Ya tidak dapat apa-apa sih, itulah pikiran...liar. Iya, iya, pasti akan berusaha.” (kaya tidak pernah menghayal saja, khayalannya saru lagi biasanya)
“Hahaha, lumrah saja kok, setiap orang ya pasti pernah mengkhayal.” (Tuh kan)
“Oke oke terima kasih sudah mengagetkan aku, kamu juga kembali menghayal saru sana.”
“Hahaha, dasar, mau diceritain ya, kalau begitu selamat melanjutkan aktifitasmu kembali.”
“Hahaha, oke, thanks bro.”
Dan kembalilah beraktifitas lagi. Pikiran liar katanya harus dilatih biar tidak suka mengawang menerawang sesuatu yang tidak kejadian, tidak berguna memang.
Disana perkembangan seni, budaya, sastra sangat diapresiasi. Ada sebuah panggung yang disediakan, panggung yang besar, untuk menampilkan pertunjukan-pertunjukan tersebut. Berbagai pertunjukan teater dari belahan dunia manapun hampir bisa ditemui disini. Siti Nurbaya, Malinkundang, Tangkuban Perahu, sampai Sampek dan Engtay, Romeo dan Juliet, Roro Mendut dan Pronocitro, semua ada disini.
Baca puisi, lomba menulis, lomba mewarnai pun ada. Hasil karya mereka lalu dibukukan, dijual, dan yang pasti disimpan di perpustakaan dengan rapih sebagai bukti sejarah sastra, profil para kreator pun tidak lupa ditampilkan agar seluruh desa dan pengunjung dari desa lain bisa mengenal mereka.
Dari panggung itu juga kita bisa melihat pertunjukan musik dan tari. Tari dari Rusia, Jepang, India, Mesir, Kongo, dan Indonesia sendiri ada semua. Musik jazz, blues, rock bisa berdampingan dengan damai bersama campursari, dangdut, melayu bahkan shalawat, koor gereja, nyanyian buddhisme Tibet, pujian terhadap Krishna, Saraswati, dan banyak lagi.
Bagi pengunjung dari desa lain atau turis bisa mendapat informasi dari pusat-pusat informasi yang tersebar di berbagai lokasi. Brosur-brosurnya selalu diperbaharui, menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Selalu ada informasi mengenai event-event yang akan berlangsung, jalur transportasi, info penginapan, dan petugasnya ramah serta tahu betul apa yang harus diberitakan. Pariwisata pun berjalan lancar.
Ekonomi berjalan baik. Mereka yang berkebun tidak membabat hutan sembarangan untuk membuka areal kebun, yang bertani tidak menggunakan bahan kimia, pokoknya tidak merugikan lingkungan, hasilnya dikonsumsi oleh warga desa dan juga dikirim ke desa lain yang membutuhkan, desa lain juga membawa hasil buminya yang dibutuhkan desa ini.
Pejabat bekerja karena memang ingin mengabdi untuk mengatur desa, guru mengajar karena memang ingin mengajar, mengerjakan pekerjaan dengan hati, akhirnya siswa pun senang, belajar jadi santai, nalar berjalan etika terjaga.
Biaya sebagian besar desa-desa yang makmur itu datang dari orang-orang terkaya dunia, yang membagi-bagikan kekayaannya secara merata, untuk membangun semua desa di seluruh dunia. Urusan perut beres, logika berjalan, kesemrawutan lumayan bisa diatasi.
Suatu hari sambil duduk di taman, saya duduk dengan santai sambil menyanyi ditemani........
“DHUAAAAAAAAAAR!”
Kaget.
“Dasar, kamu bikin kaget saja.”
“Kamu sih asik sekali menghayal dari tadi, apa yang kamu pikirkan?”
Cerita.
“Walah, desa utopi, impian, kamu ini pengikut Marx ya?”
“Daripada berpikir jorok. Marx...siapa itu?”
“Yah, cita-citanya untuk mewujudkan sebuah masayarakat tanpa kelas, modal dikelola bersama, lalu dia punya teori-teori untuk mewujudkan itu, kamu ikuti aja caranya.”
“Nggak tau ah, saya tidak tau soal itu, emang dia berhasil?”
“Tidak juga sih.”
“Ya sudah, kasihan juga ya kawan Marx itu. Aku tidak mau tau tentang Marx atau teori apalah...Pokoknya tau-tau menghayal saja.”
“Memangnya kamu dapat apa setelah menghayal? Daripada menghayal mending bekerja sana, rencanakan hidupmu lebih matang di ranah penuh persaingan ini.”
“Ya tidak dapat apa-apa sih, itulah pikiran...liar. Iya, iya, pasti akan berusaha.” (kaya tidak pernah menghayal saja, khayalannya saru lagi biasanya)
“Hahaha, lumrah saja kok, setiap orang ya pasti pernah mengkhayal.” (Tuh kan)
“Oke oke terima kasih sudah mengagetkan aku, kamu juga kembali menghayal saru sana.”
“Hahaha, dasar, mau diceritain ya, kalau begitu selamat melanjutkan aktifitasmu kembali.”
“Hahaha, oke, thanks bro.”
Dan kembalilah beraktifitas lagi. Pikiran liar katanya harus dilatih biar tidak suka mengawang menerawang sesuatu yang tidak kejadian, tidak berguna memang.
Sunday, March 18, 2007
G3 Beraksi! (Semoga ada DVD-nya)
G3 kembali beraksi! Konser keliling pertama mereka di tahun 2007 digelar di berbagai kota di Amerika dan Kanada, start 14 Maret. Konsepnya seperti konser-konser sebelumnya, tiga gitaris yang mengusung musik rock, kebanyakan instrumental rock, akan tampil menunjukkan kebolehan masing-masing sebelum berkolaborasi pada sesi terakhir.Line-up gitaris yang berpatisipasi kali ini adalah John Petrucci, Paul Gilbert, dan tentunya sang dedengkot Joe Satriani (dan Steve Vai, kemana ya dia?). Konsep G3 memang selalu mengundang gitaris-gitaris handal untuk bermain bersama Satriani dan Vai. Nama-nama yang sudah tidak perlu diragukan lagi dalam kancah petik-memetik gitar, virtuoso semua.
Pada konser perdananya tahun 1996 mereka menampilkan Eric Johnson. Selebihnya Adrian Legg, Kenny Wayne Shepherd, Robert Fripp, Michael Schenker, Uli Jon Roth, Yngwie Malmsteen, John Petrucci, Paul Gilbert mengisi panggung G3.
Paul Gilbert akan melakukan penampilan perdananya berkolaborasi dalam G3. Dikenal dengan almarhum band Mr. Big dengan hit kondangnya “To Be With You.” Permainan gitarnya luar biasa! (kalau tidak luar biasa mana bisa diundang ke G3 :D ). Bagaimana penampilannya dalam G3? Patut dinanti!
John Petrucci si dedengkot band Dream Theater juga tidak akan kalah. Pentolan Berklee College of Music yang tersohor itu ini akan bergabung untuk kelima kalinya dalam tur keliling Amerika Utara G3 ini.
Namun saya kok merasa ada yang kurang kalau tidak ada Steve Vai. Orang satu ini jagoan banget permainannya, sudah lebih hebat dari gurunya si Joe Satriani. Aksinya di atas panggung sangat menghibur sehingga kita juga menonton pertunjukan yang menarik selain menikmati musik, namanya juga pertunjukan, orangnya kelihatan, bukan mendengar dari radio, aksi panggung akan memberi nilai plus.
The show must go on, tiga jagoan ini akan mengamen keliling di kota-kota besar di Amerika. Kapan ya G3 bisa singgah ke Indonesia? Tahun 2005 Jepang menjadi negara Asia pertama yang disinggahi G3, dan langsung didokumentasikan dalam bentuk DVD, keren! Semoga tur kali ini dirilis DVD-nya, ingin lihat Paul Gilbert :D
Tapi ngomong-ngomong, poster promosinya kok kurang menarik, kurang wah, terkesan seperti poster T-bone walker hanya diberi warna saja :-)
Berita terkait: Jadwal tur G3
Thursday, March 15, 2007
Tips Rahasia Gitaris Tua Itu
“Kita ini ’kan harus mencetak produk yang baik, bukan hanya IQ-nya saja yang tinggi tapi juga memiliki iman yang bagus juga.”
Lho produk apa ini? Komputer super pintar? Berbagai film siksi-ilmiah sudah membuat kita berfantasi kalau suatu hari nanti bisa diciptakan sebuah mesin yang bisa diperintah biar bisa meringankan tugas manusia, mungkin seperti Robocop, mesin setengah manusia, tidak kenal capek anti-peluru pula, polisi akan sangat terbantu jika memang Robocop bisa kita ciptakan.
Atau seperti film Judge Dredd, manusia hasil kloning, yang diramu dari unsur genetik orang hakim ngetop di kota “Mega-City One”-nya, dicampur-aduk entah gimana caranya, lalu jadilah Dredd, polisi unggulan yang taat hukum.
Lho produk apa ini? Komputer super pintar? Berbagai film siksi-ilmiah sudah membuat kita berfantasi kalau suatu hari nanti bisa diciptakan sebuah mesin yang bisa diperintah biar bisa meringankan tugas manusia, mungkin seperti Robocop, mesin setengah manusia, tidak kenal capek anti-peluru pula, polisi akan sangat terbantu jika memang Robocop bisa kita ciptakan.
Atau seperti film Judge Dredd, manusia hasil kloning, yang diramu dari unsur genetik orang hakim ngetop di kota “Mega-City One”-nya, dicampur-aduk entah gimana caranya, lalu jadilah Dredd, polisi unggulan yang taat hukum.
Mau buat robot, pak?
Bukan, bukan. Bapak yang gitaris dan pemilik sebuah studio musik ini suatu ketika mengajak saya dan teman ngobrol di rumahnya. Dia sangat bangga dengan anaknya yang masih berumur 5 tahun yang dia perkirakan memiliki IQ yang bagus. Indikatornya? Dia berbeda dengan anak lain, yang senang menimpali pembicaraan yang dilakukan orang dewasa, nyambung dikit gitu. Cara bicaranya lebih lancar dari teman sebayanya yang masih ‘anak-anak’ banget. Pokoknya dia senang dengan si kecil yang satu ini.
Produk kebanggaan bapak ini berupa seorang manusia. Konon, untuk ‘membuat’ seorang anak yang pintar dan beriman pula, ada cara-caranya. Persiapannya harus matang, direncanakan, sebelum akhirnya ‘membuat’ produk ini.
Bagaimana caranya? Dia belum mau berbagi. “Nanti kalau kamu sudah mau nikah tak kasih cara-caranya.” Mungkin beliau takut kalau tipsnya langsung dipraktekkan oleh kami anak muda ini :)
Tidak asal buat, ternyata mencetak anak juga harus disiapkan dengan matang. Manusia yang tidak hanya cerdas intelegensinya dan juga bagus imannya. Tentunya juga harus diimbangi dengan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Makanya sangat disayangkan jika belakangan ini sangat marak bayi yang baru lahir lalu sudah ditinggal begitu saja oleh ibunya, bahkan banyak yang langsung dicabut nyawanya.
Banyak juga yang akhirnya terpaksa menikah di usia muda, karena terlanjur membuat ‘produk’, agar menghindari cap berzinah. Apa jadinya jika menikah tanpa perencanaan begitu, di saat gelora muda masih ingin bepergian kesana kemari tiba-tiba harus terbelenggu oleh tanggung jawab. Tidak sedikit akhirnya rumah tangga itu juga berjalan amburadul, akhirnya anak yang tidak bersalah mentalnya jadi tidak karu-karuan, tertekan, akhirnya mereka tumbuh menjadi anak yang kurang perhatian, yang berbahaya dikuatirkan perilaku mereka jadi destruktif, tumbuh menjadi ‘produk’ yang tidak sehat.
Saya pernah berkunjung ke rumah penampungan anak-anak yang dikelola oleh suster dari komunitas Katolik. Ada yang cacat, yang paling muda sedari kandungan sudah diserahkan oleh suster, ibunya masih SMP katanya, kemudian gadis kecil itu lalu diperkenalkan ke saya. Kasihan. Tatapan matanya polos sekali, dia belum bisa bicara. Mereka tidak bersalah sama sekali. Mereka korban dari nafsu sesaat pasangan muda yang tidak berpikir panjang. Untung masih ada orang-orang yang peduli seperti para suster ini. Semua elemen pemerintahan, kemasyarakatan, keagamaan harus saling bekerja sama rasanya untuk menciptakan pertumbuhan anak manusia yang baik, biar negara ini tidak kehilangan generasi mudanya.
Mungkin bisa juga disisipkan saran dari seorang gitaris tua, bagaimana mencetak anak bermutu tinggi :-)
Di Warung STMJ Kita Berkisah...
Ngobrol santai merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan. Pembicaraannya yang terjadi terkadang serius, namun dengan suasana yang rileks. Tempatnya, dimana saja. Di warung atau kafe menjadi salah satu tempat favorit. Para pengelola kafe dibuat berpikir kreatif untuk menyediakan suasana yang nyaman, tidak lupa makanan dan minuman yang pas di lidah. Kita tinggal pilih mana yang sesuai dengan selera dan kantong kita, dari yang paling mahal serta kelas mahasiswa penunggak biaya kos berbulan-bulan.
Di Malang, saya salah satu tempat yang favorit saya untuk ngobrol adalah warung STMJ. Susu, madu, telur, jahe, dipadukan jadi satu. Bisa juga kita hilangkan salah satu elemen STMJ kalau tidak cocok dengan selera, yang jelas susu harus ada sebagai benda cairnya (bisa menjadi SMJ, STJ, STM, SJ, SM, ST, atau S saja). Kapan pertama kali STMJ ditemukan atau siapa yang meramu masih belum saya ketahui. Perkawinan yang tepat antara suasana dingin kota Malang di malam hari dengan hangatnya STMJ sangat pas untuk menemani pembicaraan.
Tempat warungnya sederhana, di tepi jalan, mungkin tidak tepat juga kalau disebut warung, yang jelas tempat seperti ini tersebar di seluruh Malang. Para pencari suasana santai berdatangan ke tempat-tempat ini.
Apa yang dibicarakan? Macam-macam. Terkadang seluk-beluk kampus (bagi yang mahasiswa), mengomentari nilai yang diberi dosen kepada kita sebagai simbolisasi bodoh-pintarnya mahasiswa, kebijakan-kebijakan kampus, aktivitas mahasiswa, hujat-menghujat dosen (hahaha) dan sebagainya. Canda-tawa tak lepas dari topik-topik yang dibicarakan, hal yang mengendurkan urat-urat yang kaku setelah aktivitas sehari-hari.
Topik lain? Kondisi negara. Mulai dari mengomentari peristiwa politik yang terjadi, kebijakan pemerintah, bencana alam, kondisi sosial, perekonomian, pertahanan negara. Misalnya menanggapi harga beras yang naik, pertama yang dibahas apakah harga nasi di warung akan ikut naik, berbagai prediksi pun bermunculan, menebak-nebak segala kemungkinan yang akan terjadi, soalnya ini persoalan kongkrit, bersentuhan langsung dengan perut, setelah itu baru dibahas isu politiknya.
Berbagi pengalaman hidup juga menjadi topik unggulan, dijamin akan mendapatkan pendengar setia. Mendengar dengan hati juga merupakan bentuk komunikasi yang baik katanya.
Tak jarang ide-ide atau inspirasi pun bermunculan, mengalir begitu saja. Inspirasi bisa datang kapan saja dimana saja. Dari sesuatu yang tidak direncanakan menjadi serius digarap. Si Newton duduk dibawah pohon apel saja bisa menjadi merumuskan hukum gravitasi.
Sekedar nongkrong sambil menikmati minuman adalah kegiatan mengisi waktu luang yang belum tentu wasting time, kita bisa rileks namun juga bisa serius. Tempatnya silahkan pilih sesuai selera masing-masing. Tapi kalau sempat silahkan coba sambil minum STMJ di Malang : )
Tempat warungnya sederhana, di tepi jalan, mungkin tidak tepat juga kalau disebut warung, yang jelas tempat seperti ini tersebar di seluruh Malang. Para pencari suasana santai berdatangan ke tempat-tempat ini.
Apa yang dibicarakan? Macam-macam. Terkadang seluk-beluk kampus (bagi yang mahasiswa), mengomentari nilai yang diberi dosen kepada kita sebagai simbolisasi bodoh-pintarnya mahasiswa, kebijakan-kebijakan kampus, aktivitas mahasiswa, hujat-menghujat dosen (hahaha) dan sebagainya. Canda-tawa tak lepas dari topik-topik yang dibicarakan, hal yang mengendurkan urat-urat yang kaku setelah aktivitas sehari-hari.
Topik lain? Kondisi negara. Mulai dari mengomentari peristiwa politik yang terjadi, kebijakan pemerintah, bencana alam, kondisi sosial, perekonomian, pertahanan negara. Misalnya menanggapi harga beras yang naik, pertama yang dibahas apakah harga nasi di warung akan ikut naik, berbagai prediksi pun bermunculan, menebak-nebak segala kemungkinan yang akan terjadi, soalnya ini persoalan kongkrit, bersentuhan langsung dengan perut, setelah itu baru dibahas isu politiknya.
Berbagi pengalaman hidup juga menjadi topik unggulan, dijamin akan mendapatkan pendengar setia. Mendengar dengan hati juga merupakan bentuk komunikasi yang baik katanya.
Tak jarang ide-ide atau inspirasi pun bermunculan, mengalir begitu saja. Inspirasi bisa datang kapan saja dimana saja. Dari sesuatu yang tidak direncanakan menjadi serius digarap. Si Newton duduk dibawah pohon apel saja bisa menjadi merumuskan hukum gravitasi.
Sekedar nongkrong sambil menikmati minuman adalah kegiatan mengisi waktu luang yang belum tentu wasting time, kita bisa rileks namun juga bisa serius. Tempatnya silahkan pilih sesuai selera masing-masing. Tapi kalau sempat silahkan coba sambil minum STMJ di Malang : )
Friday, March 9, 2007
Bisa Juga Kau, Mas!
Terlihat tidak banyak berubah bukan berarti tidak merencanakan sesuatu. Benar-benar mengejutkan dan sangat tidak terduga, tiba-tiba undangan pernikahannya datang begitu saja!. Akhirnya kawan saya yang satu ini, Mas Yudho, biasa saya sapa demikian, akan melalui salah satu faset yang akan dikenang seumur hidupnya, meminang wanita idamannya, hari Sabtu 10 Maret 2007.
Padahal baru saja saya melewati masa-masa dimana dia masih membujang, belum bertemu dengan sang calon istri. Saya dengan beliau sempat mempunyai ketertarikan yang sama terhadap brazilian jiu-jitsu (BJJ). Karena ukuran tubuh kami relatif sama, maka jadilah kami saling menjadi sparring partner satu sama lain. Olahraga judo yang dimodifikasi keluarga Gracie dari Brasil ini akhirnya menjadi santapan dalam beberapa bulan. Di atas matras, dua pria kelas bulu amatir ini jadi saling tarik-menarik, banting-bantingan, bergulat, saling cari celah untuk membuat lawannya menyerah dengan berbagai teknik kuncian, tanpa wasit, tanpa mempedulikan resiko cedera, keringat membanjiri tubuh, otot-otot bekerja sangat keras, namun kami tetap senang.
Tidak ada dendam dalam pertarungan ‘bohong-bohongan’ ini. Yang ada saling memberitahu kelemahan masing-masing. Saya selalu dikalahkannya, paling tinggi hanya bisa menahan seri, itupun karena sudah kehabisan nafas. Namun itu semua cepat berlalu, karena olahraga ini terlalu berat dan membutuhkan latihan yang sangat intens, perlahan tapi pasti pertarungan itu tidak pernah terjadi lagi.
Ada satu yang lucu dari perokok berat ini. Dia suka nonton film kartun One Piece saat minggu pagi, yang membuat dia enggan jika diajak latihan di hari tersebut. Hal ini menjadi bahan ejekan bagi saya dan teman-teman, masak usia sudah segitu masih nonton One Piece rek. Perbedaan usia saya dengan mas Yudho 11 tahun, betapa jauhnya. Tapi tidak ada kendala komunikasi hanya karena perbedaan usia itu. Ada yang bilang tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Berarti selama ini kita sudah saling dewasa-kah sehingga masih belum terjadi kendala komunikasi? :-) (atau Mas Yudo yang kekanak-kanakan, hahaha))
Namun terkadang sisi kekanak-kanakan tersebut perlu kita punyai. Bagaimanapun kita semua pernah jadi anak-anak. Mata berbinar-binar takjub saat menemukan sesuatu yang baru serta kepolosan ala anak-anak justru, bagi saya, adalah hal yang sangat menyenangkan. Mas Yudho punya sisi itu!
Sarjana teknik arsitektur ini akhirnya harus mengarsiteki bangunan kehidupannya, memasang fondasi cinta bagi gedung bernama keluarga bahagia yang akan segera dibangunnya. Adakah kawan tidak ikut berbahagia melihat ‘seniornya’ ini akan melepas masa lajangnya? Rasanya tidak ada, kami semua turut berbahagia atas ‘prestasi’ ini :-) Meneng-meneng moro-moro nggowo undangan rek!
Selamat berbahagia mas Yudho, kita semua berharap agar kehidupan rumah tangga yang akan dibina bisa langgeng, lancar rejekinya, serta sehat selalu.
Pesan nakal : Kuncian sing digawe ngunci aku ojo ‘dipraktekno’ yo mas, ojo banting-bantingan maneh saiki , sing lembut ngono loh :-)
Padahal baru saja saya melewati masa-masa dimana dia masih membujang, belum bertemu dengan sang calon istri. Saya dengan beliau sempat mempunyai ketertarikan yang sama terhadap brazilian jiu-jitsu (BJJ). Karena ukuran tubuh kami relatif sama, maka jadilah kami saling menjadi sparring partner satu sama lain. Olahraga judo yang dimodifikasi keluarga Gracie dari Brasil ini akhirnya menjadi santapan dalam beberapa bulan. Di atas matras, dua pria kelas bulu amatir ini jadi saling tarik-menarik, banting-bantingan, bergulat, saling cari celah untuk membuat lawannya menyerah dengan berbagai teknik kuncian, tanpa wasit, tanpa mempedulikan resiko cedera, keringat membanjiri tubuh, otot-otot bekerja sangat keras, namun kami tetap senang.
Tidak ada dendam dalam pertarungan ‘bohong-bohongan’ ini. Yang ada saling memberitahu kelemahan masing-masing. Saya selalu dikalahkannya, paling tinggi hanya bisa menahan seri, itupun karena sudah kehabisan nafas. Namun itu semua cepat berlalu, karena olahraga ini terlalu berat dan membutuhkan latihan yang sangat intens, perlahan tapi pasti pertarungan itu tidak pernah terjadi lagi.
Ada satu yang lucu dari perokok berat ini. Dia suka nonton film kartun One Piece saat minggu pagi, yang membuat dia enggan jika diajak latihan di hari tersebut. Hal ini menjadi bahan ejekan bagi saya dan teman-teman, masak usia sudah segitu masih nonton One Piece rek. Perbedaan usia saya dengan mas Yudho 11 tahun, betapa jauhnya. Tapi tidak ada kendala komunikasi hanya karena perbedaan usia itu. Ada yang bilang tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Berarti selama ini kita sudah saling dewasa-kah sehingga masih belum terjadi kendala komunikasi? :-) (atau Mas Yudo yang kekanak-kanakan, hahaha))
Namun terkadang sisi kekanak-kanakan tersebut perlu kita punyai. Bagaimanapun kita semua pernah jadi anak-anak. Mata berbinar-binar takjub saat menemukan sesuatu yang baru serta kepolosan ala anak-anak justru, bagi saya, adalah hal yang sangat menyenangkan. Mas Yudho punya sisi itu!
Sarjana teknik arsitektur ini akhirnya harus mengarsiteki bangunan kehidupannya, memasang fondasi cinta bagi gedung bernama keluarga bahagia yang akan segera dibangunnya. Adakah kawan tidak ikut berbahagia melihat ‘seniornya’ ini akan melepas masa lajangnya? Rasanya tidak ada, kami semua turut berbahagia atas ‘prestasi’ ini :-) Meneng-meneng moro-moro nggowo undangan rek!
Selamat berbahagia mas Yudho, kita semua berharap agar kehidupan rumah tangga yang akan dibina bisa langgeng, lancar rejekinya, serta sehat selalu.
Pesan nakal : Kuncian sing digawe ngunci aku ojo ‘dipraktekno’ yo mas, ojo banting-bantingan maneh saiki , sing lembut ngono loh :-)
Monday, February 26, 2007
South Pacific Islands
“An Extraordinary collection of accessible contemporary music from the beautiful and isolated tropical islands of the South Pacific.”Sajian musik yang khas dari Putumayo. Album kali ini menampilkan 11 lagu dan 7 artis. Grup Te Vaka dari New Zealand menyumbangkan lagu terbanyak dengan 4 lagu. Lagu-lagu dalam album ini didendangkan dengan bahasa lokal, sehingga tidak dapat saya mengerti artinya. Namun jangan kuatir, ada song meanings-nya dalam 3 bahasa, Inggris, Prancis dan Spanyol.
Jenis musik seperti ini memang langka di Indonesia, kalaupun ada seperti ini, harganya mahal. Namun salut untuk Putumayo yang mengumpulkan dan memperkenalkan musik-musik dari berbagai negara. Musisi Indonesia juga ada dalam album Reggae Playgroud (Tony Q Rastafara) dan Music from the Tea Lands (Ujang Suryana), dan mungkin masih ada yang lain
Begitu mendengar lagu pertama berjudul “Iuliana” yang dibawakan Te Vaka, saya langsung sangat tertarik, seperti lagu Hawai begitu deh yang berhubungan dengan pantai, tapi tidak 100% sama, ada yang khas dari musik pantai ala South Pacific.
Nah coba simak arti lagu Iuliana dalam bahasa Inggris:
“Saw you in my mind / Amazed at how beautiful you looked / Your ship has certainly landed / Good fortune has come / Brought by a change in your journey / New understanding for Iuliana / Newfound strenght for Iuliana / Bringing much joy for Iuliana.”
Ada juga yang bernada perlawanan. Pulau-pulau di Pasifik Selatan merupakan bekas koloni dari negara-negara Eropa seperti Prancis, Inggris bahkan Amerika Serikat, dan masih ada yang merupakan official territories dari negara-negara tersebut. Kita lihat lirik lagu berjudul “Watolea” (artinya: bendera) yang dibawakan oleh Gurejele (terjemahan dalam bahasa Inggris) :
“He arrived Like a thief / His flag was blue, white and red / And he just proclaimed / That this country would be his forever.”
Menarik kan?
Sambil berhitung dan berpikir sedikit lama, akhirnya saya memutuskan... beli!
ALBUM : South Pacific Islands
LABEL : Putumayo World Music
HARGA : Rp. 109.000,-
DAFTAR LAGU / ARTIS :
1. Iuliana / Te Vaka
2. Mana Ma’Ohi / Matato’a
3. Sei Ma Le Losa / Te Vaka
4. Abede / Telek
5. Haloa Olohega / Te Vaka
6. Nengone Nodegu / OK! Ryos
7. Wahine Whakairo / Whirimako Black
8. Nukukehe / Te Vaka
9. Siasi / O-shen
10. Co Era So / OK! Ryos
11. Watolea / Gurejele
Sambil berhitung dan berpikir sedikit lama, akhirnya saya memutuskan... beli!
ALBUM : South Pacific Islands
LABEL : Putumayo World Music
HARGA : Rp. 109.000,-
DAFTAR LAGU / ARTIS :
1. Iuliana / Te Vaka
2. Mana Ma’Ohi / Matato’a
3. Sei Ma Le Losa / Te Vaka
4. Abede / Telek
5. Haloa Olohega / Te Vaka
6. Nengone Nodegu / OK! Ryos
7. Wahine Whakairo / Whirimako Black
8. Nukukehe / Te Vaka
9. Siasi / O-shen
10. Co Era So / OK! Ryos
11. Watolea / Gurejele
Dian Sastro pun Bisa Merasa Jelek!
Siapa yang tidak kenal Dian Sastrowardoyo? Hampir semua laki-laki mengenalnya (perempuan juga tentunya). Dalam pembicaraan soal wanita di alam lelaki nama Dian Sastro seringkali disebutkan.Dian Sastro merupakan simbol...hmmm sebutlah, kecantikan seorang wanita atau acuan wanita berparas cantik itu seperti apa. Buktinya saya sering simak dalam beberapa acara lawak di TV misalnya, pelawak wanita yang bentuk fisiknya gemuk sering ngomong seperti ini, “Perkenalkan saya Dian Sastro!,” yang tentu saja bertujuan untuk memancing tawa para penonton. Pelawak pria pun tidak mau kalah. “Saya ini pacarnya Dian Sastro.” Coba bayangkan jika yang ngomong seperti ini Tukul Arwana, pasti penonton akan ketawa-ketiwi sepuas-puasnya.
Namun Dian Sastro ternyata bisa merasa jelek juga loh! Berikut pernyataan Dian pada halaman 40 koran Jawa Pos di bagian Radar Malang.
“Aku kalau lagi nggak merasa cantik, pasti nggak ramah sama orang. Tapi, kalau lagi merasa cantik, pasti ramah sekali. Sampai-sampai, orang yang nggak kenal pun aku sapa satu per satu.”Sebagai penutup,
“Padahal, orang yang lihat belum tentu pandangannya sama dengan aku. Bisa jadi, ketika aku merasa cantik, orang lain melihat sebaliknya”
Seseorang yang menjadi ikon kecantikan saja bisa merasa tidak cantik, bagaimana yang bukan? Belum tentu juga, saya rasa. Siapa yang bisa menebak isi kepala wanita yang misterius itu. Buktinya...Dian Sastro. Alasannya kalau sedang tidak ramah ternyata sangat mengejutkan, saya tidak menyangka :-)
Ah Dian... ada-ada saja. Saya belum pernah kok mendengar ada yang bilang kamu tidak cantik, apalagi ketika kamu merasa cantik.
Sumber: Jawa Pos edisi Senin 26 Februari 2007
Sunday, February 25, 2007
Catatan Perjalanan ke Surabaya IV – Take Me Home Country Road
Senin, ini hari dimana orang-orang kembali beraktivitas. Mereka yang masih sekolah harus upacara. Mereka yang ngantor harus kembali bekerja mengais rupiah. Pengangguran? Selalu hari Minggu untuk mereka. Ibu rumah tangga? Rata-rata bekerja di rumah, mengatur makanan, nonton infotainment, serta pergi ke sanggar senam atau ikut kelas yoga untuk menjaga penampilan.
Sebelum pulang saya masih sempat berkunjung ke beberapa tempat. Tempat pertama di STIKOM, kalau tidak salah kepanjangannya Sekolah Tinggi Ilmu Komputer. Saya kesini untuk mengunjungi kawan saya, ibu Okta yang pada hari-hari sebelumnya belum sempat ditemui. Beliau setiap kali ke Surabaya saya hampir selalu menginap di rumahnya, kecuali kedatangan saya kali ini. STIKOM adalah tempat dimana ia bekerja.
Dua kawan saya yang merupakan mahasiswa di kampus ini Toni dan Hendra tentunya sudah sangat paham lekuk tubuh kampusnya ini. Plus saya dan Poppy, kawan saya dari Unair, akan menjelajah kampus ini. Saya sudah pernah ke Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Kristen Petra di Surabaya, namun STIKOM baru kali ini, pengetahuan saya tentang kampus di Surabaya bertambah lagi.
Seperti biasa, sosok Okta yang bertubuh mungil ini menyambut dengan ramah. Kita mengobrol, tentang organisasi-lah, kabar masing-masing, diselingi bercanda sedikit. Tidak lama namun sudah cukup bagi saya, ini tempat kerja, jangan mengganggu orang yang sedang kerja berlama-lama.
Acara berikutnya tur kampus ini. Saya diajak berkeliling. Gedung kampus STIKOM dibuat tinggi sampai 8 lantai, jadinya jangan harap melihat area hijau disini, sedikit sekali.tapi tempat ini konon sangat ketat, mereka yang tidak memakai sepatu dan baju berkerah jangan harap bisa masuk. Tapi kami semua masuk memakai sandal dan berkaos kok, dengan alasan mau cari informasi soal pendaftaran, namun tetap diperingati oleh pak satpam, jangan ulangi lagi. Disiplin juga. Saya diajak naik sampai di tingkat tertinggi (kalau tidak salah lantai 8). Ada lapangan basket disana, yang bisa digunakan untuk bulutangkis juga acara wisuda. Three in one deh, serba guna.
Oh ya, di dalam gedung kampus tidak boleh, merokok!
Di tempat kuliah saya, Universitas Brawijaya (Unibraw), saya pernah diberi kuliah oleh dosen sambil merokok, pernah juga sambil mengawasi ujian dosen merokok di kelas. Bebas rokok. Maksudnya bebas merokok. Mahasiswa apalagi. Kita bebas merokok dimana saja. Mungkin karena model kampus Unibraw bukan gedung seperti di STIKOM, lahannya luas, antarfakultas jaraknya tidak terlalu berdekatan. Banyak tempat diluar kampus yang...katakanlah itu taman, terbuka, ada tempat duduknya untuk bersantai...sambil merokok. Mungkin karena terbuka itu sehingga kampus kami bebas merokok.
Kalau di STIKOM, asapnya akan terjebak di gedung sehingga membuat gedung penuh asap. Kenapa tidak disediakan ruang khusus perokok ya? Kita kan bukan anak SMA lagi yang bisa dilarang merokok. Nanti kan bisa tercipta komunitas “ruang perokok”. Siapa tahu disana banyak mengalir ide-ide segar. Saya bukan seorang perokok jadi tempat-tempat seperti itu tidak perlu bagi saya.
Bicara soal rokok, teman saya seorang perokok berat berkata kepada saya bahwa jika dihadapkan pada situasi memilih rokok atau makan, dia akan bingung katanya. Dua-duanya penting. Sewaktu nonton jazz 2 hari yang lalu, teman-teman saya para wanita dokter sangat terganggu dengan mereka yang merokok disampingnya. Dikibas-kibaskan tangan mereka untuk mencegah asap rokok, juga sebagai bahasa tubuh bahwa mereka terganggu, dengan harapan si perokok berhenti merokok. Saya belum pernah melihat cara ini efektif. Perokok tetap asik merokok. Perokok seharusnya menghargai mereka yang terganggu dengan asap rokoknya.
Apa sih enaknya merokok? Meskipun bukan perokok saya punya jawaban untuk pertanyaan ini. Bagi saya saat yang paling enak untuk menyulut batang tembakau itu adalah sehabis makan dengan perut kenyang! Entah, bagi saya nikmat sekali saat-saat sehabis puas makan lalu merokok. Ah, tapi saya tidak kecanduan dan sangat jarang melakukannya. Saya adalah perokok insidental, merokok kalau ditawarkan sebagai lambang persahabatan, dalam sebulan belum tentu ada sekali merokok. Membeli rokok artinya pengeluaran tambahan.
Tujuan berikut setelah berkeliling kampus STIKOM adalah Unair. Kawan saya Poppy ada keperluan sebentar di kampusnya, di fakutas psikologi. Ini kedatangan saya ketiga kalinya ke Unair. Entah ada perubahan atau tidak, karena tidak terlalu memperhatikan keadaan dulu dengan saat ini.
Bukan bermaksud menganggap kampus sendiri lebih baik, tapi penilaian saya Unair kurang hijau, maksudnya kurang banyak tanamannya. Jarak antarfakultasnya terlalu dekat, sehingga terkesan sempit. Namun ada kesamaan dengan Unibraw, ya...apalagi kalau bebas merokok. Lahan Unair lebih luas dari STIKOM. Ini kampus B katanya, kampus A untuk kedokteran, dan masih ada kampus C yang letaknya agak jauh, seingat saya keterangannya seperti itu.
Persinggahan terakhir sebelum pulang yaitu gedung BLPT. Entah apa kepanjangannya. Teman-teman ingin survey harga untuk menyewa gedung ini yang akan dipakai untuk sebuah kegiatan nanti di bulan Mei.
Akhirnya, saya harus pulang ke Malang, Take Me Home Country Roads, mengutip judul lagu John Denver. Sejuknya udara Malang membuat kangen. Jajaran pegunungan yang indah, mountain momma! Minum STMJ di malam hari benar-benar nikmat. Berakhir sudah perjalanan ke Surabaya kali ini, namun ke depan pastinya akan ke Surabaya lagi. Sayonara Surabaya!
Terima kasih saya ucapkan kepada:
- dr. Lisa, dr. Olivia, dr. Yuli dan rekan-rekannya. (Sudah dokter semua akhirnya)
- Hendra sudah mau ‘menampung’, transportasinya, makan paginya :)
- Toni, Poppy, Dian untuk jalan-jalannya.
- Himawan, Okta, Maisy, Rudi, Youngky, Shanty tidak sempat ngobrol banyak tapi sudah bisa ketemu saya sudah senang :)
Sebelum pulang saya masih sempat berkunjung ke beberapa tempat. Tempat pertama di STIKOM, kalau tidak salah kepanjangannya Sekolah Tinggi Ilmu Komputer. Saya kesini untuk mengunjungi kawan saya, ibu Okta yang pada hari-hari sebelumnya belum sempat ditemui. Beliau setiap kali ke Surabaya saya hampir selalu menginap di rumahnya, kecuali kedatangan saya kali ini. STIKOM adalah tempat dimana ia bekerja.
Dua kawan saya yang merupakan mahasiswa di kampus ini Toni dan Hendra tentunya sudah sangat paham lekuk tubuh kampusnya ini. Plus saya dan Poppy, kawan saya dari Unair, akan menjelajah kampus ini. Saya sudah pernah ke Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Kristen Petra di Surabaya, namun STIKOM baru kali ini, pengetahuan saya tentang kampus di Surabaya bertambah lagi.
Seperti biasa, sosok Okta yang bertubuh mungil ini menyambut dengan ramah. Kita mengobrol, tentang organisasi-lah, kabar masing-masing, diselingi bercanda sedikit. Tidak lama namun sudah cukup bagi saya, ini tempat kerja, jangan mengganggu orang yang sedang kerja berlama-lama.
Acara berikutnya tur kampus ini. Saya diajak berkeliling. Gedung kampus STIKOM dibuat tinggi sampai 8 lantai, jadinya jangan harap melihat area hijau disini, sedikit sekali.tapi tempat ini konon sangat ketat, mereka yang tidak memakai sepatu dan baju berkerah jangan harap bisa masuk. Tapi kami semua masuk memakai sandal dan berkaos kok, dengan alasan mau cari informasi soal pendaftaran, namun tetap diperingati oleh pak satpam, jangan ulangi lagi. Disiplin juga. Saya diajak naik sampai di tingkat tertinggi (kalau tidak salah lantai 8). Ada lapangan basket disana, yang bisa digunakan untuk bulutangkis juga acara wisuda. Three in one deh, serba guna.
Oh ya, di dalam gedung kampus tidak boleh, merokok!
Di tempat kuliah saya, Universitas Brawijaya (Unibraw), saya pernah diberi kuliah oleh dosen sambil merokok, pernah juga sambil mengawasi ujian dosen merokok di kelas. Bebas rokok. Maksudnya bebas merokok. Mahasiswa apalagi. Kita bebas merokok dimana saja. Mungkin karena model kampus Unibraw bukan gedung seperti di STIKOM, lahannya luas, antarfakultas jaraknya tidak terlalu berdekatan. Banyak tempat diluar kampus yang...katakanlah itu taman, terbuka, ada tempat duduknya untuk bersantai...sambil merokok. Mungkin karena terbuka itu sehingga kampus kami bebas merokok.
Kalau di STIKOM, asapnya akan terjebak di gedung sehingga membuat gedung penuh asap. Kenapa tidak disediakan ruang khusus perokok ya? Kita kan bukan anak SMA lagi yang bisa dilarang merokok. Nanti kan bisa tercipta komunitas “ruang perokok”. Siapa tahu disana banyak mengalir ide-ide segar. Saya bukan seorang perokok jadi tempat-tempat seperti itu tidak perlu bagi saya.
Bicara soal rokok, teman saya seorang perokok berat berkata kepada saya bahwa jika dihadapkan pada situasi memilih rokok atau makan, dia akan bingung katanya. Dua-duanya penting. Sewaktu nonton jazz 2 hari yang lalu, teman-teman saya para wanita dokter sangat terganggu dengan mereka yang merokok disampingnya. Dikibas-kibaskan tangan mereka untuk mencegah asap rokok, juga sebagai bahasa tubuh bahwa mereka terganggu, dengan harapan si perokok berhenti merokok. Saya belum pernah melihat cara ini efektif. Perokok tetap asik merokok. Perokok seharusnya menghargai mereka yang terganggu dengan asap rokoknya.
Apa sih enaknya merokok? Meskipun bukan perokok saya punya jawaban untuk pertanyaan ini. Bagi saya saat yang paling enak untuk menyulut batang tembakau itu adalah sehabis makan dengan perut kenyang! Entah, bagi saya nikmat sekali saat-saat sehabis puas makan lalu merokok. Ah, tapi saya tidak kecanduan dan sangat jarang melakukannya. Saya adalah perokok insidental, merokok kalau ditawarkan sebagai lambang persahabatan, dalam sebulan belum tentu ada sekali merokok. Membeli rokok artinya pengeluaran tambahan.
Tujuan berikut setelah berkeliling kampus STIKOM adalah Unair. Kawan saya Poppy ada keperluan sebentar di kampusnya, di fakutas psikologi. Ini kedatangan saya ketiga kalinya ke Unair. Entah ada perubahan atau tidak, karena tidak terlalu memperhatikan keadaan dulu dengan saat ini.
Bukan bermaksud menganggap kampus sendiri lebih baik, tapi penilaian saya Unair kurang hijau, maksudnya kurang banyak tanamannya. Jarak antarfakultasnya terlalu dekat, sehingga terkesan sempit. Namun ada kesamaan dengan Unibraw, ya...apalagi kalau bebas merokok. Lahan Unair lebih luas dari STIKOM. Ini kampus B katanya, kampus A untuk kedokteran, dan masih ada kampus C yang letaknya agak jauh, seingat saya keterangannya seperti itu.
Persinggahan terakhir sebelum pulang yaitu gedung BLPT. Entah apa kepanjangannya. Teman-teman ingin survey harga untuk menyewa gedung ini yang akan dipakai untuk sebuah kegiatan nanti di bulan Mei.
Akhirnya, saya harus pulang ke Malang, Take Me Home Country Roads, mengutip judul lagu John Denver. Sejuknya udara Malang membuat kangen. Jajaran pegunungan yang indah, mountain momma! Minum STMJ di malam hari benar-benar nikmat. Berakhir sudah perjalanan ke Surabaya kali ini, namun ke depan pastinya akan ke Surabaya lagi. Sayonara Surabaya!
Terima kasih saya ucapkan kepada:
- dr. Lisa, dr. Olivia, dr. Yuli dan rekan-rekannya. (Sudah dokter semua akhirnya)
- Hendra sudah mau ‘menampung’, transportasinya, makan paginya :)
- Toni, Poppy, Dian untuk jalan-jalannya.
- Himawan, Okta, Maisy, Rudi, Youngky, Shanty tidak sempat ngobrol banyak tapi sudah bisa ketemu saya sudah senang :)
Catatan Perjalanan ke Surabaya III – Coklat Valentine dan Tempat Ibadah
Hari minggu yang cerah, terima kasih untuk kawan saya Hendra yang sudah ‘menampung’ saya selama di Surabaya :) Dia berjanji mau mengajak makan model prasmanan setelah sebelumnya di Malang saya sempat mengajak makan dengan model sejenis. Ambil sendiri. Seperti swalayan. Bedanya yang ditawarkan disini adalah makanan. Sebanyak apapun nasi yang kita ambil harganya akan sama, namun yang belum pernah saya coba, bagaimana cara menghitung harga yang harus dibayar jika sayur yang saya ambil sangat banyak misalnya? Atau disela-sela saat makan saya ingin tambah sayur apakah harga yang dibayar akan bertambah atau tidak? Saya ingin coba suatu saat, tapi untuk hari ini tidak dulu. Lumayan enak juga makanan di warungnya itu.
Sorenya saya kembali diajak ke mall lain yaitu Pakuwon Trade Center (PTC). Seperti biasa isinya itu-itu saja.
Pernak-pernik imlek dan valentine mewarnai suasana mall. Bagi mereka yang akan merayakan hari valentine, parade bunga, boneka, coklat, serta pernak-pernik bergambar hati yang berwarna merah muda siap dibeli. Merah muda..? itu kan warna yang dihubungkan dengan warna perempuan.
Asumsinya, itu kado yang harus diberikan untuk wanita. Terus untuk pria apa dong hadiahnya? Masak cuma coklat atau bunga? Boneka kan leih mahal harganya? Hahaha, katanya cinta tidak boleh diukur dengan uang.
Valentine diasosiasikan dengan ungkapan cinta sepertinya lebih kepada mereka anak muda yang masih pacaran. Ada ungkapan saat pacaran tahi pun rasa coklat, nah hati-hati terhadap coklat valentine yang Anda terima dari pasangan Anda, teliti dulu dengan seksama, jangan-jangan.... :)
Oh iya, ada yang beda di mall PTC. Disini ini ada tempat ibadah! (Saya tidak perlu menyebutkan tempat ibadah umat apa). Di dalam mall-nya lho, bukan di parkirannya.
Tempat ibadah rupanya mengikuti selera jaman juga rupanya, mungkin ini salah satu strategi untuk merangsang anak muda agar mau datang beribadah dan juga bagi yang sudah berkeluarga biar sekalian rekreasi ke mall setelah beribadah.
Adakah tempat-tempat ibadah jaman sekarang melahirkan tokoh-tokoh agama yang bisa dimiliki semua agama seperti Romo Mangun, Romo Sandyawan, Gus Dur, Cak Nun, atau tokoh pembela HAM seperti Munir dan lain-lain?
Saya belakangan meragukan itu. Banyak orang-orang yang mengagung-agungkan agamanya dengan berlebihan sampai memandang agama lain itu jelek, salah, sesat dan berbagai cap lain. Ini bibit-bibit yang menimbulkan perpecahan dan konflik. Sedihnya kita di Indonesia masih rentan terhadap hal yang satu ini. Membunuh orang yang tidak seagama dianggap pantas karena mereka telah melecehkan Tuhan kita. Ada yang menganggap selama rajin berdoa maka dosa-dosa akan diampuni Tuhan, meskipun banyak melakukan kejahatan, mereka akan tetap masuk surga karena Tuhan akan mencintai mereka yang tidak melupakannya. Mereka yang beragama belum tentu lebih baik dari mereka yang tidak beragama, begitu pula sebaliknya, vice versa.
Dalam buku “Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi”, ada dialog yang sangat menarik antara Ulil Abshar-Abdalla dengan Munir. Munir rupanya pernah mengalami fase ekstremitas dalam beragama. Antara tahun 1984-1989 tasnya tidak pernah kosong dari senjata tajam. Agama harus menjadi maslahat (manfaat, win) bagi manusia. (hal. 230). Islam harus memihak pada pihak yang dizalimi. Jadi, Islam tidak memihak kepada Islam, tapi memihak kepada yang dizalimi demi minciptakan keadilan (hal. 232). Dia sepakat kalau Islam menjadi energi bagi kaum tertindas untuk melawan penindasan (hal. 234). Sangat jelas jika dalam kenyataannya Munir tidak pernah membeda-bedakan siapa yang akan dia bela.
Bhikku Maha Ghosananda, seorang pemimpin umat buddha di Kamboja, berkata: Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan vihara kita dan memasui “vihara pengalaman manusia”. Kamp-kamp pengungsian, penjara-penjara, pemukiman kaum minoritas, dan medan-medan pertempuran akan menjadi vihara kita. Beliau berada di Kamboja dalam situasi kehancuran dan pembantaian saat rejim Khmer Merah berkuasa yang menekan dirinya juga.
Huah, memang jenuh dan kadang mengecewakan jika melihat masih belum selesainya konflik yang terjadi di tanah air. Setidaknya apa yang bisa kita lakukan sekecil apapun, mari kita lakukan demi tercapainya perdamaian, setuju?
Hujan deras mengguyur Surabaya malam ini, sewaktu kita makan. Surabaya jelang jam 22.00 masih belum sepi. Di Malang sebelum jam 21.00 jalan sudah mulai sepi. Perbedaan antara kota besar dan kota kecil. Untung tidak hujan kemarin sewaktu nonton jazz. Saya masih tinggal di Surabaya sampai besok, karena kegiatan perkuliahahan masih belum berjalan alias libur. Sweet dream, Surabaya!
Bahan Bacaan:
1. JUDUL : Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi
PENULIS : Merupakan kumpulan tulisan kolega-kolega Munir
EDITOR : Willy Pramudya
PENERBIT : Gagas media, Jakarta, 2004
TEBAL : 290 halaman
2. JUDUL : Doa Sang Pembawa Damai
PENULIS : Maha Ghosananda
PENERJEMAH : Daniel Johan W dan Eddy Setiawan
PENERBIT : Yayasan Pencerahan dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Malang, Malang, 2003
TEBAL : 88 halaman
3. JUDUL : Berita KontraS
EDISI : No. 05 / IX-X / 2004
4. JUDUL : Perzinahan Suci
PENULIS : Aris Wahyudi
PENERBIT : Voxdei Publications, (tempat tidak tercantum), 2005
TEBAL : 311 halaman
Sorenya saya kembali diajak ke mall lain yaitu Pakuwon Trade Center (PTC). Seperti biasa isinya itu-itu saja.
Pernak-pernik imlek dan valentine mewarnai suasana mall. Bagi mereka yang akan merayakan hari valentine, parade bunga, boneka, coklat, serta pernak-pernik bergambar hati yang berwarna merah muda siap dibeli. Merah muda..? itu kan warna yang dihubungkan dengan warna perempuan.
Asumsinya, itu kado yang harus diberikan untuk wanita. Terus untuk pria apa dong hadiahnya? Masak cuma coklat atau bunga? Boneka kan leih mahal harganya? Hahaha, katanya cinta tidak boleh diukur dengan uang.
Valentine diasosiasikan dengan ungkapan cinta sepertinya lebih kepada mereka anak muda yang masih pacaran. Ada ungkapan saat pacaran tahi pun rasa coklat, nah hati-hati terhadap coklat valentine yang Anda terima dari pasangan Anda, teliti dulu dengan seksama, jangan-jangan.... :)
Oh iya, ada yang beda di mall PTC. Disini ini ada tempat ibadah! (Saya tidak perlu menyebutkan tempat ibadah umat apa). Di dalam mall-nya lho, bukan di parkirannya.
Tempat ibadah rupanya mengikuti selera jaman juga rupanya, mungkin ini salah satu strategi untuk merangsang anak muda agar mau datang beribadah dan juga bagi yang sudah berkeluarga biar sekalian rekreasi ke mall setelah beribadah.
Adakah tempat-tempat ibadah jaman sekarang melahirkan tokoh-tokoh agama yang bisa dimiliki semua agama seperti Romo Mangun, Romo Sandyawan, Gus Dur, Cak Nun, atau tokoh pembela HAM seperti Munir dan lain-lain?
Saya belakangan meragukan itu. Banyak orang-orang yang mengagung-agungkan agamanya dengan berlebihan sampai memandang agama lain itu jelek, salah, sesat dan berbagai cap lain. Ini bibit-bibit yang menimbulkan perpecahan dan konflik. Sedihnya kita di Indonesia masih rentan terhadap hal yang satu ini. Membunuh orang yang tidak seagama dianggap pantas karena mereka telah melecehkan Tuhan kita. Ada yang menganggap selama rajin berdoa maka dosa-dosa akan diampuni Tuhan, meskipun banyak melakukan kejahatan, mereka akan tetap masuk surga karena Tuhan akan mencintai mereka yang tidak melupakannya. Mereka yang beragama belum tentu lebih baik dari mereka yang tidak beragama, begitu pula sebaliknya, vice versa.
Dalam buku “Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi”, ada dialog yang sangat menarik antara Ulil Abshar-Abdalla dengan Munir. Munir rupanya pernah mengalami fase ekstremitas dalam beragama. Antara tahun 1984-1989 tasnya tidak pernah kosong dari senjata tajam. Agama harus menjadi maslahat (manfaat, win) bagi manusia. (hal. 230). Islam harus memihak pada pihak yang dizalimi. Jadi, Islam tidak memihak kepada Islam, tapi memihak kepada yang dizalimi demi minciptakan keadilan (hal. 232). Dia sepakat kalau Islam menjadi energi bagi kaum tertindas untuk melawan penindasan (hal. 234). Sangat jelas jika dalam kenyataannya Munir tidak pernah membeda-bedakan siapa yang akan dia bela.
Bhikku Maha Ghosananda, seorang pemimpin umat buddha di Kamboja, berkata: Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan vihara kita dan memasui “vihara pengalaman manusia”. Kamp-kamp pengungsian, penjara-penjara, pemukiman kaum minoritas, dan medan-medan pertempuran akan menjadi vihara kita. Beliau berada di Kamboja dalam situasi kehancuran dan pembantaian saat rejim Khmer Merah berkuasa yang menekan dirinya juga.
Huah, memang jenuh dan kadang mengecewakan jika melihat masih belum selesainya konflik yang terjadi di tanah air. Setidaknya apa yang bisa kita lakukan sekecil apapun, mari kita lakukan demi tercapainya perdamaian, setuju?
Hujan deras mengguyur Surabaya malam ini, sewaktu kita makan. Surabaya jelang jam 22.00 masih belum sepi. Di Malang sebelum jam 21.00 jalan sudah mulai sepi. Perbedaan antara kota besar dan kota kecil. Untung tidak hujan kemarin sewaktu nonton jazz. Saya masih tinggal di Surabaya sampai besok, karena kegiatan perkuliahahan masih belum berjalan alias libur. Sweet dream, Surabaya!
Bahan Bacaan:
1. JUDUL : Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi
PENULIS : Merupakan kumpulan tulisan kolega-kolega Munir
EDITOR : Willy Pramudya
PENERBIT : Gagas media, Jakarta, 2004
TEBAL : 290 halaman
2. JUDUL : Doa Sang Pembawa Damai
PENULIS : Maha Ghosananda
PENERJEMAH : Daniel Johan W dan Eddy Setiawan
PENERBIT : Yayasan Pencerahan dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Malang, Malang, 2003
TEBAL : 88 halaman
3. JUDUL : Berita KontraS
EDISI : No. 05 / IX-X / 2004
4. JUDUL : Perzinahan Suci
PENULIS : Aris Wahyudi
PENERBIT : Voxdei Publications, (tempat tidak tercantum), 2005
TEBAL : 311 halaman
Catatan Perjalanan ke Surabaya II – Singa Tua Mengaum!
Malam minggu, jalanan di Surabaya dijejali berbagai jenis kendaraan bermotor, padat sekali. Kami akan menonton pertunjukan jazz. Saya dijemput oleh teman di Malang dulu yang sekarang tinggal di Surabaya, ibu dokter Yuli, yang sekarang kuliah lagi mengambil spesialis ortopedi di Unair. Bersama dua temannya yang semuanya wanita dan dokter. Kebetulan teman barengan saya yang dijemput juga dokter, jadilah saya menjadi pria satu-satunya dalam mobil diapit oleh 4 wanita para dokter.
Berbagai kata-kata asing meluncur dari mulut mereka, bukan soal mall, gaya hidup, kosmetik melainkan istilah-istilah yang berhubungan dengan rumah sakit dan sejenisnya. Tidak ada yang saya mengerti. Mereka orang-orang yang sibuk di rumah sakit tiap harinya, para dokter muda yang mengambil spesialis, wanita pula.
Nah, jaman sekarang wanita tidak boleh lagi dianggap konco wingking yang ikut saja dengan suami dan hanya memasak di dapur. Mereka ini wanita-wanita yang punya kesibukan dan karir. Bagi pria yang masih biasa hidup dalam budaya patriarki jangan harap bisa punya pasangan seorang dokter :)
Tema pertunjukan jazz kali ini adalah Jazz Under the Stars, tempatnya terbuka tapi tetap dipasang tenda, namun syukurlah hujan tidak melanda padahal beberapa hari ini sering hujan katanya. Kami sempat kehabisan tempat, petugasnya sudah berseru, ”TIKET HABIS!” Apa! Yang benar saja...sudah jauh-jauh nih. Kami berada dalam situasi dipertimbangkan karena mereka masih melihat apa masih ada ruang yang bisa dijadikan tempat, menunggu sambil harap-harap cemas, dan...syukurlah masih dapat tempat! Lega... ternyata animo pencinta jazz di Surabaya besar sekali. Kami dapat bonus rokok 1 bungkus dari sponsor, serta minuman.
Band-band lokal yang mengusung musik jazz ditampilkan terlebih dahulu, Jazzy News dan Weekend Project. Para musisi muda ini memang patut diberi panggung untuk mempertunjukkan kemampuan, dan yang paling berharga adalah mendapatkan pengalaman, agar menjadi musisi dengan nama besar kelak.
Akhirnya penampilan yang trio PIG naik ke panggung. Mereka membawakan 4 lagu instrumental. Pra Budidharma pada bas, Gilang Ramadhan menabuh drum, dan Indra Lesmana memainkan alat musik tiup yang ada tutsnya serta keyboard. Komposisi mereka sangat menarik. Kadang di tengah-tengah lagu masing-masing dari mereka berimprovisasi dengan alat musik masing-masing. Tabuhan drum Gilang Ramadhan yang mendapatkan tepuk tangan paling meriah. PIG sudah bermain bersama sejak 1986, waktu yang cukup lama untuk saling mengenal karakter masing-masing. Lagu terakhir dari mereka berupa aransemen dari lagu “Begadang” karya Rhoma Irama, lagunya dibuat menjadi bernuansa jazzy, keren banget!
Setelah tampil bertiga, kini saatnya berkolaborasi dengan sang maestro, Bubi Chen! Om Bubi, begitu beliau biasa disapa, merupakan musisi jazz tanah air yang begitu disegani. Lahir di Surabaya, 9 Februari 1938, om Bubi sejak kecil sudah belajar piano klasik. Namun jazz adalah dunianya. Om Bubi belajar jazz secara otodidak melalui kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957.
Kondisi fisiknya sudah mulai menurun, beliau berjalan dengan bantuan tongkat. Tapi begitu di panggung dan meminkan beberapa nada saja, penonton sudah bersorak dan bertepuk tangan. Luar biasa! Singa tua sedang mengaum! Bubi Chen masih ada, benar-benar seorang musisi besar, penampilannya begitu sederhana dan bersahaja. Beliau masih sanggup menghibur kita semua lewat musiknya.
Bersama Indra Lesmana om Bubi saling berbalas lick jazz. Gaya solo duel semacam ini mendapat sambutan sangat meriah, dalam dunia jazz sepertinya ini cara yang efektif untuk meraih perhatian, setidaknya itu yang disarankan Joe Bennett dalam bukunya.
Lagu pertama kolaborasi itu sangat ketal nuansa jazz dan blues. Penonton mengiringi dengan tepuk tangan, apalagi saat piano om Bubi dimainkan juga oleh Indra Lesmana bersama-sama, berbagi piano, unsur hiburan dalam suatu pertunjukan sangat mutlak agar penonton terhibur. Tidak menyesal menonton pertunjukan seperti ini apalagi jarang, konon ini penampilan PIG yang pertama di kota Surabaya.
Malam ini sangat istimewa, sayang saya tidak sempat minta foto dengan Bubi Chen, padahal beliau tidak dikerubutin penggemar, agak ragu mendekati beliau yang duduk di depan. Tapi kami semua sudah sangat terhibur dengan tontonan yang berkualitas. Malam sampai sekitar jam 23 acara berakhir. Lelah juga hari ini setelah keliling mall dan nonton jazz. Saatnya istirahat!
Bahan bacaan:
1. JUDUL : Cara Cepat dan Mudah Menjadi Gitaris Jazz Andal.
PENULIS : Joe Bennett.
PENERBIT : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004
Berita terkait: wartajazz
Berbagai kata-kata asing meluncur dari mulut mereka, bukan soal mall, gaya hidup, kosmetik melainkan istilah-istilah yang berhubungan dengan rumah sakit dan sejenisnya. Tidak ada yang saya mengerti. Mereka orang-orang yang sibuk di rumah sakit tiap harinya, para dokter muda yang mengambil spesialis, wanita pula.
Nah, jaman sekarang wanita tidak boleh lagi dianggap konco wingking yang ikut saja dengan suami dan hanya memasak di dapur. Mereka ini wanita-wanita yang punya kesibukan dan karir. Bagi pria yang masih biasa hidup dalam budaya patriarki jangan harap bisa punya pasangan seorang dokter :)
Tema pertunjukan jazz kali ini adalah Jazz Under the Stars, tempatnya terbuka tapi tetap dipasang tenda, namun syukurlah hujan tidak melanda padahal beberapa hari ini sering hujan katanya. Kami sempat kehabisan tempat, petugasnya sudah berseru, ”TIKET HABIS!” Apa! Yang benar saja...sudah jauh-jauh nih. Kami berada dalam situasi dipertimbangkan karena mereka masih melihat apa masih ada ruang yang bisa dijadikan tempat, menunggu sambil harap-harap cemas, dan...syukurlah masih dapat tempat! Lega... ternyata animo pencinta jazz di Surabaya besar sekali. Kami dapat bonus rokok 1 bungkus dari sponsor, serta minuman.
Band-band lokal yang mengusung musik jazz ditampilkan terlebih dahulu, Jazzy News dan Weekend Project. Para musisi muda ini memang patut diberi panggung untuk mempertunjukkan kemampuan, dan yang paling berharga adalah mendapatkan pengalaman, agar menjadi musisi dengan nama besar kelak.
Akhirnya penampilan yang trio PIG naik ke panggung. Mereka membawakan 4 lagu instrumental. Pra Budidharma pada bas, Gilang Ramadhan menabuh drum, dan Indra Lesmana memainkan alat musik tiup yang ada tutsnya serta keyboard. Komposisi mereka sangat menarik. Kadang di tengah-tengah lagu masing-masing dari mereka berimprovisasi dengan alat musik masing-masing. Tabuhan drum Gilang Ramadhan yang mendapatkan tepuk tangan paling meriah. PIG sudah bermain bersama sejak 1986, waktu yang cukup lama untuk saling mengenal karakter masing-masing. Lagu terakhir dari mereka berupa aransemen dari lagu “Begadang” karya Rhoma Irama, lagunya dibuat menjadi bernuansa jazzy, keren banget!
Setelah tampil bertiga, kini saatnya berkolaborasi dengan sang maestro, Bubi Chen! Om Bubi, begitu beliau biasa disapa, merupakan musisi jazz tanah air yang begitu disegani. Lahir di Surabaya, 9 Februari 1938, om Bubi sejak kecil sudah belajar piano klasik. Namun jazz adalah dunianya. Om Bubi belajar jazz secara otodidak melalui kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957.
Kondisi fisiknya sudah mulai menurun, beliau berjalan dengan bantuan tongkat. Tapi begitu di panggung dan meminkan beberapa nada saja, penonton sudah bersorak dan bertepuk tangan. Luar biasa! Singa tua sedang mengaum! Bubi Chen masih ada, benar-benar seorang musisi besar, penampilannya begitu sederhana dan bersahaja. Beliau masih sanggup menghibur kita semua lewat musiknya.
Bersama Indra Lesmana om Bubi saling berbalas lick jazz. Gaya solo duel semacam ini mendapat sambutan sangat meriah, dalam dunia jazz sepertinya ini cara yang efektif untuk meraih perhatian, setidaknya itu yang disarankan Joe Bennett dalam bukunya.
Lagu pertama kolaborasi itu sangat ketal nuansa jazz dan blues. Penonton mengiringi dengan tepuk tangan, apalagi saat piano om Bubi dimainkan juga oleh Indra Lesmana bersama-sama, berbagi piano, unsur hiburan dalam suatu pertunjukan sangat mutlak agar penonton terhibur. Tidak menyesal menonton pertunjukan seperti ini apalagi jarang, konon ini penampilan PIG yang pertama di kota Surabaya.
Malam ini sangat istimewa, sayang saya tidak sempat minta foto dengan Bubi Chen, padahal beliau tidak dikerubutin penggemar, agak ragu mendekati beliau yang duduk di depan. Tapi kami semua sudah sangat terhibur dengan tontonan yang berkualitas. Malam sampai sekitar jam 23 acara berakhir. Lelah juga hari ini setelah keliling mall dan nonton jazz. Saatnya istirahat!
Bahan bacaan:
1. JUDUL : Cara Cepat dan Mudah Menjadi Gitaris Jazz Andal.
PENULIS : Joe Bennett.
PENERBIT : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004
Berita terkait: wartajazz
Catatan Perjalanan ke Surabaya I – Susah Bensin Ya.... Jalan Kaki!
Sudah berulang kali saya ke Surabaya, namun kedatangan kali dengan tujuan khusus yaitu nonton pertunjukan jazz, tanggal 10 Februari 2007. Pertunjukan jazz ini menampilkan trio Pra Budidharma, Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan, yang menamakan trio mereka PIG (diambil dari inisial masing-masing). Bubi Chen sang legendaris juga akan tampil dengan nama-nama kondang itu, belumnya kedatangan saya ke Surabaya biasanya kalau tidak rapat organisasi ya ikut kegiatan, yang juga digalang organisasi, kali ini saya mau bersenang-senang! Syukurlah teman-teman saya di Surabaya menyambut dengan hangat dan berbaik hati mau menemani saya.
Karena pertunjukannya masih lama yaitu sekitar jam 20.00, maka dari pagi jalan-jalan dulu dengan dua kawan saya. Sebagai orang yang sudah terbiasa dengan udara sejuk dan lalu lintas yang tidak padat di Malang, kota Surabaya menjadi tidak terlalu bersahabat dalam hal ini, uh...panasnya minta ampun! Sinar mataharinya sangat terik menyengat.
Sebagai kota terbesar kedua dan seperti sebagian kota besar (atau mau jadi besar) di Indonesia, kunjungan wisata utama Surabaya adalah mall, surga belanja. Di Malang, saya bisa dengan mudah menikmati nuansa alam yang sejuk di daerah Batu jika sedang ingin melepas jenuh (namun Malang juga sedang gencar mau menambah mall-nya). Di sana, kita bisa makan jagung ataupun sekedar minum kopi bahkan di tempat tertentu kita tidak perlu belanja hanya untuk sekedar duduk dan bercakap-cakap.
Surabaya memang tidak memiliki tempat seperti ini, namun bagi saya alasan tersebut tetap tidak bisa dijadikan pembenaran untuk terus-menerus membangun surga belanja yang makin bertebaran di sisi-sisi kota Surabaya, yang makin memicu budaya konsumtif di masyarakat. Kita juga terus dijejali iklan-iklan dari berbagai produk di kiri-kanan jalan, BERBAGAI PRODUK lho..termasuk (maaf) kondom, bisa ditemukan di lokasi legendaris gang Dolly, hebat kan hehe. Iklan-iklan tersebut membuat keindahan jalan di Surabaya makin tidak beraturan.
Saya diajak ke Tunjungan Plasa (TP). Bagi saya setiap mall hampir tidak ada bedanya, selain fisik bangunannya, isinya itu-itu saja, menawarkan berbagai macam produk yang lebih mahal dari biasanya. Begitu masuk ke TP seperti menemukan oase di tengah gurun, sejuk sekali udaranya karena tiupan AC, perubahan udaranya drastis sekali.
TP menjadi ikon Surabaya, selain Tugu Pahlawan, Kebun Binatang Surabaya, Hotel Majapahit, dll. Pasca-kemerdekaan mall-mall seperti ini yang akan berdiri sejajar sebagai ikon dengan monumen-monumen bersejarah lainnya. Mall ini besar sekali dan bertingkat-tingkat, berkeliling disana membuat kaki pegal, apalagi hanya melihat-lihat, tidak ada yang dibeli.
Sebagai selingan, pemandangan lain yang dilihat adalah pengunjungnya, terutama para wanitanya hehe. Wanita dengan berbagai model dandanan dan busana bisa dipandang disini. Yang terlintas di pikiran saya, kalau punya pasangan sejenis ini misalnya pasti saya akan diputusin terus (alih-alih dapat pasangan begini, dilirik aja mungkin tidak, tapi namanya juga pengandaian) karena pasti tidak sanggup dan tidak akan mau menghabiskan uang untuk keperluan yang berlebihan.
Saya punya rekan seorang wanita (kebetulan dia tinggal di Surabaya untuk kuliah) yang sangat memperhatikan penampilan, mulai model rambut, kosmetik, bentuk tubuh, pakaian, tas, sepatu, perhiasan, facial, pelangsing bahkan telepon genggam dan sebagainya. Syukurlah dia dapat pria yang berduit. Untuk sekali mewarnai rambut biayanya 800 ribu, facial sepertinya 200-300 ribu, bahkan yang paling fanstastis kalau tidak salah dia pernah membeli lotion pemutih import seharga 2 juta! Belum lagi tiap minggu ke mall, nonton ke biskop atau makan. Kasihan orang tuanya yang harus membiayai semua itu.
Hmmm... betapa pentingnya mengendalikan keinginan-keinginan yang selalu muncul dalam pikiran kita, tidak semua kita butuhkan. Dalam beberapa edisi di Oprah Winfrey Show, ada contoh kasus keluarga yang kondisi keuangannya sekarat karena tidak bisa mengendalikan keinginan untuk beli ini-beli itu, sehingga dibutuhkan konsultan keuangan untuk menyelamatkan kondisi keuangan mereka, yang pada intinya konsultan keuangan itu hanya mengontrol pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan. (Oprah’s Debt Diet)
Cerita mulai melebar hehe, tapi nanti kembali lagi soal uang. Setelah lelah keliling mall, kami singgah di tempat makan. Sambil ngobrol santai, teman saya lalu membuka pembicaraan yang kurang-lebih seperti ini, ”Berapa ya penghasilan orang-orang ini (maksudnya mereka yang datang ke mall serta sudah berkeluarga), untuk transportasi saja di Surabaya adik saya menghabiskan 600 ribu per bulan (kendaraannya mobil) karena jalanan disini jauh-jauh.” Uang lagi.
Saya jadi teringat cerita teman saya sewaktu berkunjung ke Jakarta saat pemerintah baru saja mengumumkan kenaikan harga bensin menjadi Rp 4.500 per liter, katanya ada spanduk super-kreatif yang bertuliskan solusi untuk mengatasi kenaikan harga ini, rumusnya sangat singkat dan mudah diingat, SBY - JK = Susah Bensin Ya... - ... Jalan Kaki!
Dan berakhir sudah petualangan kami di TP, pengunjung terus berdatangan karena ini malam minggu. Selamat bermalam minggu sobat!
Karena pertunjukannya masih lama yaitu sekitar jam 20.00, maka dari pagi jalan-jalan dulu dengan dua kawan saya. Sebagai orang yang sudah terbiasa dengan udara sejuk dan lalu lintas yang tidak padat di Malang, kota Surabaya menjadi tidak terlalu bersahabat dalam hal ini, uh...panasnya minta ampun! Sinar mataharinya sangat terik menyengat.
Sebagai kota terbesar kedua dan seperti sebagian kota besar (atau mau jadi besar) di Indonesia, kunjungan wisata utama Surabaya adalah mall, surga belanja. Di Malang, saya bisa dengan mudah menikmati nuansa alam yang sejuk di daerah Batu jika sedang ingin melepas jenuh (namun Malang juga sedang gencar mau menambah mall-nya). Di sana, kita bisa makan jagung ataupun sekedar minum kopi bahkan di tempat tertentu kita tidak perlu belanja hanya untuk sekedar duduk dan bercakap-cakap.
Surabaya memang tidak memiliki tempat seperti ini, namun bagi saya alasan tersebut tetap tidak bisa dijadikan pembenaran untuk terus-menerus membangun surga belanja yang makin bertebaran di sisi-sisi kota Surabaya, yang makin memicu budaya konsumtif di masyarakat. Kita juga terus dijejali iklan-iklan dari berbagai produk di kiri-kanan jalan, BERBAGAI PRODUK lho..termasuk (maaf) kondom, bisa ditemukan di lokasi legendaris gang Dolly, hebat kan hehe. Iklan-iklan tersebut membuat keindahan jalan di Surabaya makin tidak beraturan.
Saya diajak ke Tunjungan Plasa (TP). Bagi saya setiap mall hampir tidak ada bedanya, selain fisik bangunannya, isinya itu-itu saja, menawarkan berbagai macam produk yang lebih mahal dari biasanya. Begitu masuk ke TP seperti menemukan oase di tengah gurun, sejuk sekali udaranya karena tiupan AC, perubahan udaranya drastis sekali.
TP menjadi ikon Surabaya, selain Tugu Pahlawan, Kebun Binatang Surabaya, Hotel Majapahit, dll. Pasca-kemerdekaan mall-mall seperti ini yang akan berdiri sejajar sebagai ikon dengan monumen-monumen bersejarah lainnya. Mall ini besar sekali dan bertingkat-tingkat, berkeliling disana membuat kaki pegal, apalagi hanya melihat-lihat, tidak ada yang dibeli.
Sebagai selingan, pemandangan lain yang dilihat adalah pengunjungnya, terutama para wanitanya hehe. Wanita dengan berbagai model dandanan dan busana bisa dipandang disini. Yang terlintas di pikiran saya, kalau punya pasangan sejenis ini misalnya pasti saya akan diputusin terus (alih-alih dapat pasangan begini, dilirik aja mungkin tidak, tapi namanya juga pengandaian) karena pasti tidak sanggup dan tidak akan mau menghabiskan uang untuk keperluan yang berlebihan.
Saya punya rekan seorang wanita (kebetulan dia tinggal di Surabaya untuk kuliah) yang sangat memperhatikan penampilan, mulai model rambut, kosmetik, bentuk tubuh, pakaian, tas, sepatu, perhiasan, facial, pelangsing bahkan telepon genggam dan sebagainya. Syukurlah dia dapat pria yang berduit. Untuk sekali mewarnai rambut biayanya 800 ribu, facial sepertinya 200-300 ribu, bahkan yang paling fanstastis kalau tidak salah dia pernah membeli lotion pemutih import seharga 2 juta! Belum lagi tiap minggu ke mall, nonton ke biskop atau makan. Kasihan orang tuanya yang harus membiayai semua itu.
Hmmm... betapa pentingnya mengendalikan keinginan-keinginan yang selalu muncul dalam pikiran kita, tidak semua kita butuhkan. Dalam beberapa edisi di Oprah Winfrey Show, ada contoh kasus keluarga yang kondisi keuangannya sekarat karena tidak bisa mengendalikan keinginan untuk beli ini-beli itu, sehingga dibutuhkan konsultan keuangan untuk menyelamatkan kondisi keuangan mereka, yang pada intinya konsultan keuangan itu hanya mengontrol pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan. (Oprah’s Debt Diet)
Cerita mulai melebar hehe, tapi nanti kembali lagi soal uang. Setelah lelah keliling mall, kami singgah di tempat makan. Sambil ngobrol santai, teman saya lalu membuka pembicaraan yang kurang-lebih seperti ini, ”Berapa ya penghasilan orang-orang ini (maksudnya mereka yang datang ke mall serta sudah berkeluarga), untuk transportasi saja di Surabaya adik saya menghabiskan 600 ribu per bulan (kendaraannya mobil) karena jalanan disini jauh-jauh.” Uang lagi.
Saya jadi teringat cerita teman saya sewaktu berkunjung ke Jakarta saat pemerintah baru saja mengumumkan kenaikan harga bensin menjadi Rp 4.500 per liter, katanya ada spanduk super-kreatif yang bertuliskan solusi untuk mengatasi kenaikan harga ini, rumusnya sangat singkat dan mudah diingat, SBY - JK = Susah Bensin Ya... - ... Jalan Kaki!
Dan berakhir sudah petualangan kami di TP, pengunjung terus berdatangan karena ini malam minggu. Selamat bermalam minggu sobat!
Wednesday, February 21, 2007
Bergulat Dengan Kesibukan
Sudah lama saya tidak menulis di blog ini, banyak faktor yang bisa dijadikan alasan, salah satunya alasan klasik yaitu kesibukan. Sibuk...ah bisa saja, kerja saja belum apalagi berumah tangga, gaya thok! :)
Dalam beberapa pekan sangat banyak kejadian yang saya simak ataupun terlibat langsung. Dalam panggung politik, saya hanya bisa menjadi penikmat teater nyata yang masih tidak karuan. Ah... Indonesia... masih belum selesai aja masalah-masalahnya, saya tidak akan kaget kalau parodi Republik Mimpi bisa mencapai 1000 episode, mereka mempunyai bahan tertawaan seabrek.
Yang paling mengusik otak ini terutama masalah stok beras. Negara ini terkenal sebagai negara agraris, mata pencahararian sebagaian besar penduduknya adalah petani (setidaknya itu yang telah disamapaikan guru PMP saya dulu, apa mungkin sudah direvisi dan saya tidak tahu ya?). Negara sampai mengimpor beras, rakyat mengantri untuk mendapatkan beras murah, dan tidak mudah tentunya, banyak yang tidak kebagian padahal sudah mengantri. Kalau urusan perut masih bermasalah, produktivitas rakyat untuk berkarya masih jauh panggang dari api, saya pernah mendengar ungkapan kira-kira berbunyi, "Logika berjalan asal logistik terpenuhi." Setuju 100% !
Parade kejadian semacam ini membuat kita sudah kebal akan berita bencana, kita tidak kaget lagi jika mendengar ada bencana yang menelan korban jiwa, pertanyaan yang menyusul berikutnya biasanya, "Berapa korban yang jatuh? 2 orang saja..oh syukurlah." APA! nya manusia sudah demikian tidak berharga lagi, ya mungkin karena itu tadi kita sudah terus dijejali berita-berita bencana yang ironisnya membuat kita sudah biasa, karena yang para pemimpin itu tidak menyelesaikannya dengan benar, sehingga kita kecewa dan cenderung membiarkan saja, sudah mati rasa, sudah kecewa, wajar... urusan karena urusan perut sendiri menjadi makin tidak jelas, kabur... Kebohongan yang diucapkan seribu kali akan menjadi kebenaran.
Namun hidup harus terus berlanjut, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang berkarya dengan sangat nyata di kota Malang yang tercinta ini, yang ingin mempersembahkan karya-karyanya dengan berbagai cara dan gaya masing-masing, mungkin tidak untuk orang banyak, hanya orang-orang terdekat yang ruang lingkupnya tidak besar, namun lebih efektif sekiranya, setidaknya dari yang kecil itu bisa meluas. Ayo berkarya terus kawan-kawan! :)
Dalam beberapa pekan sangat banyak kejadian yang saya simak ataupun terlibat langsung. Dalam panggung politik, saya hanya bisa menjadi penikmat teater nyata yang masih tidak karuan. Ah... Indonesia... masih belum selesai aja masalah-masalahnya, saya tidak akan kaget kalau parodi Republik Mimpi bisa mencapai 1000 episode, mereka mempunyai bahan tertawaan seabrek.
Yang paling mengusik otak ini terutama masalah stok beras. Negara ini terkenal sebagai negara agraris, mata pencahararian sebagaian besar penduduknya adalah petani (setidaknya itu yang telah disamapaikan guru PMP saya dulu, apa mungkin sudah direvisi dan saya tidak tahu ya?). Negara sampai mengimpor beras, rakyat mengantri untuk mendapatkan beras murah, dan tidak mudah tentunya, banyak yang tidak kebagian padahal sudah mengantri. Kalau urusan perut masih bermasalah, produktivitas rakyat untuk berkarya masih jauh panggang dari api, saya pernah mendengar ungkapan kira-kira berbunyi, "Logika berjalan asal logistik terpenuhi." Setuju 100% !
Parade kejadian semacam ini membuat kita sudah kebal akan berita bencana, kita tidak kaget lagi jika mendengar ada bencana yang menelan korban jiwa, pertanyaan yang menyusul berikutnya biasanya, "Berapa korban yang jatuh? 2 orang saja..oh syukurlah." APA! nya manusia sudah demikian tidak berharga lagi, ya mungkin karena itu tadi kita sudah terus dijejali berita-berita bencana yang ironisnya membuat kita sudah biasa, karena yang para pemimpin itu tidak menyelesaikannya dengan benar, sehingga kita kecewa dan cenderung membiarkan saja, sudah mati rasa, sudah kecewa, wajar... urusan karena urusan perut sendiri menjadi makin tidak jelas, kabur... Kebohongan yang diucapkan seribu kali akan menjadi kebenaran.
Namun hidup harus terus berlanjut, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang berkarya dengan sangat nyata di kota Malang yang tercinta ini, yang ingin mempersembahkan karya-karyanya dengan berbagai cara dan gaya masing-masing, mungkin tidak untuk orang banyak, hanya orang-orang terdekat yang ruang lingkupnya tidak besar, namun lebih efektif sekiranya, setidaknya dari yang kecil itu bisa meluas. Ayo berkarya terus kawan-kawan! :)
Wednesday, January 3, 2007
Bang Bang Tut
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Sang sutradara menjalankan skenario bahwa harga minyak naik
Pak Daud sedang asik nonton tivi, sambil sruput kopi tiba-tiba jadi tersudut
Harga pada naik, banyak yang tiba-tiba bangkrut, dada hanya bisa diurut
sumarah...sumarah...
Kapan kita hidup sejahtera....
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
D i Senayan saling sikut, tarik-ulur dukungan, licin kaya belut, tapi nama rakyat dicatut
Pak Daud tidak ikut-ikut yang penting bisa makan
Harga nasi di warung Bu Ketut sambut kenaikan harga minyak
Mending jadi kuda makan gratis karena makan rumput.
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Pak Daud diajak demo
Tapi takut mending manut tidak menuntut daripada menyulut ribut bukannya pengecut
Duduk sendiri, rambut rontok, kepala cenut-cenut, harta cuma burung perkutut, untung masih punya dodol garut untuk isi perut
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Tidak punya kerjaan, tetangga Pak Daud semua jadi tukang tebak buntut
Kalah melulu duit amblas taunya cuma gelut
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kaya kentut
Pak Daud sakit, takut kena penyakit akut jadi langsung ke rumah sakit sambil ngebut
Diminta jaminan duit, gemetar itu lutut, nyali ciut, pucat raut, jantung kembut, harta sudah menyusut
Mau sehat sulit dan mahal
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Pesawat jatuh berturut-turut, kematian datang menjemput
Sang Adikong baru datang inspeksi, lambat kayak siput
Saling tunjuk hidung siapa yang siap diusut
Katanya pesawat layak terbang, tapi kenapa hasilnya maut? Carut-marut!
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Naik kereta api...tut..tut..tut, panjang kayak barisan semut, baut lepas, tabrakan keretanya, maut lagi deh.
Mau jalan-jalan niat jadi surut
Sang Adikong kembali inspeksi, mencoba mengusut (lagi), mencari sangkut-paut dia bersahut, dasar siput! mundur saja!
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Tidak ada yang patut, tidak ada yang salut, tidak pernah terpecut, semua siput!
Sedia payung sebelum hujan,
Ahli pelesetan bilang swedia payung sebelum hujan
Mending aku ke Swedia
Tapi aku masih terlalu cinta negeri ini
Menunggu sang sutradara mengakhiri semua ini, dan teriak,”Cut,cut,cut.”
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Sang sutradara menjalankan skenario bahwa harga minyak naik
Pak Daud sedang asik nonton tivi, sambil sruput kopi tiba-tiba jadi tersudut
Harga pada naik, banyak yang tiba-tiba bangkrut, dada hanya bisa diurut
sumarah...sumarah...
Kapan kita hidup sejahtera....
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
D i Senayan saling sikut, tarik-ulur dukungan, licin kaya belut, tapi nama rakyat dicatut
Pak Daud tidak ikut-ikut yang penting bisa makan
Harga nasi di warung Bu Ketut sambut kenaikan harga minyak
Mending jadi kuda makan gratis karena makan rumput.
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Pak Daud diajak demo
Tapi takut mending manut tidak menuntut daripada menyulut ribut bukannya pengecut
Duduk sendiri, rambut rontok, kepala cenut-cenut, harta cuma burung perkutut, untung masih punya dodol garut untuk isi perut
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Tidak punya kerjaan, tetangga Pak Daud semua jadi tukang tebak buntut
Kalah melulu duit amblas taunya cuma gelut
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kaya kentut
Pak Daud sakit, takut kena penyakit akut jadi langsung ke rumah sakit sambil ngebut
Diminta jaminan duit, gemetar itu lutut, nyali ciut, pucat raut, jantung kembut, harta sudah menyusut
Mau sehat sulit dan mahal
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Pesawat jatuh berturut-turut, kematian datang menjemput
Sang Adikong baru datang inspeksi, lambat kayak siput
Saling tunjuk hidung siapa yang siap diusut
Katanya pesawat layak terbang, tapi kenapa hasilnya maut? Carut-marut!
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Naik kereta api...tut..tut..tut, panjang kayak barisan semut, baut lepas, tabrakan keretanya, maut lagi deh.
Mau jalan-jalan niat jadi surut
Sang Adikong kembali inspeksi, mencoba mengusut (lagi), mencari sangkut-paut dia bersahut, dasar siput! mundur saja!
Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Tidak ada yang patut, tidak ada yang salut, tidak pernah terpecut, semua siput!
Sedia payung sebelum hujan,
Ahli pelesetan bilang swedia payung sebelum hujan
Mending aku ke Swedia
Tapi aku masih terlalu cinta negeri ini
Menunggu sang sutradara mengakhiri semua ini, dan teriak,”Cut,cut,cut.”
Air Mata
Simpanlah air mata itu, jangan keluarkan sekarang.
Masih terlalu dini untuk berkeluh kesah.
Segalanya masih bisa kita selesaikan dengan banyaknya lapis kekuatan kita.
Seiring dengan itu kekompakan kita akan diuji dengan banyaknya rintangan dan jebakan dalam pengembaraan hayat ini.
Apakah kita cukup bijak untuk menyelesaikannya bersama?
Air mata itu masih belum terlalu bernilai saat ini.
Di saat kita sudah mengarungi puluhan tahun kehidupan materi ini.
Saat itu kita sudah melihat hasil didikan, hasil jerih payah, hasil perjuangan kita bersama.
Dengan badan yang tidak sekuat masa muda dahulu, tapi dengan kesatuan hati yang tidak serapuh dahulu.
Pada saat itu,
keluarkanlah air mata ,
air mata kebahagiaan,
air mata haru,
serta air mata kesedihan di kala tubuh ini sudah siap menjadi jasad,
air mata itu akan menjadi sangat berharga bagiku....dan bagimu.
Masih terlalu dini untuk berkeluh kesah.
Segalanya masih bisa kita selesaikan dengan banyaknya lapis kekuatan kita.
Seiring dengan itu kekompakan kita akan diuji dengan banyaknya rintangan dan jebakan dalam pengembaraan hayat ini.
Apakah kita cukup bijak untuk menyelesaikannya bersama?
Air mata itu masih belum terlalu bernilai saat ini.
Di saat kita sudah mengarungi puluhan tahun kehidupan materi ini.
Saat itu kita sudah melihat hasil didikan, hasil jerih payah, hasil perjuangan kita bersama.
Dengan badan yang tidak sekuat masa muda dahulu, tapi dengan kesatuan hati yang tidak serapuh dahulu.
Pada saat itu,
keluarkanlah air mata ,
air mata kebahagiaan,
air mata haru,
serta air mata kesedihan di kala tubuh ini sudah siap menjadi jasad,
air mata itu akan menjadi sangat berharga bagiku....dan bagimu.
Subscribe to:
Posts (Atom)