Wednesday, January 3, 2007

Bang Bang Tut

Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Sang sutradara menjalankan skenario bahwa harga minyak naik
Pak Daud sedang asik nonton tivi, sambil sruput kopi tiba-tiba jadi tersudut
Harga pada naik, banyak yang tiba-tiba bangkrut, dada hanya bisa diurut
sumarah...sumarah...
Kapan kita hidup sejahtera....

Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
D i Senayan saling sikut, tarik-ulur dukungan, licin kaya belut, tapi nama rakyat dicatut
Pak Daud tidak ikut-ikut yang penting bisa makan
Harga nasi di warung Bu Ketut sambut kenaikan harga minyak
Mending jadi kuda makan gratis karena makan rumput.

Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Pak Daud diajak demo
Tapi takut mending manut tidak menuntut daripada menyulut ribut bukannya pengecut
Duduk sendiri, rambut rontok, kepala cenut-cenut, harta cuma burung perkutut, untung masih punya dodol garut untuk isi perut

Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Tidak punya kerjaan, tetangga Pak Daud semua jadi tukang tebak buntut
Kalah melulu duit amblas taunya cuma gelut

Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kaya kentut
Pak Daud sakit, takut kena penyakit akut jadi langsung ke rumah sakit sambil ngebut
Diminta jaminan duit, gemetar itu lutut, nyali ciut, pucat raut, jantung kembut, harta sudah menyusut
Mau sehat sulit dan mahal

Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Pesawat jatuh berturut-turut, kematian datang menjemput
Sang Adikong baru datang inspeksi, lambat kayak siput
Saling tunjuk hidung siapa yang siap diusut
Katanya pesawat layak terbang, tapi kenapa hasilnya maut? Carut-marut!

Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Naik kereta api...tut..tut..tut, panjang kayak barisan semut, baut lepas, tabrakan keretanya, maut lagi deh.
Mau jalan-jalan niat jadi surut
Sang Adikong kembali inspeksi, mencoba mengusut (lagi), mencari sangkut-paut dia bersahut, dasar siput! mundur saja!

Bang bang tut
Plintat plintut
Ngomongnya kayak kentut
Tidak ada yang patut, tidak ada yang salut, tidak pernah terpecut, semua siput!
Sedia payung sebelum hujan,
Ahli pelesetan bilang swedia payung sebelum hujan
Mending aku ke Swedia
Tapi aku masih terlalu cinta negeri ini
Menunggu sang sutradara mengakhiri semua ini, dan teriak,”Cut,cut,cut.”

Air Mata

Simpanlah air mata itu, jangan keluarkan sekarang.
Masih terlalu dini untuk berkeluh kesah.
Segalanya masih bisa kita selesaikan dengan banyaknya lapis kekuatan kita.
Seiring dengan itu kekompakan kita akan diuji dengan banyaknya rintangan dan jebakan dalam pengembaraan hayat ini.
Apakah kita cukup bijak untuk menyelesaikannya bersama?
Air mata itu masih belum terlalu bernilai saat ini.

Di saat kita sudah mengarungi puluhan tahun kehidupan materi ini.
Saat itu kita sudah melihat hasil didikan, hasil jerih payah, hasil perjuangan kita bersama.
Dengan badan yang tidak sekuat masa muda dahulu, tapi dengan kesatuan hati yang tidak serapuh dahulu.

Pada saat itu,
keluarkanlah air mata ,
air mata kebahagiaan,
air mata haru,
serta air mata kesedihan di kala tubuh ini sudah siap menjadi jasad,
air mata itu akan menjadi sangat berharga bagiku....dan bagimu.