Monday, February 26, 2007

South Pacific Islands

“An Extraordinary collection of accessible contemporary music from the beautiful and isolated tropical islands of the South Pacific.”

Sajian musik yang khas dari Putumayo. Album kali ini menampilkan 11 lagu dan 7 artis. Grup Te Vaka dari New Zealand menyumbangkan lagu terbanyak dengan 4 lagu. Lagu-lagu dalam album ini didendangkan dengan bahasa lokal, sehingga tidak dapat saya mengerti artinya. Namun jangan kuatir, ada song meanings-nya dalam 3 bahasa, Inggris, Prancis dan Spanyol.

Jenis musik seperti ini memang langka di Indonesia, kalaupun ada seperti ini, harganya mahal. Namun salut untuk Putumayo yang mengumpulkan dan memperkenalkan musik-musik dari berbagai negara. Musisi Indonesia juga ada dalam album Reggae Playgroud (Tony Q Rastafara) dan Music from the Tea Lands (Ujang Suryana), dan mungkin masih ada yang lain

Begitu mendengar lagu pertama berjudul “Iuliana” yang dibawakan Te Vaka, saya langsung sangat tertarik, seperti lagu Hawai begitu deh yang berhubungan dengan pantai, tapi tidak 100% sama, ada yang khas dari musik pantai ala South Pacific.

Nah coba simak arti lagu Iuliana dalam bahasa Inggris:


“Saw you in my mind / Amazed at how beautiful you looked / Your ship has certainly landed / Good fortune has come / Brought by a change in your journey / New understanding for Iuliana / Newfound strenght for Iuliana / Bringing much joy for Iuliana.”
Ada juga yang bernada perlawanan. Pulau-pulau di Pasifik Selatan merupakan bekas koloni dari negara-negara Eropa seperti Prancis, Inggris bahkan Amerika Serikat, dan masih ada yang merupakan official territories dari negara-negara tersebut. Kita lihat lirik lagu berjudul “Watolea” (artinya: bendera) yang dibawakan oleh Gurejele (terjemahan dalam bahasa Inggris) :
“He arrived Like a thief / His flag was blue, white and red / And he just proclaimed / That this country would be his forever.”
Menarik kan?

Sambil berhitung dan berpikir sedikit lama, akhirnya saya memutuskan... beli!


ALBUM : South Pacific Islands
LABEL : Putumayo World Music
HARGA : Rp. 109.000,-
DAFTAR LAGU / ARTIS :
1. Iuliana / Te Vaka
2. Mana Ma’Ohi / Matato’a
3. Sei Ma Le Losa / Te Vaka
4. Abede / Telek
5. Haloa Olohega / Te Vaka
6. Nengone Nodegu / OK! Ryos
7. Wahine Whakairo / Whirimako Black
8. Nukukehe / Te Vaka
9. Siasi / O-shen
10. Co Era So / OK! Ryos
11. Watolea / Gurejele

Dian Sastro pun Bisa Merasa Jelek!

Siapa yang tidak kenal Dian Sastrowardoyo? Hampir semua laki-laki mengenalnya (perempuan juga tentunya). Dalam pembicaraan soal wanita di alam lelaki nama Dian Sastro seringkali disebutkan.

Dian Sastro merupakan simbol...hmmm sebutlah, kecantikan seorang wanita atau acuan wanita berparas cantik itu seperti apa. Buktinya saya sering simak dalam beberapa acara lawak di TV misalnya, pelawak wanita yang bentuk fisiknya gemuk sering ngomong seperti ini, “Perkenalkan saya Dian Sastro!,” yang tentu saja bertujuan untuk memancing tawa para penonton. Pelawak pria pun tidak mau kalah. “Saya ini pacarnya Dian Sastro.” Coba bayangkan jika yang ngomong seperti ini Tukul Arwana, pasti penonton akan ketawa-ketiwi sepuas-puasnya.

Namun Dian Sastro ternyata bisa merasa jelek juga loh! Berikut pernyataan Dian pada halaman 40 koran Jawa Pos di bagian Radar Malang.
“Aku kalau lagi nggak merasa cantik, pasti nggak ramah sama orang. Tapi, kalau lagi merasa cantik, pasti ramah sekali. Sampai-sampai, orang yang nggak kenal pun aku sapa satu per satu.”
Sebagai penutup,

“Padahal, orang yang lihat belum tentu pandangannya sama dengan aku. Bisa jadi, ketika aku merasa cantik, orang lain melihat sebaliknya”

Seseorang yang menjadi ikon kecantikan saja bisa merasa tidak cantik, bagaimana yang bukan? Belum tentu juga, saya rasa. Siapa yang bisa menebak isi kepala wanita yang misterius itu. Buktinya...Dian Sastro. Alasannya kalau sedang tidak ramah ternyata sangat mengejutkan, saya tidak menyangka :-)

Ah Dian... ada-ada saja. Saya belum pernah kok mendengar ada yang bilang kamu tidak cantik, apalagi ketika kamu merasa cantik.

Sumber: Jawa Pos edisi Senin 26 Februari 2007

Sunday, February 25, 2007

Catatan Perjalanan ke Surabaya IV – Take Me Home Country Road

Senin, ini hari dimana orang-orang kembali beraktivitas. Mereka yang masih sekolah harus upacara. Mereka yang ngantor harus kembali bekerja mengais rupiah. Pengangguran? Selalu hari Minggu untuk mereka. Ibu rumah tangga? Rata-rata bekerja di rumah, mengatur makanan, nonton infotainment, serta pergi ke sanggar senam atau ikut kelas yoga untuk menjaga penampilan.

Sebelum pulang saya masih sempat berkunjung ke beberapa tempat. Tempat pertama di STIKOM, kalau tidak salah kepanjangannya Sekolah Tinggi Ilmu Komputer. Saya kesini untuk mengunjungi kawan saya, ibu Okta yang pada hari-hari sebelumnya belum sempat ditemui. Beliau setiap kali ke Surabaya saya hampir selalu menginap di rumahnya, kecuali kedatangan saya kali ini. STIKOM adalah tempat dimana ia bekerja.

Dua kawan saya yang merupakan mahasiswa di kampus ini Toni dan Hendra tentunya sudah sangat paham lekuk tubuh kampusnya ini. Plus saya dan Poppy, kawan saya dari Unair, akan menjelajah kampus ini. Saya sudah pernah ke Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Kristen Petra di Surabaya, namun STIKOM baru kali ini, pengetahuan saya tentang kampus di Surabaya bertambah lagi.

Seperti biasa, sosok Okta yang bertubuh mungil ini menyambut dengan ramah. Kita mengobrol, tentang organisasi-lah, kabar masing-masing, diselingi bercanda sedikit. Tidak lama namun sudah cukup bagi saya, ini tempat kerja, jangan mengganggu orang yang sedang kerja berlama-lama.

Acara berikutnya tur kampus ini. Saya diajak berkeliling. Gedung kampus STIKOM dibuat tinggi sampai 8 lantai, jadinya jangan harap melihat area hijau disini, sedikit sekali.tapi tempat ini konon sangat ketat, mereka yang tidak memakai sepatu dan baju berkerah jangan harap bisa masuk. Tapi kami semua masuk memakai sandal dan berkaos kok, dengan alasan mau cari informasi soal pendaftaran, namun tetap diperingati oleh pak satpam, jangan ulangi lagi. Disiplin juga. Saya diajak naik sampai di tingkat tertinggi (kalau tidak salah lantai 8). Ada lapangan basket disana, yang bisa digunakan untuk bulutangkis juga acara wisuda. Three in one deh, serba guna.

Oh ya, di dalam gedung kampus tidak boleh, merokok!

Di tempat kuliah saya, Universitas Brawijaya (Unibraw), saya pernah diberi kuliah oleh dosen sambil merokok, pernah juga sambil mengawasi ujian dosen merokok di kelas. Bebas rokok. Maksudnya bebas merokok. Mahasiswa apalagi. Kita bebas merokok dimana saja. Mungkin karena model kampus Unibraw bukan gedung seperti di STIKOM, lahannya luas, antarfakultas jaraknya tidak terlalu berdekatan. Banyak tempat diluar kampus yang...katakanlah itu taman, terbuka, ada tempat duduknya untuk bersantai...sambil merokok. Mungkin karena terbuka itu sehingga kampus kami bebas merokok.

Kalau di STIKOM, asapnya akan terjebak di gedung sehingga membuat gedung penuh asap. Kenapa tidak disediakan ruang khusus perokok ya? Kita kan bukan anak SMA lagi yang bisa dilarang merokok. Nanti kan bisa tercipta komunitas “ruang perokok”. Siapa tahu disana banyak mengalir ide-ide segar. Saya bukan seorang perokok jadi tempat-tempat seperti itu tidak perlu bagi saya.

Bicara soal rokok, teman saya seorang perokok berat berkata kepada saya bahwa jika dihadapkan pada situasi memilih rokok atau makan, dia akan bingung katanya. Dua-duanya penting. Sewaktu nonton jazz 2 hari yang lalu, teman-teman saya para wanita dokter sangat terganggu dengan mereka yang merokok disampingnya. Dikibas-kibaskan tangan mereka untuk mencegah asap rokok, juga sebagai bahasa tubuh bahwa mereka terganggu, dengan harapan si perokok berhenti merokok. Saya belum pernah melihat cara ini efektif. Perokok tetap asik merokok. Perokok seharusnya menghargai mereka yang terganggu dengan asap rokoknya.

Apa sih enaknya merokok? Meskipun bukan perokok saya punya jawaban untuk pertanyaan ini. Bagi saya saat yang paling enak untuk menyulut batang tembakau itu adalah sehabis makan dengan perut kenyang! Entah, bagi saya nikmat sekali saat-saat sehabis puas makan lalu merokok. Ah, tapi saya tidak kecanduan dan sangat jarang melakukannya. Saya adalah perokok insidental, merokok kalau ditawarkan sebagai lambang persahabatan, dalam sebulan belum tentu ada sekali merokok. Membeli rokok artinya pengeluaran tambahan.

Tujuan berikut setelah berkeliling kampus STIKOM adalah Unair. Kawan saya Poppy ada keperluan sebentar di kampusnya, di fakutas psikologi. Ini kedatangan saya ketiga kalinya ke Unair. Entah ada perubahan atau tidak, karena tidak terlalu memperhatikan keadaan dulu dengan saat ini.

Bukan bermaksud menganggap kampus sendiri lebih baik, tapi penilaian saya Unair kurang hijau, maksudnya kurang banyak tanamannya. Jarak antarfakultasnya terlalu dekat, sehingga terkesan sempit. Namun ada kesamaan dengan Unibraw, ya...apalagi kalau bebas merokok. Lahan Unair lebih luas dari STIKOM. Ini kampus B katanya, kampus A untuk kedokteran, dan masih ada kampus C yang letaknya agak jauh, seingat saya keterangannya seperti itu.

Persinggahan terakhir sebelum pulang yaitu gedung BLPT. Entah apa kepanjangannya. Teman-teman ingin survey harga untuk menyewa gedung ini yang akan dipakai untuk sebuah kegiatan nanti di bulan Mei.

Akhirnya, saya harus pulang ke Malang, Take Me Home Country Roads, mengutip judul lagu John Denver. Sejuknya udara Malang membuat kangen. Jajaran pegunungan yang indah, mountain momma! Minum STMJ di malam hari benar-benar nikmat. Berakhir sudah perjalanan ke Surabaya kali ini, namun ke depan pastinya akan ke Surabaya lagi. Sayonara Surabaya!

Terima kasih saya ucapkan kepada:
- dr. Lisa, dr. Olivia, dr. Yuli dan rekan-rekannya. (Sudah dokter semua akhirnya)
- Hendra sudah mau ‘menampung’, transportasinya, makan paginya :)
- Toni, Poppy, Dian untuk jalan-jalannya.
- Himawan, Okta, Maisy, Rudi, Youngky, Shanty tidak sempat ngobrol banyak tapi sudah bisa ketemu saya sudah senang :)

Catatan Perjalanan ke Surabaya III – Coklat Valentine dan Tempat Ibadah

Hari minggu yang cerah, terima kasih untuk kawan saya Hendra yang sudah ‘menampung’ saya selama di Surabaya :) Dia berjanji mau mengajak makan model prasmanan setelah sebelumnya di Malang saya sempat mengajak makan dengan model sejenis. Ambil sendiri. Seperti swalayan. Bedanya yang ditawarkan disini adalah makanan. Sebanyak apapun nasi yang kita ambil harganya akan sama, namun yang belum pernah saya coba, bagaimana cara menghitung harga yang harus dibayar jika sayur yang saya ambil sangat banyak misalnya? Atau disela-sela saat makan saya ingin tambah sayur apakah harga yang dibayar akan bertambah atau tidak? Saya ingin coba suatu saat, tapi untuk hari ini tidak dulu. Lumayan enak juga makanan di warungnya itu.

Sorenya saya kembali diajak ke mall lain yaitu Pakuwon Trade Center (PTC). Seperti biasa isinya itu-itu saja.

Pernak-pernik imlek dan valentine mewarnai suasana mall. Bagi mereka yang akan merayakan hari valentine, parade bunga, boneka, coklat, serta pernak-pernik bergambar hati yang berwarna merah muda siap dibeli. Merah muda..? itu kan warna yang dihubungkan dengan warna perempuan.

Asumsinya, itu kado yang harus diberikan untuk wanita. Terus untuk pria apa dong hadiahnya? Masak cuma coklat atau bunga? Boneka kan leih mahal harganya? Hahaha, katanya cinta tidak boleh diukur dengan uang.

Valentine diasosiasikan dengan ungkapan cinta sepertinya lebih kepada mereka anak muda yang masih pacaran. Ada ungkapan saat pacaran tahi pun rasa coklat, nah hati-hati terhadap coklat valentine yang Anda terima dari pasangan Anda, teliti dulu dengan seksama, jangan-jangan.... :)

Oh iya, ada yang beda di mall PTC. Disini ini ada tempat ibadah! (Saya tidak perlu menyebutkan tempat ibadah umat apa). Di dalam mall-nya lho, bukan di parkirannya.

Tempat ibadah rupanya mengikuti selera jaman juga rupanya, mungkin ini salah satu strategi untuk merangsang anak muda agar mau datang beribadah dan juga bagi yang sudah berkeluarga biar sekalian rekreasi ke mall setelah beribadah.

Adakah tempat-tempat ibadah jaman sekarang melahirkan tokoh-tokoh agama yang bisa dimiliki semua agama seperti Romo Mangun, Romo Sandyawan, Gus Dur, Cak Nun, atau tokoh pembela HAM seperti Munir dan lain-lain?

Saya belakangan meragukan itu. Banyak orang-orang yang mengagung-agungkan agamanya dengan berlebihan sampai memandang agama lain itu jelek, salah, sesat dan berbagai cap lain. Ini bibit-bibit yang menimbulkan perpecahan dan konflik. Sedihnya kita di Indonesia masih rentan terhadap hal yang satu ini. Membunuh orang yang tidak seagama dianggap pantas karena mereka telah melecehkan Tuhan kita. Ada yang menganggap selama rajin berdoa maka dosa-dosa akan diampuni Tuhan, meskipun banyak melakukan kejahatan, mereka akan tetap masuk surga karena Tuhan akan mencintai mereka yang tidak melupakannya. Mereka yang beragama belum tentu lebih baik dari mereka yang tidak beragama, begitu pula sebaliknya, vice versa.

Dalam buku “Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi”, ada dialog yang sangat menarik antara Ulil Abshar-Abdalla dengan Munir. Munir rupanya pernah mengalami fase ekstremitas dalam beragama. Antara tahun 1984-1989 tasnya tidak pernah kosong dari senjata tajam. Agama harus menjadi maslahat (manfaat, win) bagi manusia. (hal. 230). Islam harus memihak pada pihak yang dizalimi. Jadi, Islam tidak memihak kepada Islam, tapi memihak kepada yang dizalimi demi minciptakan keadilan (hal. 232). Dia sepakat kalau Islam menjadi energi bagi kaum tertindas untuk melawan penindasan (hal. 234). Sangat jelas jika dalam kenyataannya Munir tidak pernah membeda-bedakan siapa yang akan dia bela.

Bhikku Maha Ghosananda, seorang pemimpin umat buddha di Kamboja, berkata: Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan vihara kita dan memasui “vihara pengalaman manusia”. Kamp-kamp pengungsian, penjara-penjara, pemukiman kaum minoritas, dan medan-medan pertempuran akan menjadi vihara kita. Beliau berada di Kamboja dalam situasi kehancuran dan pembantaian saat rejim Khmer Merah berkuasa yang menekan dirinya juga.

Huah, memang jenuh dan kadang mengecewakan jika melihat masih belum selesainya konflik yang terjadi di tanah air. Setidaknya apa yang bisa kita lakukan sekecil apapun, mari kita lakukan demi tercapainya perdamaian, setuju?

Hujan deras mengguyur Surabaya malam ini, sewaktu kita makan. Surabaya jelang jam 22.00 masih belum sepi. Di Malang sebelum jam 21.00 jalan sudah mulai sepi. Perbedaan antara kota besar dan kota kecil. Untung tidak hujan kemarin sewaktu nonton jazz. Saya masih tinggal di Surabaya sampai besok, karena kegiatan perkuliahahan masih belum berjalan alias libur. Sweet dream, Surabaya!

Bahan Bacaan:

1. JUDUL : Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi
PENULIS : Merupakan kumpulan tulisan kolega-kolega Munir
EDITOR : Willy Pramudya
PENERBIT : Gagas media, Jakarta, 2004
TEBAL : 290 halaman

2. JUDUL : Doa Sang Pembawa Damai
PENULIS : Maha Ghosananda
PENERJEMAH : Daniel Johan W dan Eddy Setiawan
PENERBIT : Yayasan Pencerahan dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Malang, Malang, 2003
TEBAL : 88 halaman

3. JUDUL : Berita KontraS
EDISI : No. 05 / IX-X / 2004

4. JUDUL : Perzinahan Suci
PENULIS : Aris Wahyudi
PENERBIT : Voxdei Publications, (tempat tidak tercantum), 2005
TEBAL : 311 halaman

Catatan Perjalanan ke Surabaya II – Singa Tua Mengaum!

Malam minggu, jalanan di Surabaya dijejali berbagai jenis kendaraan bermotor, padat sekali. Kami akan menonton pertunjukan jazz. Saya dijemput oleh teman di Malang dulu yang sekarang tinggal di Surabaya, ibu dokter Yuli, yang sekarang kuliah lagi mengambil spesialis ortopedi di Unair. Bersama dua temannya yang semuanya wanita dan dokter. Kebetulan teman barengan saya yang dijemput juga dokter, jadilah saya menjadi pria satu-satunya dalam mobil diapit oleh 4 wanita para dokter.

Berbagai kata-kata asing meluncur dari mulut mereka, bukan soal mall, gaya hidup, kosmetik melainkan istilah-istilah yang berhubungan dengan rumah sakit dan sejenisnya. Tidak ada yang saya mengerti. Mereka orang-orang yang sibuk di rumah sakit tiap harinya, para dokter muda yang mengambil spesialis, wanita pula.

Nah, jaman sekarang wanita tidak boleh lagi dianggap konco wingking yang ikut saja dengan suami dan hanya memasak di dapur. Mereka ini wanita-wanita yang punya kesibukan dan karir. Bagi pria yang masih biasa hidup dalam budaya patriarki jangan harap bisa punya pasangan seorang dokter :)

Tema pertunjukan jazz kali ini adalah Jazz Under the Stars, tempatnya terbuka tapi tetap dipasang tenda, namun syukurlah hujan tidak melanda padahal beberapa hari ini sering hujan katanya. Kami sempat kehabisan tempat, petugasnya sudah berseru, ”TIKET HABIS!” Apa! Yang benar saja...sudah jauh-jauh nih. Kami berada dalam situasi dipertimbangkan karena mereka masih melihat apa masih ada ruang yang bisa dijadikan tempat, menunggu sambil harap-harap cemas, dan...syukurlah masih dapat tempat! Lega... ternyata animo pencinta jazz di Surabaya besar sekali. Kami dapat bonus rokok 1 bungkus dari sponsor, serta minuman.

Band-band lokal yang mengusung musik jazz ditampilkan terlebih dahulu, Jazzy News dan Weekend Project. Para musisi muda ini memang patut diberi panggung untuk mempertunjukkan kemampuan, dan yang paling berharga adalah mendapatkan pengalaman, agar menjadi musisi dengan nama besar kelak.

Akhirnya penampilan yang trio PIG naik ke panggung. Mereka membawakan 4 lagu instrumental. Pra Budidharma pada bas, Gilang Ramadhan menabuh drum, dan Indra Lesmana memainkan alat musik tiup yang ada tutsnya serta keyboard. Komposisi mereka sangat menarik. Kadang di tengah-tengah lagu masing-masing dari mereka berimprovisasi dengan alat musik masing-masing. Tabuhan drum Gilang Ramadhan yang mendapatkan tepuk tangan paling meriah. PIG sudah bermain bersama sejak 1986, waktu yang cukup lama untuk saling mengenal karakter masing-masing. Lagu terakhir dari mereka berupa aransemen dari lagu “Begadang” karya Rhoma Irama, lagunya dibuat menjadi bernuansa jazzy, keren banget!

Setelah tampil bertiga, kini saatnya berkolaborasi dengan sang maestro, Bubi Chen! Om Bubi, begitu beliau biasa disapa, merupakan musisi jazz tanah air yang begitu disegani. Lahir di Surabaya, 9 Februari 1938, om Bubi sejak kecil sudah belajar piano klasik. Namun jazz adalah dunianya. Om Bubi belajar jazz secara otodidak melalui kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957.

Kondisi fisiknya sudah mulai menurun, beliau berjalan dengan bantuan tongkat. Tapi begitu di panggung dan meminkan beberapa nada saja, penonton sudah bersorak dan bertepuk tangan. Luar biasa! Singa tua sedang mengaum! Bubi Chen masih ada, benar-benar seorang musisi besar, penampilannya begitu sederhana dan bersahaja. Beliau masih sanggup menghibur kita semua lewat musiknya.

Bersama Indra Lesmana om Bubi saling berbalas lick jazz. Gaya solo duel semacam ini mendapat sambutan sangat meriah, dalam dunia jazz sepertinya ini cara yang efektif untuk meraih perhatian, setidaknya itu yang disarankan Joe Bennett dalam bukunya.

Lagu pertama kolaborasi itu sangat ketal nuansa jazz dan blues. Penonton mengiringi dengan tepuk tangan, apalagi saat piano om Bubi dimainkan juga oleh Indra Lesmana bersama-sama, berbagi piano, unsur hiburan dalam suatu pertunjukan sangat mutlak agar penonton terhibur. Tidak menyesal menonton pertunjukan seperti ini apalagi jarang, konon ini penampilan PIG yang pertama di kota Surabaya.

Malam ini sangat istimewa, sayang saya tidak sempat minta foto dengan Bubi Chen, padahal beliau tidak dikerubutin penggemar, agak ragu mendekati beliau yang duduk di depan. Tapi kami semua sudah sangat terhibur dengan tontonan yang berkualitas. Malam sampai sekitar jam 23 acara berakhir. Lelah juga hari ini setelah keliling mall dan nonton jazz. Saatnya istirahat!

Bahan bacaan:

1. JUDUL : Cara Cepat dan Mudah Menjadi Gitaris Jazz Andal.
PENULIS : Joe Bennett.
PENERBIT : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004

Berita terkait: wartajazz

Catatan Perjalanan ke Surabaya I – Susah Bensin Ya.... Jalan Kaki!

Sudah berulang kali saya ke Surabaya, namun kedatangan kali dengan tujuan khusus yaitu nonton pertunjukan jazz, tanggal 10 Februari 2007. Pertunjukan jazz ini menampilkan trio Pra Budidharma, Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan, yang menamakan trio mereka PIG (diambil dari inisial masing-masing). Bubi Chen sang legendaris juga akan tampil dengan nama-nama kondang itu, belumnya kedatangan saya ke Surabaya biasanya kalau tidak rapat organisasi ya ikut kegiatan, yang juga digalang organisasi, kali ini saya mau bersenang-senang! Syukurlah teman-teman saya di Surabaya menyambut dengan hangat dan berbaik hati mau menemani saya.

Karena pertunjukannya masih lama yaitu sekitar jam 20.00, maka dari pagi jalan-jalan dulu dengan dua kawan saya. Sebagai orang yang sudah terbiasa dengan udara sejuk dan lalu lintas yang tidak padat di Malang, kota Surabaya menjadi tidak terlalu bersahabat dalam hal ini, uh...panasnya minta ampun! Sinar mataharinya sangat terik menyengat.

Sebagai kota terbesar kedua dan seperti sebagian kota besar (atau mau jadi besar) di Indonesia, kunjungan wisata utama Surabaya adalah mall, surga belanja. Di Malang, saya bisa dengan mudah menikmati nuansa alam yang sejuk di daerah Batu jika sedang ingin melepas jenuh (namun Malang juga sedang gencar mau menambah mall-nya). Di sana, kita bisa makan jagung ataupun sekedar minum kopi bahkan di tempat tertentu kita tidak perlu belanja hanya untuk sekedar duduk dan bercakap-cakap.

Surabaya memang tidak memiliki tempat seperti ini, namun bagi saya alasan tersebut tetap tidak bisa dijadikan pembenaran untuk terus-menerus membangun surga belanja yang makin bertebaran di sisi-sisi kota Surabaya, yang makin memicu budaya konsumtif di masyarakat. Kita juga terus dijejali iklan-iklan dari berbagai produk di kiri-kanan jalan, BERBAGAI PRODUK lho..termasuk (maaf) kondom, bisa ditemukan di lokasi legendaris gang Dolly, hebat kan hehe. Iklan-iklan tersebut membuat keindahan jalan di Surabaya makin tidak beraturan.

Saya diajak ke Tunjungan Plasa (TP). Bagi saya setiap mall hampir tidak ada bedanya, selain fisik bangunannya, isinya itu-itu saja, menawarkan berbagai macam produk yang lebih mahal dari biasanya. Begitu masuk ke TP seperti menemukan oase di tengah gurun, sejuk sekali udaranya karena tiupan AC, perubahan udaranya drastis sekali.

TP menjadi ikon Surabaya, selain Tugu Pahlawan, Kebun Binatang Surabaya, Hotel Majapahit, dll. Pasca-kemerdekaan mall-mall seperti ini yang akan berdiri sejajar sebagai ikon dengan monumen-monumen bersejarah lainnya. Mall ini besar sekali dan bertingkat-tingkat, berkeliling disana membuat kaki pegal, apalagi hanya melihat-lihat, tidak ada yang dibeli.

Sebagai selingan, pemandangan lain yang dilihat adalah pengunjungnya, terutama para wanitanya hehe. Wanita dengan berbagai model dandanan dan busana bisa dipandang disini. Yang terlintas di pikiran saya, kalau punya pasangan sejenis ini misalnya pasti saya akan diputusin terus (alih-alih dapat pasangan begini, dilirik aja mungkin tidak, tapi namanya juga pengandaian) karena pasti tidak sanggup dan tidak akan mau menghabiskan uang untuk keperluan yang berlebihan.

Saya punya rekan seorang wanita (kebetulan dia tinggal di Surabaya untuk kuliah) yang sangat memperhatikan penampilan, mulai model rambut, kosmetik, bentuk tubuh, pakaian, tas, sepatu, perhiasan, facial, pelangsing bahkan telepon genggam dan sebagainya. Syukurlah dia dapat pria yang berduit. Untuk sekali mewarnai rambut biayanya 800 ribu, facial sepertinya 200-300 ribu, bahkan yang paling fanstastis kalau tidak salah dia pernah membeli lotion pemutih import seharga 2 juta! Belum lagi tiap minggu ke mall, nonton ke biskop atau makan. Kasihan orang tuanya yang harus membiayai semua itu.

Hmmm... betapa pentingnya mengendalikan keinginan-keinginan yang selalu muncul dalam pikiran kita, tidak semua kita butuhkan. Dalam beberapa edisi di Oprah Winfrey Show, ada contoh kasus keluarga yang kondisi keuangannya sekarat karena tidak bisa mengendalikan keinginan untuk beli ini-beli itu, sehingga dibutuhkan konsultan keuangan untuk menyelamatkan kondisi keuangan mereka, yang pada intinya konsultan keuangan itu hanya mengontrol pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan. (Oprah’s Debt Diet)

Cerita mulai melebar hehe, tapi nanti kembali lagi soal uang. Setelah lelah keliling mall, kami singgah di tempat makan. Sambil ngobrol santai, teman saya lalu membuka pembicaraan yang kurang-lebih seperti ini, ”Berapa ya penghasilan orang-orang ini (maksudnya mereka yang datang ke mall serta sudah berkeluarga), untuk transportasi saja di Surabaya adik saya menghabiskan 600 ribu per bulan (kendaraannya mobil) karena jalanan disini jauh-jauh.” Uang lagi.

Saya jadi teringat cerita teman saya sewaktu berkunjung ke Jakarta saat pemerintah baru saja mengumumkan kenaikan harga bensin menjadi Rp 4.500 per liter, katanya ada spanduk super-kreatif yang bertuliskan solusi untuk mengatasi kenaikan harga ini, rumusnya sangat singkat dan mudah diingat, SBY - JK = Susah Bensin Ya... - ... Jalan Kaki!

Dan berakhir sudah petualangan kami di TP, pengunjung terus berdatangan karena ini malam minggu. Selamat bermalam minggu sobat!

Wednesday, February 21, 2007

Bergulat Dengan Kesibukan

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini, banyak faktor yang bisa dijadikan alasan, salah satunya alasan klasik yaitu kesibukan. Sibuk...ah bisa saja, kerja saja belum apalagi berumah tangga, gaya thok! :)

Dalam beberapa pekan sangat banyak kejadian yang saya simak ataupun terlibat langsung. Dalam panggung politik, saya hanya bisa menjadi penikmat teater nyata yang masih tidak karuan. Ah... Indonesia... masih belum selesai aja masalah-masalahnya, saya tidak akan kaget kalau parodi Republik Mimpi bisa mencapai 1000 episode, mereka mempunyai bahan tertawaan seabrek.

Yang paling mengusik otak ini terutama masalah stok beras. Negara ini terkenal sebagai negara agraris, mata pencahararian sebagaian besar penduduknya adalah petani (setidaknya itu yang telah disamapaikan guru PMP saya dulu, apa mungkin sudah direvisi dan saya tidak tahu ya?). Negara sampai mengimpor beras, rakyat mengantri untuk mendapatkan beras murah, dan tidak mudah tentunya, banyak yang tidak kebagian padahal sudah mengantri. Kalau urusan perut masih bermasalah, produktivitas rakyat untuk berkarya masih jauh panggang dari api, saya pernah mendengar ungkapan kira-kira berbunyi, "Logika berjalan asal logistik terpenuhi." Setuju 100% !

Parade kejadian semacam ini membuat kita sudah kebal akan berita bencana, kita tidak kaget lagi jika mendengar ada bencana yang menelan korban jiwa, pertanyaan yang menyusul berikutnya biasanya, "Berapa korban yang jatuh? 2 orang saja..oh syukurlah." APA! nya manusia sudah demikian tidak berharga lagi, ya mungkin karena itu tadi kita sudah terus dijejali berita-berita bencana yang ironisnya membuat kita sudah biasa, karena yang para pemimpin itu tidak menyelesaikannya dengan benar, sehingga kita kecewa dan cenderung membiarkan saja, sudah mati rasa, sudah kecewa, wajar... urusan karena urusan perut sendiri menjadi makin tidak jelas, kabur... Kebohongan yang diucapkan seribu kali akan menjadi kebenaran.

Namun hidup harus terus berlanjut, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang berkarya dengan sangat nyata di kota Malang yang tercinta ini, yang ingin mempersembahkan karya-karyanya dengan berbagai cara dan gaya masing-masing, mungkin tidak untuk orang banyak, hanya orang-orang terdekat yang ruang lingkupnya tidak besar, namun lebih efektif sekiranya, setidaknya dari yang kecil itu bisa meluas. Ayo berkarya terus kawan-kawan! :)