Senin, ini hari dimana orang-orang kembali beraktivitas. Mereka yang masih sekolah harus upacara. Mereka yang ngantor harus kembali bekerja mengais rupiah. Pengangguran? Selalu hari Minggu untuk mereka. Ibu rumah tangga? Rata-rata bekerja di rumah, mengatur makanan, nonton infotainment, serta pergi ke sanggar senam atau ikut kelas yoga untuk menjaga penampilan.
Sebelum pulang saya masih sempat berkunjung ke beberapa tempat. Tempat pertama di STIKOM, kalau tidak salah kepanjangannya Sekolah Tinggi Ilmu Komputer. Saya kesini untuk mengunjungi kawan saya, ibu Okta yang pada hari-hari sebelumnya belum sempat ditemui. Beliau setiap kali ke Surabaya saya hampir selalu menginap di rumahnya, kecuali kedatangan saya kali ini. STIKOM adalah tempat dimana ia bekerja.
Dua kawan saya yang merupakan mahasiswa di kampus ini Toni dan Hendra tentunya sudah sangat paham lekuk tubuh kampusnya ini. Plus saya dan Poppy, kawan saya dari Unair, akan menjelajah kampus ini. Saya sudah pernah ke Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Kristen Petra di Surabaya, namun STIKOM baru kali ini, pengetahuan saya tentang kampus di Surabaya bertambah lagi.
Seperti biasa, sosok Okta yang bertubuh mungil ini menyambut dengan ramah. Kita mengobrol, tentang organisasi-lah, kabar masing-masing, diselingi bercanda sedikit. Tidak lama namun sudah cukup bagi saya, ini tempat kerja, jangan mengganggu orang yang sedang kerja berlama-lama.
Acara berikutnya tur kampus ini. Saya diajak berkeliling. Gedung kampus STIKOM dibuat tinggi sampai 8 lantai, jadinya jangan harap melihat area hijau disini, sedikit sekali.tapi tempat ini konon sangat ketat, mereka yang tidak memakai sepatu dan baju berkerah jangan harap bisa masuk. Tapi kami semua masuk memakai sandal dan berkaos kok, dengan alasan mau cari informasi soal pendaftaran, namun tetap diperingati oleh pak satpam, jangan ulangi lagi. Disiplin juga. Saya diajak naik sampai di tingkat tertinggi (kalau tidak salah lantai 8). Ada lapangan basket disana, yang bisa digunakan untuk bulutangkis juga acara wisuda.
Three in one deh, serba guna.
Oh ya, di dalam gedung kampus tidak boleh, merokok!
Di tempat kuliah saya, Universitas Brawijaya (Unibraw), saya pernah diberi kuliah oleh dosen sambil merokok, pernah juga sambil mengawasi ujian dosen merokok di kelas. Bebas rokok. Maksudnya bebas merokok. Mahasiswa apalagi. Kita bebas merokok dimana saja. Mungkin karena model kampus Unibraw bukan gedung seperti di STIKOM, lahannya luas, antarfakultas jaraknya tidak terlalu berdekatan. Banyak tempat diluar kampus yang...katakanlah itu taman, terbuka, ada tempat duduknya untuk bersantai...sambil merokok. Mungkin karena terbuka itu sehingga kampus kami bebas merokok.
Kalau di STIKOM, asapnya akan terjebak di gedung sehingga membuat gedung penuh asap. Kenapa tidak disediakan ruang khusus perokok ya? Kita kan bukan anak SMA lagi yang bisa dilarang merokok. Nanti kan bisa tercipta komunitas “ruang perokok”. Siapa tahu disana banyak mengalir ide-ide segar. Saya bukan seorang perokok jadi tempat-tempat seperti itu tidak perlu bagi saya.
Bicara soal rokok, teman saya seorang perokok berat berkata kepada saya bahwa jika dihadapkan pada situasi memilih rokok atau makan, dia akan bingung katanya. Dua-duanya penting. Sewaktu nonton jazz 2 hari yang lalu, teman-teman saya para wanita dokter sangat terganggu dengan mereka yang merokok disampingnya. Dikibas-kibaskan tangan mereka untuk mencegah asap rokok, juga sebagai bahasa tubuh bahwa mereka terganggu, dengan harapan si perokok berhenti merokok. Saya belum pernah melihat cara ini efektif. Perokok tetap asik merokok. Perokok seharusnya menghargai mereka yang terganggu dengan asap rokoknya.
Apa sih enaknya merokok? Meskipun bukan perokok saya punya jawaban untuk pertanyaan ini. Bagi saya saat yang paling enak untuk menyulut batang tembakau itu adalah sehabis makan dengan perut kenyang! Entah, bagi saya nikmat sekali saat-saat sehabis puas makan lalu merokok. Ah, tapi saya tidak kecanduan dan sangat jarang melakukannya. Saya adalah perokok insidental, merokok kalau ditawarkan sebagai lambang persahabatan, dalam sebulan belum tentu ada sekali merokok. Membeli rokok artinya pengeluaran tambahan.
Tujuan berikut setelah berkeliling kampus STIKOM adalah Unair. Kawan saya Poppy ada keperluan sebentar di kampusnya, di fakutas psikologi. Ini kedatangan saya ketiga kalinya ke Unair. Entah ada perubahan atau tidak, karena tidak terlalu memperhatikan keadaan dulu dengan saat ini.
Bukan bermaksud menganggap kampus sendiri lebih baik, tapi penilaian saya Unair kurang hijau, maksudnya kurang banyak tanamannya. Jarak antarfakultasnya terlalu dekat, sehingga terkesan sempit. Namun ada kesamaan dengan Unibraw, ya...apalagi kalau bebas merokok. Lahan Unair lebih luas dari STIKOM. Ini kampus B katanya, kampus A untuk kedokteran, dan masih ada kampus C yang letaknya agak jauh, seingat saya keterangannya seperti itu.
Persinggahan terakhir sebelum pulang yaitu gedung BLPT. Entah apa kepanjangannya. Teman-teman ingin survey harga untuk menyewa gedung ini yang akan dipakai untuk sebuah kegiatan nanti di bulan Mei.
Akhirnya, saya harus pulang ke Malang,
Take Me Home Country Roads, mengutip judul lagu
John Denver. Sejuknya udara Malang membuat kangen. Jajaran pegunungan yang indah,
mountain momma! Minum STMJ di malam hari benar-benar nikmat. Berakhir sudah perjalanan ke Surabaya kali ini, namun ke depan pastinya akan ke Surabaya lagi.
Sayonara Surabaya!
Terima kasih saya ucapkan kepada:
- dr. Lisa, dr. Olivia, dr. Yuli dan rekan-rekannya. (Sudah dokter semua akhirnya)
- Hendra sudah mau ‘menampung’, transportasinya, makan paginya :)
- Toni, Poppy, Dian untuk jalan-jalannya.
- Himawan, Okta, Maisy, Rudi, Youngky, Shanty tidak sempat ngobrol banyak tapi sudah bisa ketemu saya sudah senang :)