Sunday, February 25, 2007

Catatan Perjalanan ke Surabaya I – Susah Bensin Ya.... Jalan Kaki!

Sudah berulang kali saya ke Surabaya, namun kedatangan kali dengan tujuan khusus yaitu nonton pertunjukan jazz, tanggal 10 Februari 2007. Pertunjukan jazz ini menampilkan trio Pra Budidharma, Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan, yang menamakan trio mereka PIG (diambil dari inisial masing-masing). Bubi Chen sang legendaris juga akan tampil dengan nama-nama kondang itu, belumnya kedatangan saya ke Surabaya biasanya kalau tidak rapat organisasi ya ikut kegiatan, yang juga digalang organisasi, kali ini saya mau bersenang-senang! Syukurlah teman-teman saya di Surabaya menyambut dengan hangat dan berbaik hati mau menemani saya.

Karena pertunjukannya masih lama yaitu sekitar jam 20.00, maka dari pagi jalan-jalan dulu dengan dua kawan saya. Sebagai orang yang sudah terbiasa dengan udara sejuk dan lalu lintas yang tidak padat di Malang, kota Surabaya menjadi tidak terlalu bersahabat dalam hal ini, uh...panasnya minta ampun! Sinar mataharinya sangat terik menyengat.

Sebagai kota terbesar kedua dan seperti sebagian kota besar (atau mau jadi besar) di Indonesia, kunjungan wisata utama Surabaya adalah mall, surga belanja. Di Malang, saya bisa dengan mudah menikmati nuansa alam yang sejuk di daerah Batu jika sedang ingin melepas jenuh (namun Malang juga sedang gencar mau menambah mall-nya). Di sana, kita bisa makan jagung ataupun sekedar minum kopi bahkan di tempat tertentu kita tidak perlu belanja hanya untuk sekedar duduk dan bercakap-cakap.

Surabaya memang tidak memiliki tempat seperti ini, namun bagi saya alasan tersebut tetap tidak bisa dijadikan pembenaran untuk terus-menerus membangun surga belanja yang makin bertebaran di sisi-sisi kota Surabaya, yang makin memicu budaya konsumtif di masyarakat. Kita juga terus dijejali iklan-iklan dari berbagai produk di kiri-kanan jalan, BERBAGAI PRODUK lho..termasuk (maaf) kondom, bisa ditemukan di lokasi legendaris gang Dolly, hebat kan hehe. Iklan-iklan tersebut membuat keindahan jalan di Surabaya makin tidak beraturan.

Saya diajak ke Tunjungan Plasa (TP). Bagi saya setiap mall hampir tidak ada bedanya, selain fisik bangunannya, isinya itu-itu saja, menawarkan berbagai macam produk yang lebih mahal dari biasanya. Begitu masuk ke TP seperti menemukan oase di tengah gurun, sejuk sekali udaranya karena tiupan AC, perubahan udaranya drastis sekali.

TP menjadi ikon Surabaya, selain Tugu Pahlawan, Kebun Binatang Surabaya, Hotel Majapahit, dll. Pasca-kemerdekaan mall-mall seperti ini yang akan berdiri sejajar sebagai ikon dengan monumen-monumen bersejarah lainnya. Mall ini besar sekali dan bertingkat-tingkat, berkeliling disana membuat kaki pegal, apalagi hanya melihat-lihat, tidak ada yang dibeli.

Sebagai selingan, pemandangan lain yang dilihat adalah pengunjungnya, terutama para wanitanya hehe. Wanita dengan berbagai model dandanan dan busana bisa dipandang disini. Yang terlintas di pikiran saya, kalau punya pasangan sejenis ini misalnya pasti saya akan diputusin terus (alih-alih dapat pasangan begini, dilirik aja mungkin tidak, tapi namanya juga pengandaian) karena pasti tidak sanggup dan tidak akan mau menghabiskan uang untuk keperluan yang berlebihan.

Saya punya rekan seorang wanita (kebetulan dia tinggal di Surabaya untuk kuliah) yang sangat memperhatikan penampilan, mulai model rambut, kosmetik, bentuk tubuh, pakaian, tas, sepatu, perhiasan, facial, pelangsing bahkan telepon genggam dan sebagainya. Syukurlah dia dapat pria yang berduit. Untuk sekali mewarnai rambut biayanya 800 ribu, facial sepertinya 200-300 ribu, bahkan yang paling fanstastis kalau tidak salah dia pernah membeli lotion pemutih import seharga 2 juta! Belum lagi tiap minggu ke mall, nonton ke biskop atau makan. Kasihan orang tuanya yang harus membiayai semua itu.

Hmmm... betapa pentingnya mengendalikan keinginan-keinginan yang selalu muncul dalam pikiran kita, tidak semua kita butuhkan. Dalam beberapa edisi di Oprah Winfrey Show, ada contoh kasus keluarga yang kondisi keuangannya sekarat karena tidak bisa mengendalikan keinginan untuk beli ini-beli itu, sehingga dibutuhkan konsultan keuangan untuk menyelamatkan kondisi keuangan mereka, yang pada intinya konsultan keuangan itu hanya mengontrol pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan. (Oprah’s Debt Diet)

Cerita mulai melebar hehe, tapi nanti kembali lagi soal uang. Setelah lelah keliling mall, kami singgah di tempat makan. Sambil ngobrol santai, teman saya lalu membuka pembicaraan yang kurang-lebih seperti ini, ”Berapa ya penghasilan orang-orang ini (maksudnya mereka yang datang ke mall serta sudah berkeluarga), untuk transportasi saja di Surabaya adik saya menghabiskan 600 ribu per bulan (kendaraannya mobil) karena jalanan disini jauh-jauh.” Uang lagi.

Saya jadi teringat cerita teman saya sewaktu berkunjung ke Jakarta saat pemerintah baru saja mengumumkan kenaikan harga bensin menjadi Rp 4.500 per liter, katanya ada spanduk super-kreatif yang bertuliskan solusi untuk mengatasi kenaikan harga ini, rumusnya sangat singkat dan mudah diingat, SBY - JK = Susah Bensin Ya... - ... Jalan Kaki!

Dan berakhir sudah petualangan kami di TP, pengunjung terus berdatangan karena ini malam minggu. Selamat bermalam minggu sobat!

No comments: