Malam minggu, jalanan di Surabaya dijejali berbagai jenis kendaraan bermotor, padat sekali. Kami akan menonton pertunjukan jazz. Saya dijemput oleh teman di Malang dulu yang sekarang tinggal di Surabaya, ibu dokter Yuli, yang sekarang kuliah lagi mengambil spesialis ortopedi di Unair. Bersama dua temannya yang semuanya wanita dan dokter. Kebetulan teman barengan saya yang dijemput juga dokter, jadilah saya menjadi pria satu-satunya dalam mobil diapit oleh 4 wanita para dokter.
Berbagai kata-kata asing meluncur dari mulut mereka, bukan soal mall, gaya hidup, kosmetik melainkan istilah-istilah yang berhubungan dengan rumah sakit dan sejenisnya. Tidak ada yang saya mengerti. Mereka orang-orang yang sibuk di rumah sakit tiap harinya, para dokter muda yang mengambil spesialis, wanita pula.
Nah, jaman sekarang wanita tidak boleh lagi dianggap konco wingking yang ikut saja dengan suami dan hanya memasak di dapur. Mereka ini wanita-wanita yang punya kesibukan dan karir. Bagi pria yang masih biasa hidup dalam budaya patriarki jangan harap bisa punya pasangan seorang dokter :)
Tema pertunjukan jazz kali ini adalah Jazz Under the Stars, tempatnya terbuka tapi tetap dipasang tenda, namun syukurlah hujan tidak melanda padahal beberapa hari ini sering hujan katanya. Kami sempat kehabisan tempat, petugasnya sudah berseru, ”TIKET HABIS!” Apa! Yang benar saja...sudah jauh-jauh nih. Kami berada dalam situasi dipertimbangkan karena mereka masih melihat apa masih ada ruang yang bisa dijadikan tempat, menunggu sambil harap-harap cemas, dan...syukurlah masih dapat tempat! Lega... ternyata animo pencinta jazz di Surabaya besar sekali. Kami dapat bonus rokok 1 bungkus dari sponsor, serta minuman.
Band-band lokal yang mengusung musik jazz ditampilkan terlebih dahulu, Jazzy News dan Weekend Project. Para musisi muda ini memang patut diberi panggung untuk mempertunjukkan kemampuan, dan yang paling berharga adalah mendapatkan pengalaman, agar menjadi musisi dengan nama besar kelak.
Akhirnya penampilan yang trio PIG naik ke panggung. Mereka membawakan 4 lagu instrumental. Pra Budidharma pada bas, Gilang Ramadhan menabuh drum, dan Indra Lesmana memainkan alat musik tiup yang ada tutsnya serta keyboard. Komposisi mereka sangat menarik. Kadang di tengah-tengah lagu masing-masing dari mereka berimprovisasi dengan alat musik masing-masing. Tabuhan drum Gilang Ramadhan yang mendapatkan tepuk tangan paling meriah. PIG sudah bermain bersama sejak 1986, waktu yang cukup lama untuk saling mengenal karakter masing-masing. Lagu terakhir dari mereka berupa aransemen dari lagu “Begadang” karya Rhoma Irama, lagunya dibuat menjadi bernuansa jazzy, keren banget!
Setelah tampil bertiga, kini saatnya berkolaborasi dengan sang maestro, Bubi Chen! Om Bubi, begitu beliau biasa disapa, merupakan musisi jazz tanah air yang begitu disegani. Lahir di Surabaya, 9 Februari 1938, om Bubi sejak kecil sudah belajar piano klasik. Namun jazz adalah dunianya. Om Bubi belajar jazz secara otodidak melalui kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957.
Kondisi fisiknya sudah mulai menurun, beliau berjalan dengan bantuan tongkat. Tapi begitu di panggung dan meminkan beberapa nada saja, penonton sudah bersorak dan bertepuk tangan. Luar biasa! Singa tua sedang mengaum! Bubi Chen masih ada, benar-benar seorang musisi besar, penampilannya begitu sederhana dan bersahaja. Beliau masih sanggup menghibur kita semua lewat musiknya.
Bersama Indra Lesmana om Bubi saling berbalas lick jazz. Gaya solo duel semacam ini mendapat sambutan sangat meriah, dalam dunia jazz sepertinya ini cara yang efektif untuk meraih perhatian, setidaknya itu yang disarankan Joe Bennett dalam bukunya.
Lagu pertama kolaborasi itu sangat ketal nuansa jazz dan blues. Penonton mengiringi dengan tepuk tangan, apalagi saat piano om Bubi dimainkan juga oleh Indra Lesmana bersama-sama, berbagi piano, unsur hiburan dalam suatu pertunjukan sangat mutlak agar penonton terhibur. Tidak menyesal menonton pertunjukan seperti ini apalagi jarang, konon ini penampilan PIG yang pertama di kota Surabaya.
Malam ini sangat istimewa, sayang saya tidak sempat minta foto dengan Bubi Chen, padahal beliau tidak dikerubutin penggemar, agak ragu mendekati beliau yang duduk di depan. Tapi kami semua sudah sangat terhibur dengan tontonan yang berkualitas. Malam sampai sekitar jam 23 acara berakhir. Lelah juga hari ini setelah keliling mall dan nonton jazz. Saatnya istirahat!
Bahan bacaan:
1. JUDUL : Cara Cepat dan Mudah Menjadi Gitaris Jazz Andal.
PENULIS : Joe Bennett.
PENERBIT : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004
Berita terkait: wartajazz
Berbagai kata-kata asing meluncur dari mulut mereka, bukan soal mall, gaya hidup, kosmetik melainkan istilah-istilah yang berhubungan dengan rumah sakit dan sejenisnya. Tidak ada yang saya mengerti. Mereka orang-orang yang sibuk di rumah sakit tiap harinya, para dokter muda yang mengambil spesialis, wanita pula.
Nah, jaman sekarang wanita tidak boleh lagi dianggap konco wingking yang ikut saja dengan suami dan hanya memasak di dapur. Mereka ini wanita-wanita yang punya kesibukan dan karir. Bagi pria yang masih biasa hidup dalam budaya patriarki jangan harap bisa punya pasangan seorang dokter :)
Tema pertunjukan jazz kali ini adalah Jazz Under the Stars, tempatnya terbuka tapi tetap dipasang tenda, namun syukurlah hujan tidak melanda padahal beberapa hari ini sering hujan katanya. Kami sempat kehabisan tempat, petugasnya sudah berseru, ”TIKET HABIS!” Apa! Yang benar saja...sudah jauh-jauh nih. Kami berada dalam situasi dipertimbangkan karena mereka masih melihat apa masih ada ruang yang bisa dijadikan tempat, menunggu sambil harap-harap cemas, dan...syukurlah masih dapat tempat! Lega... ternyata animo pencinta jazz di Surabaya besar sekali. Kami dapat bonus rokok 1 bungkus dari sponsor, serta minuman.
Band-band lokal yang mengusung musik jazz ditampilkan terlebih dahulu, Jazzy News dan Weekend Project. Para musisi muda ini memang patut diberi panggung untuk mempertunjukkan kemampuan, dan yang paling berharga adalah mendapatkan pengalaman, agar menjadi musisi dengan nama besar kelak.
Akhirnya penampilan yang trio PIG naik ke panggung. Mereka membawakan 4 lagu instrumental. Pra Budidharma pada bas, Gilang Ramadhan menabuh drum, dan Indra Lesmana memainkan alat musik tiup yang ada tutsnya serta keyboard. Komposisi mereka sangat menarik. Kadang di tengah-tengah lagu masing-masing dari mereka berimprovisasi dengan alat musik masing-masing. Tabuhan drum Gilang Ramadhan yang mendapatkan tepuk tangan paling meriah. PIG sudah bermain bersama sejak 1986, waktu yang cukup lama untuk saling mengenal karakter masing-masing. Lagu terakhir dari mereka berupa aransemen dari lagu “Begadang” karya Rhoma Irama, lagunya dibuat menjadi bernuansa jazzy, keren banget!
Setelah tampil bertiga, kini saatnya berkolaborasi dengan sang maestro, Bubi Chen! Om Bubi, begitu beliau biasa disapa, merupakan musisi jazz tanah air yang begitu disegani. Lahir di Surabaya, 9 Februari 1938, om Bubi sejak kecil sudah belajar piano klasik. Namun jazz adalah dunianya. Om Bubi belajar jazz secara otodidak melalui kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957.
Kondisi fisiknya sudah mulai menurun, beliau berjalan dengan bantuan tongkat. Tapi begitu di panggung dan meminkan beberapa nada saja, penonton sudah bersorak dan bertepuk tangan. Luar biasa! Singa tua sedang mengaum! Bubi Chen masih ada, benar-benar seorang musisi besar, penampilannya begitu sederhana dan bersahaja. Beliau masih sanggup menghibur kita semua lewat musiknya.
Bersama Indra Lesmana om Bubi saling berbalas lick jazz. Gaya solo duel semacam ini mendapat sambutan sangat meriah, dalam dunia jazz sepertinya ini cara yang efektif untuk meraih perhatian, setidaknya itu yang disarankan Joe Bennett dalam bukunya.
Lagu pertama kolaborasi itu sangat ketal nuansa jazz dan blues. Penonton mengiringi dengan tepuk tangan, apalagi saat piano om Bubi dimainkan juga oleh Indra Lesmana bersama-sama, berbagi piano, unsur hiburan dalam suatu pertunjukan sangat mutlak agar penonton terhibur. Tidak menyesal menonton pertunjukan seperti ini apalagi jarang, konon ini penampilan PIG yang pertama di kota Surabaya.
Malam ini sangat istimewa, sayang saya tidak sempat minta foto dengan Bubi Chen, padahal beliau tidak dikerubutin penggemar, agak ragu mendekati beliau yang duduk di depan. Tapi kami semua sudah sangat terhibur dengan tontonan yang berkualitas. Malam sampai sekitar jam 23 acara berakhir. Lelah juga hari ini setelah keliling mall dan nonton jazz. Saatnya istirahat!
Bahan bacaan:
1. JUDUL : Cara Cepat dan Mudah Menjadi Gitaris Jazz Andal.
PENULIS : Joe Bennett.
PENERBIT : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004
Berita terkait: wartajazz
No comments:
Post a Comment