Hari minggu yang cerah, terima kasih untuk kawan saya Hendra yang sudah ‘menampung’ saya selama di Surabaya :) Dia berjanji mau mengajak makan model prasmanan setelah sebelumnya di Malang saya sempat mengajak makan dengan model sejenis. Ambil sendiri. Seperti swalayan. Bedanya yang ditawarkan disini adalah makanan. Sebanyak apapun nasi yang kita ambil harganya akan sama, namun yang belum pernah saya coba, bagaimana cara menghitung harga yang harus dibayar jika sayur yang saya ambil sangat banyak misalnya? Atau disela-sela saat makan saya ingin tambah sayur apakah harga yang dibayar akan bertambah atau tidak? Saya ingin coba suatu saat, tapi untuk hari ini tidak dulu. Lumayan enak juga makanan di warungnya itu.
Sorenya saya kembali diajak ke mall lain yaitu Pakuwon Trade Center (PTC). Seperti biasa isinya itu-itu saja.
Pernak-pernik imlek dan valentine mewarnai suasana mall. Bagi mereka yang akan merayakan hari valentine, parade bunga, boneka, coklat, serta pernak-pernik bergambar hati yang berwarna merah muda siap dibeli. Merah muda..? itu kan warna yang dihubungkan dengan warna perempuan.
Asumsinya, itu kado yang harus diberikan untuk wanita. Terus untuk pria apa dong hadiahnya? Masak cuma coklat atau bunga? Boneka kan leih mahal harganya? Hahaha, katanya cinta tidak boleh diukur dengan uang.
Valentine diasosiasikan dengan ungkapan cinta sepertinya lebih kepada mereka anak muda yang masih pacaran. Ada ungkapan saat pacaran tahi pun rasa coklat, nah hati-hati terhadap coklat valentine yang Anda terima dari pasangan Anda, teliti dulu dengan seksama, jangan-jangan.... :)
Oh iya, ada yang beda di mall PTC. Disini ini ada tempat ibadah! (Saya tidak perlu menyebutkan tempat ibadah umat apa). Di dalam mall-nya lho, bukan di parkirannya.
Tempat ibadah rupanya mengikuti selera jaman juga rupanya, mungkin ini salah satu strategi untuk merangsang anak muda agar mau datang beribadah dan juga bagi yang sudah berkeluarga biar sekalian rekreasi ke mall setelah beribadah.
Adakah tempat-tempat ibadah jaman sekarang melahirkan tokoh-tokoh agama yang bisa dimiliki semua agama seperti Romo Mangun, Romo Sandyawan, Gus Dur, Cak Nun, atau tokoh pembela HAM seperti Munir dan lain-lain?
Saya belakangan meragukan itu. Banyak orang-orang yang mengagung-agungkan agamanya dengan berlebihan sampai memandang agama lain itu jelek, salah, sesat dan berbagai cap lain. Ini bibit-bibit yang menimbulkan perpecahan dan konflik. Sedihnya kita di Indonesia masih rentan terhadap hal yang satu ini. Membunuh orang yang tidak seagama dianggap pantas karena mereka telah melecehkan Tuhan kita. Ada yang menganggap selama rajin berdoa maka dosa-dosa akan diampuni Tuhan, meskipun banyak melakukan kejahatan, mereka akan tetap masuk surga karena Tuhan akan mencintai mereka yang tidak melupakannya. Mereka yang beragama belum tentu lebih baik dari mereka yang tidak beragama, begitu pula sebaliknya, vice versa.
Dalam buku “Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi”, ada dialog yang sangat menarik antara Ulil Abshar-Abdalla dengan Munir. Munir rupanya pernah mengalami fase ekstremitas dalam beragama. Antara tahun 1984-1989 tasnya tidak pernah kosong dari senjata tajam. Agama harus menjadi maslahat (manfaat, win) bagi manusia. (hal. 230). Islam harus memihak pada pihak yang dizalimi. Jadi, Islam tidak memihak kepada Islam, tapi memihak kepada yang dizalimi demi minciptakan keadilan (hal. 232). Dia sepakat kalau Islam menjadi energi bagi kaum tertindas untuk melawan penindasan (hal. 234). Sangat jelas jika dalam kenyataannya Munir tidak pernah membeda-bedakan siapa yang akan dia bela.
Bhikku Maha Ghosananda, seorang pemimpin umat buddha di Kamboja, berkata: Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan vihara kita dan memasui “vihara pengalaman manusia”. Kamp-kamp pengungsian, penjara-penjara, pemukiman kaum minoritas, dan medan-medan pertempuran akan menjadi vihara kita. Beliau berada di Kamboja dalam situasi kehancuran dan pembantaian saat rejim Khmer Merah berkuasa yang menekan dirinya juga.
Huah, memang jenuh dan kadang mengecewakan jika melihat masih belum selesainya konflik yang terjadi di tanah air. Setidaknya apa yang bisa kita lakukan sekecil apapun, mari kita lakukan demi tercapainya perdamaian, setuju?
Hujan deras mengguyur Surabaya malam ini, sewaktu kita makan. Surabaya jelang jam 22.00 masih belum sepi. Di Malang sebelum jam 21.00 jalan sudah mulai sepi. Perbedaan antara kota besar dan kota kecil. Untung tidak hujan kemarin sewaktu nonton jazz. Saya masih tinggal di Surabaya sampai besok, karena kegiatan perkuliahahan masih belum berjalan alias libur. Sweet dream, Surabaya!
Bahan Bacaan:
1. JUDUL : Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi
PENULIS : Merupakan kumpulan tulisan kolega-kolega Munir
EDITOR : Willy Pramudya
PENERBIT : Gagas media, Jakarta, 2004
TEBAL : 290 halaman
2. JUDUL : Doa Sang Pembawa Damai
PENULIS : Maha Ghosananda
PENERJEMAH : Daniel Johan W dan Eddy Setiawan
PENERBIT : Yayasan Pencerahan dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Malang, Malang, 2003
TEBAL : 88 halaman
3. JUDUL : Berita KontraS
EDISI : No. 05 / IX-X / 2004
4. JUDUL : Perzinahan Suci
PENULIS : Aris Wahyudi
PENERBIT : Voxdei Publications, (tempat tidak tercantum), 2005
TEBAL : 311 halaman
Sorenya saya kembali diajak ke mall lain yaitu Pakuwon Trade Center (PTC). Seperti biasa isinya itu-itu saja.
Pernak-pernik imlek dan valentine mewarnai suasana mall. Bagi mereka yang akan merayakan hari valentine, parade bunga, boneka, coklat, serta pernak-pernik bergambar hati yang berwarna merah muda siap dibeli. Merah muda..? itu kan warna yang dihubungkan dengan warna perempuan.
Asumsinya, itu kado yang harus diberikan untuk wanita. Terus untuk pria apa dong hadiahnya? Masak cuma coklat atau bunga? Boneka kan leih mahal harganya? Hahaha, katanya cinta tidak boleh diukur dengan uang.
Valentine diasosiasikan dengan ungkapan cinta sepertinya lebih kepada mereka anak muda yang masih pacaran. Ada ungkapan saat pacaran tahi pun rasa coklat, nah hati-hati terhadap coklat valentine yang Anda terima dari pasangan Anda, teliti dulu dengan seksama, jangan-jangan.... :)
Oh iya, ada yang beda di mall PTC. Disini ini ada tempat ibadah! (Saya tidak perlu menyebutkan tempat ibadah umat apa). Di dalam mall-nya lho, bukan di parkirannya.
Tempat ibadah rupanya mengikuti selera jaman juga rupanya, mungkin ini salah satu strategi untuk merangsang anak muda agar mau datang beribadah dan juga bagi yang sudah berkeluarga biar sekalian rekreasi ke mall setelah beribadah.
Adakah tempat-tempat ibadah jaman sekarang melahirkan tokoh-tokoh agama yang bisa dimiliki semua agama seperti Romo Mangun, Romo Sandyawan, Gus Dur, Cak Nun, atau tokoh pembela HAM seperti Munir dan lain-lain?
Saya belakangan meragukan itu. Banyak orang-orang yang mengagung-agungkan agamanya dengan berlebihan sampai memandang agama lain itu jelek, salah, sesat dan berbagai cap lain. Ini bibit-bibit yang menimbulkan perpecahan dan konflik. Sedihnya kita di Indonesia masih rentan terhadap hal yang satu ini. Membunuh orang yang tidak seagama dianggap pantas karena mereka telah melecehkan Tuhan kita. Ada yang menganggap selama rajin berdoa maka dosa-dosa akan diampuni Tuhan, meskipun banyak melakukan kejahatan, mereka akan tetap masuk surga karena Tuhan akan mencintai mereka yang tidak melupakannya. Mereka yang beragama belum tentu lebih baik dari mereka yang tidak beragama, begitu pula sebaliknya, vice versa.
Dalam buku “Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi”, ada dialog yang sangat menarik antara Ulil Abshar-Abdalla dengan Munir. Munir rupanya pernah mengalami fase ekstremitas dalam beragama. Antara tahun 1984-1989 tasnya tidak pernah kosong dari senjata tajam. Agama harus menjadi maslahat (manfaat, win) bagi manusia. (hal. 230). Islam harus memihak pada pihak yang dizalimi. Jadi, Islam tidak memihak kepada Islam, tapi memihak kepada yang dizalimi demi minciptakan keadilan (hal. 232). Dia sepakat kalau Islam menjadi energi bagi kaum tertindas untuk melawan penindasan (hal. 234). Sangat jelas jika dalam kenyataannya Munir tidak pernah membeda-bedakan siapa yang akan dia bela.
Bhikku Maha Ghosananda, seorang pemimpin umat buddha di Kamboja, berkata: Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan vihara kita dan memasui “vihara pengalaman manusia”. Kamp-kamp pengungsian, penjara-penjara, pemukiman kaum minoritas, dan medan-medan pertempuran akan menjadi vihara kita. Beliau berada di Kamboja dalam situasi kehancuran dan pembantaian saat rejim Khmer Merah berkuasa yang menekan dirinya juga.
Huah, memang jenuh dan kadang mengecewakan jika melihat masih belum selesainya konflik yang terjadi di tanah air. Setidaknya apa yang bisa kita lakukan sekecil apapun, mari kita lakukan demi tercapainya perdamaian, setuju?
Hujan deras mengguyur Surabaya malam ini, sewaktu kita makan. Surabaya jelang jam 22.00 masih belum sepi. Di Malang sebelum jam 21.00 jalan sudah mulai sepi. Perbedaan antara kota besar dan kota kecil. Untung tidak hujan kemarin sewaktu nonton jazz. Saya masih tinggal di Surabaya sampai besok, karena kegiatan perkuliahahan masih belum berjalan alias libur. Sweet dream, Surabaya!
Bahan Bacaan:
1. JUDUL : Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi
PENULIS : Merupakan kumpulan tulisan kolega-kolega Munir
EDITOR : Willy Pramudya
PENERBIT : Gagas media, Jakarta, 2004
TEBAL : 290 halaman
2. JUDUL : Doa Sang Pembawa Damai
PENULIS : Maha Ghosananda
PENERJEMAH : Daniel Johan W dan Eddy Setiawan
PENERBIT : Yayasan Pencerahan dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Malang, Malang, 2003
TEBAL : 88 halaman
3. JUDUL : Berita KontraS
EDISI : No. 05 / IX-X / 2004
4. JUDUL : Perzinahan Suci
PENULIS : Aris Wahyudi
PENERBIT : Voxdei Publications, (tempat tidak tercantum), 2005
TEBAL : 311 halaman
No comments:
Post a Comment