Sunday, March 18, 2007

G3 Beraksi! (Semoga ada DVD-nya)

G3 kembali beraksi! Konser keliling pertama mereka di tahun 2007 digelar di berbagai kota di Amerika dan Kanada, start 14 Maret. Konsepnya seperti konser-konser sebelumnya, tiga gitaris yang mengusung musik rock, kebanyakan instrumental rock, akan tampil menunjukkan kebolehan masing-masing sebelum berkolaborasi pada sesi terakhir.

Line-up gitaris yang berpatisipasi kali ini adalah John Petrucci, Paul Gilbert, dan tentunya sang dedengkot Joe Satriani (dan Steve Vai, kemana ya dia?). Konsep G3 memang selalu mengundang gitaris-gitaris handal untuk bermain bersama Satriani dan Vai. Nama-nama yang sudah tidak perlu diragukan lagi dalam kancah petik-memetik gitar, virtuoso semua.

Pada konser perdananya tahun 1996 mereka menampilkan Eric Johnson. Selebihnya Adrian Legg, Kenny Wayne Shepherd, Robert Fripp,
Michael Schenker, Uli Jon Roth, Yngwie Malmsteen, John Petrucci, Paul Gilbert mengisi panggung G3.

Paul Gilbert akan melakukan penampilan perdananya berkolaborasi dalam G3. Dikenal dengan almarhum band Mr. Big dengan hit kondangnya “To Be With You.” Permainan gitarnya luar biasa! (kalau tidak luar biasa mana bisa diundang ke G3 :D ). Bagaimana penampilannya dalam G3? Patut dinanti!

John Petrucci si dedengkot band Dream Theater juga tidak akan kalah. Pentolan Berklee College of Music yang tersohor itu ini akan bergabung untuk kelima kalinya dalam tur keliling Amerika Utara G3 ini.

Namun saya kok merasa ada yang kurang kalau tidak ada
Steve Vai. Orang satu ini jagoan banget permainannya, sudah lebih hebat dari gurunya si Joe Satriani. Aksinya di atas panggung sangat menghibur sehingga kita juga menonton pertunjukan yang menarik selain menikmati musik, namanya juga pertunjukan, orangnya kelihatan, bukan mendengar dari radio, aksi panggung akan memberi nilai plus.

The show must go on, tiga jagoan ini akan mengamen keliling di kota-kota besar di Amerika. Kapan ya G3 bisa singgah ke Indonesia? Tahun 2005 Jepang menjadi negara Asia pertama yang disinggahi G3, dan langsung didokumentasikan dalam bentuk DVD, keren! Semoga tur kali ini dirilis DVD-nya, ingin lihat Paul Gilbert :D

Tapi ngomong-ngomong, poster promosinya kok kurang menarik, kurang wah, terkesan seperti
poster T-bone walker hanya diberi warna saja :-)

Berita terkait:
Jadwal tur G3

Thursday, March 15, 2007

Tips Rahasia Gitaris Tua Itu

“Kita ini ’kan harus mencetak produk yang baik, bukan hanya IQ-nya saja yang tinggi tapi juga memiliki iman yang bagus juga.”

Lho produk apa ini? Komputer super pintar? Berbagai film siksi-ilmiah sudah membuat kita berfantasi kalau suatu hari nanti bisa diciptakan sebuah mesin yang bisa diperintah biar bisa meringankan tugas manusia, mungkin seperti Robocop, mesin setengah manusia, tidak kenal capek anti-peluru pula, polisi akan sangat terbantu jika memang Robocop bisa kita ciptakan.

Atau seperti film Judge Dredd, manusia hasil kloning, yang diramu dari unsur genetik orang hakim ngetop di kota “Mega-City One”-nya, dicampur-aduk entah gimana caranya, lalu jadilah Dredd, polisi unggulan yang taat hukum.

Mau buat robot, pak?

Bukan, bukan. Bapak yang gitaris dan pemilik sebuah studio musik ini suatu ketika mengajak saya dan teman ngobrol di rumahnya. Dia sangat bangga dengan anaknya yang masih berumur 5 tahun yang dia perkirakan memiliki IQ yang bagus. Indikatornya? Dia berbeda dengan anak lain, yang senang menimpali pembicaraan yang dilakukan orang dewasa, nyambung dikit gitu. Cara bicaranya lebih lancar dari teman sebayanya yang masih ‘anak-anak’ banget. Pokoknya dia senang dengan si kecil yang satu ini.

Produk kebanggaan bapak ini berupa seorang manusia. Konon, untuk ‘membuat’ seorang anak yang pintar dan beriman pula, ada cara-caranya. Persiapannya harus matang, direncanakan, sebelum akhirnya ‘membuat’ produk ini.

Bagaimana caranya? Dia belum mau berbagi. “Nanti kalau kamu sudah mau nikah tak kasih cara-caranya.” Mungkin beliau takut kalau tipsnya langsung dipraktekkan oleh kami anak muda ini :)

Tidak asal buat, ternyata mencetak anak juga harus disiapkan dengan matang. Manusia yang tidak hanya cerdas intelegensinya dan juga bagus imannya. Tentunya juga harus diimbangi dengan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Makanya sangat disayangkan jika belakangan ini sangat marak bayi yang baru lahir lalu sudah ditinggal begitu saja oleh ibunya, bahkan banyak yang langsung dicabut nyawanya.

Banyak juga yang akhirnya terpaksa menikah di usia muda, karena terlanjur membuat ‘produk’, agar menghindari cap berzinah. Apa jadinya jika menikah tanpa perencanaan begitu, di saat gelora muda masih ingin bepergian kesana kemari tiba-tiba harus terbelenggu oleh tanggung jawab. Tidak sedikit akhirnya rumah tangga itu juga berjalan amburadul, akhirnya anak yang tidak bersalah mentalnya jadi tidak karu-karuan, tertekan, akhirnya mereka tumbuh menjadi anak yang kurang perhatian, yang berbahaya dikuatirkan perilaku mereka jadi destruktif, tumbuh menjadi ‘produk’ yang tidak sehat.

Saya pernah berkunjung ke rumah penampungan anak-anak yang dikelola oleh suster dari komunitas Katolik. Ada yang cacat, yang paling muda sedari kandungan sudah diserahkan oleh suster, ibunya masih SMP katanya, kemudian gadis kecil itu lalu diperkenalkan ke saya. Kasihan. Tatapan matanya polos sekali, dia belum bisa bicara. Mereka tidak bersalah sama sekali. Mereka korban dari nafsu sesaat pasangan muda yang tidak berpikir panjang. Untung masih ada orang-orang yang peduli seperti para suster ini. Semua elemen pemerintahan, kemasyarakatan, keagamaan harus saling bekerja sama rasanya untuk menciptakan pertumbuhan anak manusia yang baik, biar negara ini tidak kehilangan generasi mudanya.

Mungkin bisa juga disisipkan saran dari seorang gitaris tua, bagaimana mencetak anak bermutu tinggi :-)

Di Warung STMJ Kita Berkisah...

Ngobrol santai merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan. Pembicaraannya yang terjadi terkadang serius, namun dengan suasana yang rileks. Tempatnya, dimana saja. Di warung atau kafe menjadi salah satu tempat favorit. Para pengelola kafe dibuat berpikir kreatif untuk menyediakan suasana yang nyaman, tidak lupa makanan dan minuman yang pas di lidah. Kita tinggal pilih mana yang sesuai dengan selera dan kantong kita, dari yang paling mahal serta kelas mahasiswa penunggak biaya kos berbulan-bulan.
Di Malang, saya salah satu tempat yang favorit saya untuk ngobrol adalah warung STMJ. Susu, madu, telur, jahe, dipadukan jadi satu. Bisa juga kita hilangkan salah satu elemen STMJ kalau tidak cocok dengan selera, yang jelas susu harus ada sebagai benda cairnya (bisa menjadi SMJ, STJ, STM, SJ, SM, ST, atau S saja). Kapan pertama kali STMJ ditemukan atau siapa yang meramu masih belum saya ketahui. Perkawinan yang tepat antara suasana dingin kota Malang di malam hari dengan hangatnya STMJ sangat pas untuk menemani pembicaraan.

Tempat warungnya sederhana, di tepi jalan, mungkin tidak tepat juga kalau disebut warung, yang jelas tempat seperti ini tersebar di seluruh Malang. Para pencari suasana santai berdatangan ke tempat-tempat ini.

Apa yang dibicarakan? Macam-macam. Terkadang seluk-beluk kampus (bagi yang mahasiswa), mengomentari nilai yang diberi dosen kepada kita sebagai simbolisasi bodoh-pintarnya mahasiswa, kebijakan-kebijakan kampus, aktivitas mahasiswa, hujat-menghujat dosen (hahaha) dan sebagainya. Canda-tawa tak lepas dari topik-topik yang dibicarakan, hal yang mengendurkan urat-urat yang kaku setelah aktivitas sehari-hari.

Topik lain? Kondisi negara. Mulai dari mengomentari peristiwa politik yang terjadi, kebijakan pemerintah, bencana alam, kondisi sosial, perekonomian, pertahanan negara. Misalnya menanggapi harga beras yang naik, pertama yang dibahas apakah harga nasi di warung akan ikut naik, berbagai prediksi pun bermunculan, menebak-nebak segala kemungkinan yang akan terjadi, soalnya ini persoalan kongkrit, bersentuhan langsung dengan perut, setelah itu baru dibahas isu politiknya.

Berbagi pengalaman hidup juga menjadi topik unggulan, dijamin akan mendapatkan pendengar setia. Mendengar dengan hati juga merupakan bentuk komunikasi yang baik katanya.

Tak jarang ide-ide atau inspirasi pun bermunculan, mengalir begitu saja. Inspirasi bisa datang kapan saja dimana saja. Dari sesuatu yang tidak direncanakan menjadi serius digarap. Si Newton duduk dibawah pohon apel saja bisa menjadi merumuskan hukum gravitasi.

Sekedar nongkrong sambil menikmati minuman adalah kegiatan mengisi waktu luang yang belum tentu wasting time, kita bisa rileks namun juga bisa serius. Tempatnya silahkan pilih sesuai selera masing-masing. Tapi kalau sempat silahkan coba sambil minum STMJ di Malang : )

Friday, March 9, 2007

Bisa Juga Kau, Mas!


Terlihat tidak banyak berubah bukan berarti tidak merencanakan sesuatu. Benar-benar mengejutkan dan sangat tidak terduga, tiba-tiba undangan pernikahannya datang begitu saja!. Akhirnya kawan saya yang satu ini, Mas Yudho, biasa saya sapa demikian, akan melalui salah satu faset yang akan dikenang seumur hidupnya, meminang wanita idamannya, hari Sabtu 10 Maret 2007.

Padahal baru saja saya melewati masa-masa dimana dia masih membujang, belum bertemu dengan sang calon istri. Saya dengan beliau sempat mempunyai ketertarikan yang sama terhadap brazilian jiu-jitsu (BJJ). Karena ukuran tubuh kami relatif sama, maka jadilah kami saling menjadi sparring partner satu sama lain. Olahraga judo yang dimodifikasi keluarga Gracie dari Brasil ini akhirnya menjadi santapan dalam beberapa bulan. Di atas matras, dua pria kelas bulu amatir ini jadi saling tarik-menarik, banting-bantingan, bergulat, saling cari celah untuk membuat lawannya menyerah dengan berbagai teknik kuncian, tanpa wasit, tanpa mempedulikan resiko cedera, keringat membanjiri tubuh, otot-otot bekerja sangat keras, namun kami tetap senang.

Tidak ada dendam dalam pertarungan ‘bohong-bohongan’ ini. Yang ada saling memberitahu kelemahan masing-masing. Saya selalu dikalahkannya, paling tinggi hanya bisa menahan seri, itupun karena sudah kehabisan nafas. Namun itu semua cepat berlalu, karena olahraga ini terlalu berat dan membutuhkan latihan yang sangat intens, perlahan tapi pasti pertarungan itu tidak pernah terjadi lagi.

Ada satu yang lucu dari perokok berat ini. Dia suka nonton film kartun One Piece saat minggu pagi, yang membuat dia enggan jika diajak latihan di hari tersebut. Hal ini menjadi bahan ejekan bagi saya dan teman-teman, masak usia sudah segitu masih nonton One Piece rek. Perbedaan usia saya dengan mas Yudho 11 tahun, betapa jauhnya. Tapi tidak ada kendala komunikasi hanya karena perbedaan usia itu. Ada yang bilang tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Berarti selama ini kita sudah saling dewasa-kah sehingga masih belum terjadi kendala komunikasi? :-) (atau Mas Yudo yang kekanak-kanakan, hahaha))

Namun terkadang sisi kekanak-kanakan tersebut perlu kita punyai. Bagaimanapun kita semua pernah jadi anak-anak. Mata berbinar-binar takjub saat menemukan sesuatu yang baru serta kepolosan ala anak-anak justru, bagi saya, adalah hal yang sangat menyenangkan. Mas Yudho punya sisi itu!

Sarjana teknik arsitektur ini akhirnya harus mengarsiteki bangunan kehidupannya, memasang fondasi cinta bagi gedung bernama keluarga bahagia yang akan segera dibangunnya. Adakah kawan tidak ikut berbahagia melihat ‘seniornya’ ini akan melepas masa lajangnya? Rasanya tidak ada, kami semua turut berbahagia atas ‘prestasi’ ini :-) Meneng-meneng moro-moro nggowo undangan rek!

Selamat berbahagia mas Yudho, kita semua berharap agar kehidupan rumah tangga yang akan dibina bisa langgeng, lancar rejekinya, serta sehat selalu.

Pesan nakal : Kuncian sing digawe ngunci aku ojo ‘dipraktekno’ yo mas, ojo banting-bantingan maneh saiki , sing lembut ngono loh :-)