Friday, March 9, 2007

Bisa Juga Kau, Mas!


Terlihat tidak banyak berubah bukan berarti tidak merencanakan sesuatu. Benar-benar mengejutkan dan sangat tidak terduga, tiba-tiba undangan pernikahannya datang begitu saja!. Akhirnya kawan saya yang satu ini, Mas Yudho, biasa saya sapa demikian, akan melalui salah satu faset yang akan dikenang seumur hidupnya, meminang wanita idamannya, hari Sabtu 10 Maret 2007.

Padahal baru saja saya melewati masa-masa dimana dia masih membujang, belum bertemu dengan sang calon istri. Saya dengan beliau sempat mempunyai ketertarikan yang sama terhadap brazilian jiu-jitsu (BJJ). Karena ukuran tubuh kami relatif sama, maka jadilah kami saling menjadi sparring partner satu sama lain. Olahraga judo yang dimodifikasi keluarga Gracie dari Brasil ini akhirnya menjadi santapan dalam beberapa bulan. Di atas matras, dua pria kelas bulu amatir ini jadi saling tarik-menarik, banting-bantingan, bergulat, saling cari celah untuk membuat lawannya menyerah dengan berbagai teknik kuncian, tanpa wasit, tanpa mempedulikan resiko cedera, keringat membanjiri tubuh, otot-otot bekerja sangat keras, namun kami tetap senang.

Tidak ada dendam dalam pertarungan ‘bohong-bohongan’ ini. Yang ada saling memberitahu kelemahan masing-masing. Saya selalu dikalahkannya, paling tinggi hanya bisa menahan seri, itupun karena sudah kehabisan nafas. Namun itu semua cepat berlalu, karena olahraga ini terlalu berat dan membutuhkan latihan yang sangat intens, perlahan tapi pasti pertarungan itu tidak pernah terjadi lagi.

Ada satu yang lucu dari perokok berat ini. Dia suka nonton film kartun One Piece saat minggu pagi, yang membuat dia enggan jika diajak latihan di hari tersebut. Hal ini menjadi bahan ejekan bagi saya dan teman-teman, masak usia sudah segitu masih nonton One Piece rek. Perbedaan usia saya dengan mas Yudho 11 tahun, betapa jauhnya. Tapi tidak ada kendala komunikasi hanya karena perbedaan usia itu. Ada yang bilang tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Berarti selama ini kita sudah saling dewasa-kah sehingga masih belum terjadi kendala komunikasi? :-) (atau Mas Yudo yang kekanak-kanakan, hahaha))

Namun terkadang sisi kekanak-kanakan tersebut perlu kita punyai. Bagaimanapun kita semua pernah jadi anak-anak. Mata berbinar-binar takjub saat menemukan sesuatu yang baru serta kepolosan ala anak-anak justru, bagi saya, adalah hal yang sangat menyenangkan. Mas Yudho punya sisi itu!

Sarjana teknik arsitektur ini akhirnya harus mengarsiteki bangunan kehidupannya, memasang fondasi cinta bagi gedung bernama keluarga bahagia yang akan segera dibangunnya. Adakah kawan tidak ikut berbahagia melihat ‘seniornya’ ini akan melepas masa lajangnya? Rasanya tidak ada, kami semua turut berbahagia atas ‘prestasi’ ini :-) Meneng-meneng moro-moro nggowo undangan rek!

Selamat berbahagia mas Yudho, kita semua berharap agar kehidupan rumah tangga yang akan dibina bisa langgeng, lancar rejekinya, serta sehat selalu.

Pesan nakal : Kuncian sing digawe ngunci aku ojo ‘dipraktekno’ yo mas, ojo banting-bantingan maneh saiki , sing lembut ngono loh :-)

No comments: