“Kita ini ’kan harus mencetak produk yang baik, bukan hanya IQ-nya saja yang tinggi tapi juga memiliki iman yang bagus juga.”
Lho produk apa ini? Komputer super pintar? Berbagai film siksi-ilmiah sudah membuat kita berfantasi kalau suatu hari nanti bisa diciptakan sebuah mesin yang bisa diperintah biar bisa meringankan tugas manusia, mungkin seperti Robocop, mesin setengah manusia, tidak kenal capek anti-peluru pula, polisi akan sangat terbantu jika memang Robocop bisa kita ciptakan.
Atau seperti film Judge Dredd, manusia hasil kloning, yang diramu dari unsur genetik orang hakim ngetop di kota “Mega-City One”-nya, dicampur-aduk entah gimana caranya, lalu jadilah Dredd, polisi unggulan yang taat hukum.
Lho produk apa ini? Komputer super pintar? Berbagai film siksi-ilmiah sudah membuat kita berfantasi kalau suatu hari nanti bisa diciptakan sebuah mesin yang bisa diperintah biar bisa meringankan tugas manusia, mungkin seperti Robocop, mesin setengah manusia, tidak kenal capek anti-peluru pula, polisi akan sangat terbantu jika memang Robocop bisa kita ciptakan.
Atau seperti film Judge Dredd, manusia hasil kloning, yang diramu dari unsur genetik orang hakim ngetop di kota “Mega-City One”-nya, dicampur-aduk entah gimana caranya, lalu jadilah Dredd, polisi unggulan yang taat hukum.
Mau buat robot, pak?
Bukan, bukan. Bapak yang gitaris dan pemilik sebuah studio musik ini suatu ketika mengajak saya dan teman ngobrol di rumahnya. Dia sangat bangga dengan anaknya yang masih berumur 5 tahun yang dia perkirakan memiliki IQ yang bagus. Indikatornya? Dia berbeda dengan anak lain, yang senang menimpali pembicaraan yang dilakukan orang dewasa, nyambung dikit gitu. Cara bicaranya lebih lancar dari teman sebayanya yang masih ‘anak-anak’ banget. Pokoknya dia senang dengan si kecil yang satu ini.
Produk kebanggaan bapak ini berupa seorang manusia. Konon, untuk ‘membuat’ seorang anak yang pintar dan beriman pula, ada cara-caranya. Persiapannya harus matang, direncanakan, sebelum akhirnya ‘membuat’ produk ini.
Bagaimana caranya? Dia belum mau berbagi. “Nanti kalau kamu sudah mau nikah tak kasih cara-caranya.” Mungkin beliau takut kalau tipsnya langsung dipraktekkan oleh kami anak muda ini :)
Tidak asal buat, ternyata mencetak anak juga harus disiapkan dengan matang. Manusia yang tidak hanya cerdas intelegensinya dan juga bagus imannya. Tentunya juga harus diimbangi dengan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Makanya sangat disayangkan jika belakangan ini sangat marak bayi yang baru lahir lalu sudah ditinggal begitu saja oleh ibunya, bahkan banyak yang langsung dicabut nyawanya.
Banyak juga yang akhirnya terpaksa menikah di usia muda, karena terlanjur membuat ‘produk’, agar menghindari cap berzinah. Apa jadinya jika menikah tanpa perencanaan begitu, di saat gelora muda masih ingin bepergian kesana kemari tiba-tiba harus terbelenggu oleh tanggung jawab. Tidak sedikit akhirnya rumah tangga itu juga berjalan amburadul, akhirnya anak yang tidak bersalah mentalnya jadi tidak karu-karuan, tertekan, akhirnya mereka tumbuh menjadi anak yang kurang perhatian, yang berbahaya dikuatirkan perilaku mereka jadi destruktif, tumbuh menjadi ‘produk’ yang tidak sehat.
Saya pernah berkunjung ke rumah penampungan anak-anak yang dikelola oleh suster dari komunitas Katolik. Ada yang cacat, yang paling muda sedari kandungan sudah diserahkan oleh suster, ibunya masih SMP katanya, kemudian gadis kecil itu lalu diperkenalkan ke saya. Kasihan. Tatapan matanya polos sekali, dia belum bisa bicara. Mereka tidak bersalah sama sekali. Mereka korban dari nafsu sesaat pasangan muda yang tidak berpikir panjang. Untung masih ada orang-orang yang peduli seperti para suster ini. Semua elemen pemerintahan, kemasyarakatan, keagamaan harus saling bekerja sama rasanya untuk menciptakan pertumbuhan anak manusia yang baik, biar negara ini tidak kehilangan generasi mudanya.
Mungkin bisa juga disisipkan saran dari seorang gitaris tua, bagaimana mencetak anak bermutu tinggi :-)
No comments:
Post a Comment