
Di sebuah desa, ya katakanlah desa, sangat hijau dan tertata rapih, tidak ada sampah berserakan, airnya bersih, polusi pun hampir tidak ada karena penduduk lebih banyak menggunakan sepeda. Untuk bepergian agak jauh ada kereta yang melaju di atas rel dengan teknologi ramah lingkungan, tanpa bahan bakar minyak.
Disana perkembangan seni, budaya, sastra sangat diapresiasi. Ada sebuah panggung yang disediakan, panggung yang besar, untuk menampilkan pertunjukan-pertunjukan tersebut. Berbagai pertunjukan teater dari belahan dunia manapun hampir bisa ditemui disini. Siti Nurbaya, Malinkundang, Tangkuban Perahu, sampai Sampek dan Engtay, Romeo dan Juliet, Roro Mendut dan Pronocitro, semua ada disini.
Baca puisi, lomba menulis, lomba mewarnai pun ada. Hasil karya mereka lalu dibukukan, dijual, dan yang pasti disimpan di perpustakaan dengan rapih sebagai bukti sejarah sastra, profil para kreator pun tidak lupa ditampilkan agar seluruh desa dan pengunjung dari desa lain bisa mengenal mereka.
Dari panggung itu juga kita bisa melihat pertunjukan musik dan tari. Tari dari Rusia, Jepang, India, Mesir, Kongo, dan Indonesia sendiri ada semua. Musik jazz, blues, rock bisa berdampingan dengan damai bersama campursari, dangdut, melayu bahkan shalawat, koor gereja, nyanyian buddhisme Tibet, pujian terhadap Krishna, Saraswati, dan banyak lagi.
Bagi pengunjung dari desa lain atau turis bisa mendapat informasi dari pusat-pusat informasi yang tersebar di berbagai lokasi. Brosur-brosurnya selalu diperbaharui, menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Selalu ada informasi mengenai event-event yang akan berlangsung, jalur transportasi, info penginapan, dan petugasnya ramah serta tahu betul apa yang harus diberitakan. Pariwisata pun berjalan lancar.
Ekonomi berjalan baik. Mereka yang berkebun tidak membabat hutan sembarangan untuk membuka areal kebun, yang bertani tidak menggunakan bahan kimia, pokoknya tidak merugikan lingkungan, hasilnya dikonsumsi oleh warga desa dan juga dikirim ke desa lain yang membutuhkan, desa lain juga membawa hasil buminya yang dibutuhkan desa ini.
Pejabat bekerja karena memang ingin mengabdi untuk mengatur desa, guru mengajar karena memang ingin mengajar, mengerjakan pekerjaan dengan hati, akhirnya siswa pun senang, belajar jadi santai, nalar berjalan etika terjaga.
Biaya sebagian besar desa-desa yang makmur itu datang dari orang-orang terkaya dunia, yang membagi-bagikan kekayaannya secara merata, untuk membangun semua desa di seluruh dunia. Urusan perut beres, logika berjalan, kesemrawutan lumayan bisa diatasi.
Suatu hari sambil duduk di taman, saya duduk dengan santai sambil menyanyi ditemani........
“DHUAAAAAAAAAAR!”
Kaget.
“Dasar, kamu bikin kaget saja.”
“Kamu sih asik sekali menghayal dari tadi, apa yang kamu pikirkan?”
Cerita.
“Walah, desa utopi, impian, kamu ini pengikut Marx ya?”
“Daripada berpikir jorok. Marx...siapa itu?”
“Yah, cita-citanya untuk mewujudkan sebuah masayarakat tanpa kelas, modal dikelola bersama, lalu dia punya teori-teori untuk mewujudkan itu, kamu ikuti aja caranya.”
“Nggak tau ah, saya tidak tau soal itu, emang dia berhasil?”
“Tidak juga sih.”
“Ya sudah, kasihan juga ya kawan Marx itu. Aku tidak mau tau tentang Marx atau teori apalah...Pokoknya tau-tau menghayal saja.”
“Memangnya kamu dapat apa setelah menghayal? Daripada menghayal mending bekerja sana, rencanakan hidupmu lebih matang di ranah penuh persaingan ini.”
“Ya tidak dapat apa-apa sih, itulah pikiran...liar. Iya, iya, pasti akan berusaha.” (kaya tidak pernah menghayal saja, khayalannya saru lagi biasanya)
“Hahaha, lumrah saja kok, setiap orang ya pasti pernah mengkhayal.” (Tuh kan)
“Oke oke terima kasih sudah mengagetkan aku, kamu juga kembali menghayal saru sana.”
“Hahaha, dasar, mau diceritain ya, kalau begitu selamat melanjutkan aktifitasmu kembali.”
“Hahaha, oke, thanks bro.”
Dan kembalilah beraktifitas lagi. Pikiran liar katanya harus dilatih biar tidak suka mengawang menerawang sesuatu yang tidak kejadian, tidak berguna memang.