Masa depan adalah tidak tentu, penuh misteri, dan mungkin karena itu banyak yang jadi penasaran karenanya. Seseorang jadi semakin penasaran lagi karena ternyata ada beberapa orang yang konon bisa melihat masa depan. Mereka yakin, setidaknya jika dibacakan masa depannya mereka bisa lebih tenang, atau malah sebaliknya, makanya butuh kesiapan mental juga dari seseorang yang akan diramal, begitu katanya.
Omong-omong soal itu, saya pernah diramal setidaknya oleh dua orang, juga pernah menjadi...TUKANG RAMAL!. Yang pertama dengan cara Feng Shui. Beliau menampik kalau dikatakan meramal, tapi membaca kondisi saja serta potensi-potensi kita. Okelah.
Tanggal, bulan, tahun dan jam lahir saya diminta. Lalu dimasukkan semua data itu ke komputer. Sekali lagi dia mempertegas, “Feng Shui itu ilmu, hitungan murni, bukan menggunakan indera ke-enam.” Okelah. Setelah itu keluarlah sejumlah data ala Feng Shui di komputer. “Nah sudah ketahuan semua, siapa anda sebenarnya!,” tegasnya dengan sangat yakin.
Begini analisanya. Pertama, saya dikatakan seorang pemimpin, tidak akan bisa bekerja untuk seseorang karena tidak akan pernah cocok, kalau pun bekerja untuk orang rejeki saya nantinya malah untuk orang itu. Eman-eman, mending aku kerja sendiri. Not bad, usul yang bagus, negara ini butuh banyak para wirausahawan katanya.
Kedua, untuk menunjang itu semua saya disarankan memakai asesoris logam seumur hidupku, katanya unsur logam saya sangat sedikit hampir tidak ada. Yang ini berbau ‘mistis’.
Ketiga, saya adalah orang dengan banyak ide, namun tidak pernah merealisasikannya, lalu disarankan untuk menuangkan semua isi kepala saya ke dalam bentuk tulisan, jangan didiamkan begitu saja. Oke, saran ini masih bisa diterima.
Keempat, kesehatan saya rawan di daerah paru-paru. Oh, sedemikian detailnya. Padahal saya bukan seorang perokok. Atau mungkin tiba-tiba ketularan TBC, bisa jadi.
Kelima, dalam dunia perjodohan saya akan mengalami saat-saat yang sangat romantis dan tidak ada halangan berarti. Semoga benar adanya :D Demikian analisis ahli Feng Shui itu.
Di lain kesempatan saya diramal tukang ramal yang kedua dengan cara agak unik. Full mistis kalau yang ini (katanya bisa berkomunikasi dengan mahluk lain). Dan sarannya pun juga unik, seunik metoda ramalnya. Saya disarankan harus punya adik perempuan untuk menunjang nasib baik saya. Titik. Selesai. Hanya demikian tanpa saran yang berarti. Saya adalah kakak dari dua adik lelaki. Kami semua sudah dewasa dan ibu saya tidak mungkin punya anak lagi. Yang ini super ngawur, lebih baik saya mencari mantu yang baik untuk ibu saya daripada nyari adik perempuan.
Lalu saya pernah juga menjadi tukang ramal dadakan, dengan pasien wanita semua (hehe). Ceritanya suatu kali saya membaca sekilas buku palmistri, metoda pembacaan jalan hidup dengan menelisik guratan-guratan di telapak tangan. Garis-garis tersebut merepresentasikan rejeki, kesehatan, kecerdasan, watak, dan...jodoh (ini pertanyaan populer, pasien biasanya berputar-putar dahulu sebelum menanyakan hal ini).
Iseng lah saya melihat garis tangan kawan saya, mahasiswi kedokteran, tanpa maksud untuk meramal, tanpa memenyentuh tangannya sedikitpun. Ada dua kawannya juga yang semua berstatus sama waktu itu.
Siapa sangka reaksinya berlebihan. Saya diminta meramal! Ampun! Saya katakan saya tidak punya kemampuan seperti itu. Tapi tetap didesak. Minimal ada masukan, masak tidak bisa. Harus! Apa boleh bikin. Saya buat analisa sendiri, mengira-ngira berdasarkan watak orang tersebut.
“Jangan lupakan keluarga, mereka penunjang agar karirmu mulus.” Lalu keluar lagi masukan sok bijak, “Dalam berumah-tangga nanti kamu yang akan dominan, jadi hati-hati harus seimbang.” Sepertinya masukan saya diamini, bisa diterima, “Ooooo....begitu.”
Dan tugas saya belum selesai karena dua pasien lain makin penasaran dengan masukan sok bijak. Kamu harus ini, jangan lupakan ini, waspada terhadap ini. Masukan standar, seperti memberi saran kalau kamu lapar makanlah, kalau haus minumlah, dan kalau cape tidur sana.
Saya berpikir, sebenarnya ramalan bukanlah hal yang mutlak adanya. Misalnya jika Mama Lauren mengatakan akan banyak kecelakaan transportasi, maka ini akan sangat bagus jika disikapi sebagai peringatan, lalu berbenah agar mencegah itu terjadi.
Tapi sebenarnya untuk hal-hal demikian kita tidak butuh jasa seorang peramal pun untuk memberi peringatan. Sudah demikian tumpulkah daya pikir kita sehingga harus memakai jasa ahli nujum untuk memberi peringatan. (Tapi kok pernah diramal?)
Dan kalau memang ramalan pasti benar, saya rela membayar mahal kepada seorang peramal untuk memastikan skor pertandingan sepak bola, lalu ikut bertaruh. (Bodoh ya, kalau dipikir-pikir, ngapain peramal itu masih mau cari uang dengan jadi peramal sementara dia bisa jadi milyuner lewat berjudi ke Las Vegas, hahaha).
Ada-ada saja.
Tuesday, May 29, 2007
Monday, May 28, 2007
Kepercayaan Ini-Itu
Pernah suatu kali waktu saya naik pesawat kebetulan di sebelah saya duduk seorang mahasiswi yang menempuh studi di Jogja. Wah seru nih. Tidak juga. Dia lalu mengajak aku ngobrol. Tapi ujung-ujungnya dia lalu mengambil lembaran yang terselip di bangku depan bagian belakang, ternyata isinya panduan doa. Lengkap panduan doa lima agama disana. Lalu dia tanya kamu berdoa dengan cara mana. Pertanyaan kuno banget bagi saya. Tapi ya harus dijawab, dan jawaban saya tidak satu pun.
Hehe, saya sudah berapa kali membuat orang kaget atas jawaban saya. Tapi dengan begitu dia justru dengan leluasa menceritakan pengalaman-pengalaman spiritualnya dalam berasosiasi dengan salah satu kategori kepercayaan itu tanpa harus merasa menyinggung saya. Saya katakan saya sangat menghargai semua tokoh-tokoh agama. Lalu saya bercerita tentang Anthony De Mello. Senanglah dia. Eits, tapi saya lalu bercerita tentang Alm. Munir, Dalai Lama, Gandhi dan Sufi juga. Ups, mimiknya sedikit berubah. Kena kau :D
Dia juga minta dukungan doa atas seorang rohaniwannya yang meninggal, dan saya katakan pasti.
Waktu kecil, sekitar kelas 3 atau 4 SD, saya pernah dapat doktrin-doktrin aneh. Saya punya beberapa kartu dengan tokoh video game yang terkenal saat itu, Street Fighter. Saya punya gambarnya Dhalsim, yang memakai kalung tengkorak. Lalu ada juga tokoh Zangief, yang diceritakan asalnya dari Uni Soviet, negara komunis. Dan sepupu saya yang seumuran saya waktu itu menyuruh saya membakarnya, loh kenapa? Katanya berhubungan dengan simbol-simbol setan. Dan dengan bodohnya saya ikut saja, padahal saya senang sekali dengan Street Fighter.
Saya juga pernah disuruh berhati-hati dengan sesuatu yang berhubungan dengan angka 666. Simbol setan lagi. Dan saya kembali takut. Guru saya katakan nanti saya bakalan dipanggang seumur hidup. Lalu waktu menjelang tanggal 9 bulan September 1999 juga dikatakan akan kiamat. 999 dibalik menjadi 666, Devil’s Day. Padahal kalau kiamat gampang saja, suruh saja Amerika dan Rusia meledakkan semua senjata perangnya yang paling maut, maka kekuatan ledakannya bisa menghancurkan tujuh bumi, kata Alm. Cak Nur satu ketika yang pernah saya dengar.
Ada juga yang percaya kutukan sebuah angka. Orang C(h)ina sangat menghindari sesuatu yang berbau 4. Orang Eropa saat ini masih percaya dengan tahayul angka 13.
Menyangkut perjodohan, mereka yang merintih karena kesendiriannya begitu rajin melihat ramalan bintang tiap minggu. Ada juga yang rajin menghitung dan mencocok-cocokkan shionya dengan pasangannya. Shio ini cocok dengan shio itu. Zodiak ini cocok dengan zodiak itu.
Dasar. Gitu kok dipercaya. Orang-orang di sekitar kita sangat gampang ditakut-takuti jika sudah menyangkut dunia transenden. Padahal mereka bisa saja dibodohi oleh pemangkunya itu.
Lalu saya tetap ditanya, apa kepercayaanmu? Hehe, saya hanya tersenyum, biarlah itu menjadi urusan saya, karena apapun agama saya (mungkin tidak beragama dan tidak berTuhan) saya tidak akan membuat rusuh atau membuat kelompok baru penyebar paham-paham. Tidak akan, karena tidak berguna, setidaknya bagi saya.
Hehe, saya sudah berapa kali membuat orang kaget atas jawaban saya. Tapi dengan begitu dia justru dengan leluasa menceritakan pengalaman-pengalaman spiritualnya dalam berasosiasi dengan salah satu kategori kepercayaan itu tanpa harus merasa menyinggung saya. Saya katakan saya sangat menghargai semua tokoh-tokoh agama. Lalu saya bercerita tentang Anthony De Mello. Senanglah dia. Eits, tapi saya lalu bercerita tentang Alm. Munir, Dalai Lama, Gandhi dan Sufi juga. Ups, mimiknya sedikit berubah. Kena kau :D
Dia juga minta dukungan doa atas seorang rohaniwannya yang meninggal, dan saya katakan pasti.
Waktu kecil, sekitar kelas 3 atau 4 SD, saya pernah dapat doktrin-doktrin aneh. Saya punya beberapa kartu dengan tokoh video game yang terkenal saat itu, Street Fighter. Saya punya gambarnya Dhalsim, yang memakai kalung tengkorak. Lalu ada juga tokoh Zangief, yang diceritakan asalnya dari Uni Soviet, negara komunis. Dan sepupu saya yang seumuran saya waktu itu menyuruh saya membakarnya, loh kenapa? Katanya berhubungan dengan simbol-simbol setan. Dan dengan bodohnya saya ikut saja, padahal saya senang sekali dengan Street Fighter.
Saya juga pernah disuruh berhati-hati dengan sesuatu yang berhubungan dengan angka 666. Simbol setan lagi. Dan saya kembali takut. Guru saya katakan nanti saya bakalan dipanggang seumur hidup. Lalu waktu menjelang tanggal 9 bulan September 1999 juga dikatakan akan kiamat. 999 dibalik menjadi 666, Devil’s Day. Padahal kalau kiamat gampang saja, suruh saja Amerika dan Rusia meledakkan semua senjata perangnya yang paling maut, maka kekuatan ledakannya bisa menghancurkan tujuh bumi, kata Alm. Cak Nur satu ketika yang pernah saya dengar.
Ada juga yang percaya kutukan sebuah angka. Orang C(h)ina sangat menghindari sesuatu yang berbau 4. Orang Eropa saat ini masih percaya dengan tahayul angka 13.
Menyangkut perjodohan, mereka yang merintih karena kesendiriannya begitu rajin melihat ramalan bintang tiap minggu. Ada juga yang rajin menghitung dan mencocok-cocokkan shionya dengan pasangannya. Shio ini cocok dengan shio itu. Zodiak ini cocok dengan zodiak itu.
Dasar. Gitu kok dipercaya. Orang-orang di sekitar kita sangat gampang ditakut-takuti jika sudah menyangkut dunia transenden. Padahal mereka bisa saja dibodohi oleh pemangkunya itu.
Lalu saya tetap ditanya, apa kepercayaanmu? Hehe, saya hanya tersenyum, biarlah itu menjadi urusan saya, karena apapun agama saya (mungkin tidak beragama dan tidak berTuhan) saya tidak akan membuat rusuh atau membuat kelompok baru penyebar paham-paham. Tidak akan, karena tidak berguna, setidaknya bagi saya.
"Agama saya sederhana yaitu agama kebaikan.”
(Dalai Lama XIV)
“Aku mencintaimu ketika aku bersujud di masjid, bersimpuh di kuil,
bersembahyang di gereja, karena kamu dan aku anak-anak dari satu agama, dan
itulah jiwa.”
(Kahlil Gibran)
“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu, karena takut pada neraka, maka
bakarlah aku di dalam neraka. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan
surga, campakkanlah aku dari dalam surga. Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi
Engkau,janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu, yang Abadi
kepadaku.”
(Rabi'ah Al-Adawi'yah )
Wednesday, May 23, 2007
Tolong Jangan Gunakan Kekerasan (Lagi)
KARENA MEREKA JUGA BISA MERASAKAN SAKIT DAN PUNYA PERASAAN
Menakutkan dan memprihatinkan memang, saat perbedaan pendapat disikapi dengan cara yang memancing kekerasan. Dalihnya pun sederhana, hukum kita seperti macan ompong! Lihat saja mereka para koruptor yang melarikan uang negara tidak pernah diadili. Setuju. Juga siapa yang berani menyeret para pelanggar hukum yang pernah memegang jabatan strategis di pemerintahan seperti presiden, menteri atau jendral ?
Setuju kawan, setuju. Tapi saya yakin cara-cara yang menggunakan kekerasan bukan solusi tepat-guna juga, karena proses ini akan berulang terus, bisa jadi skalanya makin besar, dan yang menjadi korban adalah mereka yang juga tidak tahu-menahu apa yang kita lakukan. Gandhi pernah bilang mata dibalas mata hanya membuat kita buta. Dan batin kita pun ikut buta...
Kawan setuju akan ketidakadilan yang melanda di muka bumi ini kan? Kawan menentang Amerika dengan begitu kuatnya, atas segala kelalimannya. Setuju kawan, setuju. Mereka hanya sepersekian dari penduduk bumi, namun konsumsi energi yang digunakan mereka serta emisi yang mereka muntahkan untuk keperluan konsumsi mereka menyebabkan seluruh dunia ini, bahkan mereka yang tidak pernah merasakan nikmatnya menggunakan energi bumi ini, harus bersiap terkena resiko kanker kulit. Mereka mungkin masih punya 1001 cara untuk melindungi warga mereka, namun bagaimana dengan mereka di negara yang miskin di Afrika sana misalnya?
Saya setuju atas pandangan kawan tentang ketidakadilan. Oleh karena itu, saya sangat berharap agar kawan tidak ikut-ikutan menjadi sumber ketidakadilan, agar kawan tidak seperti Amerika yang kawan dan kita semua tentang atas ketidakadilan yang mereka perbuat, iya kan, kawan?
Kawan, saudaraku, saya tidak bermaksud menggurui kawan, apalah artinya satu orang ini dibandingkan dengan apa yang kawan sekalian perjuangkan. Namun, kawan, saya yakin kawan mampu mengajak kita semua menjadi khafilah di muka bumi ini.
Beberapa yang hari lalu kawan, saya melihat seorang anak kecil yang lugu, dia tampak begitu senang berjalan dengan orang tuanya. Dia lalu tersenyum untuk saya yang tidak pernah dikenalnya. Setidaknya saya merenung, jangan ambil senyum-senyum ini dari mereka yang mencintainya, mereka yang tidak tahu apa-apa atas semua ketidakadilan yang sudah menimpa kita. Setidaknya, saya butuh senyum itu.
Terima kasih.
Menakutkan dan memprihatinkan memang, saat perbedaan pendapat disikapi dengan cara yang memancing kekerasan. Dalihnya pun sederhana, hukum kita seperti macan ompong! Lihat saja mereka para koruptor yang melarikan uang negara tidak pernah diadili. Setuju. Juga siapa yang berani menyeret para pelanggar hukum yang pernah memegang jabatan strategis di pemerintahan seperti presiden, menteri atau jendral ?
Setuju kawan, setuju. Tapi saya yakin cara-cara yang menggunakan kekerasan bukan solusi tepat-guna juga, karena proses ini akan berulang terus, bisa jadi skalanya makin besar, dan yang menjadi korban adalah mereka yang juga tidak tahu-menahu apa yang kita lakukan. Gandhi pernah bilang mata dibalas mata hanya membuat kita buta. Dan batin kita pun ikut buta...
Kawan setuju akan ketidakadilan yang melanda di muka bumi ini kan? Kawan menentang Amerika dengan begitu kuatnya, atas segala kelalimannya. Setuju kawan, setuju. Mereka hanya sepersekian dari penduduk bumi, namun konsumsi energi yang digunakan mereka serta emisi yang mereka muntahkan untuk keperluan konsumsi mereka menyebabkan seluruh dunia ini, bahkan mereka yang tidak pernah merasakan nikmatnya menggunakan energi bumi ini, harus bersiap terkena resiko kanker kulit. Mereka mungkin masih punya 1001 cara untuk melindungi warga mereka, namun bagaimana dengan mereka di negara yang miskin di Afrika sana misalnya?
Saya setuju atas pandangan kawan tentang ketidakadilan. Oleh karena itu, saya sangat berharap agar kawan tidak ikut-ikutan menjadi sumber ketidakadilan, agar kawan tidak seperti Amerika yang kawan dan kita semua tentang atas ketidakadilan yang mereka perbuat, iya kan, kawan?
Kawan, saudaraku, saya tidak bermaksud menggurui kawan, apalah artinya satu orang ini dibandingkan dengan apa yang kawan sekalian perjuangkan. Namun, kawan, saya yakin kawan mampu mengajak kita semua menjadi khafilah di muka bumi ini.
Beberapa yang hari lalu kawan, saya melihat seorang anak kecil yang lugu, dia tampak begitu senang berjalan dengan orang tuanya. Dia lalu tersenyum untuk saya yang tidak pernah dikenalnya. Setidaknya saya merenung, jangan ambil senyum-senyum ini dari mereka yang mencintainya, mereka yang tidak tahu apa-apa atas semua ketidakadilan yang sudah menimpa kita. Setidaknya, saya butuh senyum itu.
Terima kasih.
Thursday, May 17, 2007
Aku Benci Pertemuan Karena Sedih Akan Berpisah
Sabtu 5 Mei 2007.. saya harus melepas kepergian sahabat baik saya, bahkan saudara, yang harus pulang kembali ke kampung halamannya, Medan. Studinya sudah selesai dengan gelar sarjana digenggaman, dan dia memilih untuk pulang kampung.
Saya tinggal satu pondokan, bahasa keren dari kos-kosan, dalam kurun 2 tahun. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan masuk ke pondokan, dan 2 tahun lalu itu datang saudara yang satu ini, Frans namanya.
Pada dasarnya kami penghuni pondokan semua bersahabat baik. Saya tidak pernah memilah-milih teman, namun banyaknya kesesuaian pandangan, ide, pemikiran membuat seseorang lebih akrab satu sama lain.. mirip orang pacaran lah gitu :)
Tinggal satu pondokan membuat suasana seperti rumah sendiri dan diisi saudara-saudara berbagai daerah. Kebiasaan-kebiasaan yang baik dan buruk akan kelihatan semua, kami tinggal seatap, serumah, berinteraksi tiap hari, seperti keluarga.
Saya teringat jika kita menghabiskan malam dengan nonton bersama. Kalau nonton berita politik yang sedang hangat, maka komentar-komentar meluncur deras. Frans dan saya sangat seru jika berkomentar tentang ketentaraan :) konon banyak saudaranya yang memilih profesi tentara sebagai jalan hidupnya dan banyak sekali cerita-cerita ‘lucu’ mengenai pengalaman ketentaraan tersebut, disamping komentar lainnya yang usil. Apalagi kalau menonton komedi sejenis Empat Mata ramai-ramai, tempat kita jadi heboh sekali dengan tawa.
Saya juga teringat saat melakukan perjalanan bareng. Kami pernah ke Jogja 2 malam, ke tempat kenalan Frans pemilik Ayam Goreng Suharti Jogja, dan dijamu makan luar biasa enak dan banyak sekali! Belum lagi perjalanan ke Gunung Bromo dengan sepeda motor, lalu mendirikan tenda sambil menunggu matahari pagi. Dan masih banyak lagi. Kami senang berjelajah!
Bicara soal kebiasaan, saya coba angkat sedikit kebiasaan Frans (maaf bang). Frans punya rekor bangun kesiangan, setiap bangun dan keluar dari kamar pasti teman-teman yang lain akan menertawakan, mengomentari usil dan memberi nasihat yang agak bijak bahwa jika begini terus kapan Indonesia bisa bangkit :)
Semua itu bumbu-bumbu persaudaraan yang sebentar lagi akan hilang. Saya dengan teman mengantar ke bandara Abdulrahman Saleh di Malang. Sewaktu dia masuk untuk check-in teman saya berkata saya benci pertemuan karena sedih akan berpisah.
....Pertemuan tidak bisa dihindari, dan setiap saat saya harus bersiap untuk bersedih. Akhirnya berpisah juga, pesawat sudah harus berangkat, melepas saudara yang tidak tahu kapan lagi akan bertemu, namun kami berjanji akan saling berkunjung.
Esok pagi, kamar itu sudah tidak berpenghuni lagi, hingga siang dia tidak keluar-keluar, ya.. penghuninya sudah pergi. Tidak ada lagi celetukan usil untuk seseorang yang bangun kesiangan.
Dan air mata pun menetes...
Subscribe to:
Posts (Atom)