Thursday, May 17, 2007

Aku Benci Pertemuan Karena Sedih Akan Berpisah

Sabtu 5 Mei 2007.. saya harus melepas kepergian sahabat baik saya, bahkan saudara, yang harus pulang kembali ke kampung halamannya, Medan. Studinya sudah selesai dengan gelar sarjana digenggaman, dan dia memilih untuk pulang kampung.

Saya tinggal satu pondokan, bahasa keren dari kos-kosan, dalam kurun 2 tahun. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan masuk ke pondokan, dan 2 tahun lalu itu datang saudara yang satu ini, Frans namanya.

Pada dasarnya kami penghuni pondokan semua bersahabat baik. Saya tidak pernah memilah-milih teman, namun banyaknya kesesuaian pandangan, ide, pemikiran membuat seseorang lebih akrab satu sama lain.. mirip orang pacaran lah gitu :)

Tinggal satu pondokan membuat suasana seperti rumah sendiri dan diisi saudara-saudara berbagai daerah. Kebiasaan-kebiasaan yang baik dan buruk akan kelihatan semua, kami tinggal seatap, serumah, berinteraksi tiap hari, seperti keluarga.

Saya teringat jika kita menghabiskan malam dengan nonton bersama. Kalau nonton berita politik yang sedang hangat, maka komentar-komentar meluncur deras. Frans dan saya sangat seru jika berkomentar tentang ketentaraan :) konon banyak saudaranya yang memilih profesi tentara sebagai jalan hidupnya dan banyak sekali cerita-cerita ‘lucu’ mengenai pengalaman ketentaraan tersebut, disamping komentar lainnya yang usil. Apalagi kalau menonton komedi sejenis Empat Mata ramai-ramai, tempat kita jadi heboh sekali dengan tawa.

Saya juga teringat saat melakukan perjalanan bareng. Kami pernah ke Jogja 2 malam, ke tempat kenalan Frans pemilik Ayam Goreng Suharti Jogja, dan dijamu makan luar biasa enak dan banyak sekali! Belum lagi perjalanan ke Gunung Bromo dengan sepeda motor, lalu mendirikan tenda sambil menunggu matahari pagi. Dan masih banyak lagi. Kami senang berjelajah!

Bicara soal kebiasaan, saya coba angkat sedikit kebiasaan Frans (maaf bang). Frans punya rekor bangun kesiangan, setiap bangun dan keluar dari kamar pasti teman-teman yang lain akan menertawakan, mengomentari usil dan memberi nasihat yang agak bijak bahwa jika begini terus kapan Indonesia bisa bangkit :)

Semua itu bumbu-bumbu persaudaraan yang sebentar lagi akan hilang. Saya dengan teman mengantar ke bandara Abdulrahman Saleh di Malang. Sewaktu dia masuk untuk check-in teman saya berkata saya benci pertemuan karena sedih akan berpisah.

....Pertemuan tidak bisa dihindari, dan setiap saat saya harus bersiap untuk bersedih. Akhirnya berpisah juga, pesawat sudah harus berangkat, melepas saudara yang tidak tahu kapan lagi akan bertemu, namun kami berjanji akan saling berkunjung.

Esok pagi, kamar itu sudah tidak berpenghuni lagi, hingga siang dia tidak keluar-keluar, ya.. penghuninya sudah pergi. Tidak ada lagi celetukan usil untuk seseorang yang bangun kesiangan.

Dan air mata pun menetes...

No comments: