Wednesday, May 23, 2007

Tolong Jangan Gunakan Kekerasan (Lagi)

KARENA MEREKA JUGA BISA MERASAKAN SAKIT DAN PUNYA PERASAAN

Menakutkan dan memprihatinkan memang, saat perbedaan pendapat disikapi dengan cara yang memancing kekerasan. Dalihnya pun sederhana, hukum kita seperti macan ompong! Lihat saja mereka para koruptor yang melarikan uang negara tidak pernah diadili. Setuju. Juga siapa yang berani menyeret para pelanggar hukum yang pernah memegang jabatan strategis di pemerintahan seperti presiden, menteri atau jendral ?

Setuju kawan, setuju. Tapi saya yakin cara-cara yang menggunakan kekerasan bukan solusi tepat-guna juga, karena proses ini akan berulang terus, bisa jadi skalanya makin besar, dan yang menjadi korban adalah mereka yang juga tidak tahu-menahu apa yang kita lakukan. Gandhi pernah bilang mata dibalas mata hanya membuat kita buta. Dan batin kita pun ikut buta...

Kawan setuju akan ketidakadilan yang melanda di muka bumi ini kan? Kawan menentang Amerika dengan begitu kuatnya, atas segala kelalimannya. Setuju kawan, setuju. Mereka hanya sepersekian dari penduduk bumi, namun konsumsi energi yang digunakan mereka serta emisi yang mereka muntahkan untuk keperluan konsumsi mereka menyebabkan seluruh dunia ini, bahkan mereka yang tidak pernah merasakan nikmatnya menggunakan energi bumi ini, harus bersiap terkena resiko kanker kulit. Mereka mungkin masih punya 1001 cara untuk melindungi warga mereka, namun bagaimana dengan mereka di negara yang miskin di Afrika sana misalnya?

Saya setuju atas pandangan kawan tentang ketidakadilan. Oleh karena itu, saya sangat berharap agar kawan tidak ikut-ikutan menjadi sumber ketidakadilan, agar kawan tidak seperti Amerika yang kawan dan kita semua tentang atas ketidakadilan yang mereka perbuat, iya kan, kawan?

Kawan, saudaraku, saya tidak bermaksud menggurui kawan, apalah artinya satu orang ini dibandingkan dengan apa yang kawan sekalian perjuangkan. Namun, kawan, saya yakin kawan mampu mengajak kita semua menjadi khafilah di muka bumi ini.
Beberapa yang hari lalu kawan, saya melihat seorang anak kecil yang lugu, dia tampak begitu senang berjalan dengan orang tuanya. Dia lalu tersenyum untuk saya yang tidak pernah dikenalnya. Setidaknya saya merenung, jangan ambil senyum-senyum ini dari mereka yang mencintainya, mereka yang tidak tahu apa-apa atas semua ketidakadilan yang sudah menimpa kita. Setidaknya, saya butuh senyum itu.

Terima kasih.

No comments: