Sabtu 16 Juni kemarin, saya melihat di jalan sekelompok anak SMU dengan pakaian yang sudah tercorat-coret, mereka merayakan kemenangannya karena dinyatakan lulus ujian nasional. Di sisi jalan lain juga sama saja. Hari itu adalah hari perayaan. Memang sejak standar kelulusan ujian nasional yang ditetapkan pemerintah dinaikkan, para siswa/i tidak semudah dulu lagi kalau mau lulus ujian. Waktu saya masih SMA dulu, ujian seperti formalitas saja, jarang sekali yang tidak lulus. Dan ujian nasional ini memang masih mendapat banyak kritikan dari para pakar pendidikan, dari Imam Prasojo sampai artis Sophia Latjuba ikut memperjuangkan mereka yang tidak lulus tahun kemarin. Tahun ini...kita lihat saja apa lagi yang menjadi masalah.
Perjalanan belum berakhir. Mereka harus siap-siap masuk perguruan tinggi lagi. Ngejar ijasah lagi. Ah, saya lalu merefleksikan ke diri saya sendiri. Sekarang tahun kelimaku kuliah. Seharusnya sudah lulus. Tapi saya telat menyelesaikan kuliah. Harus ngejar nih.
Dulu saya senang bisa diterima di perguruan tinggi negeri (saya kuliah di Unibraw Malang), bergengsi katanya. Tapi, begitu merasakan sistim pendidikan yang ternyata sama saja, tidak karuan, saya jadi tidak bersemangat. Entah sudah berapa banyak tugas membuat yang sudah diberikan ke kami mahasiswa, hanya sekedar formalitas agar jadi pertimbangan nilai akhir. Dibaca atau tidak, embuh.
Lalu dari semua itu kita diganjar nilai yang katanya merepresentasikan bodoh-pintarnya, berprestasi-gobloknya mahasiswa. Ya itulah ukuran dari universitas untuk kita.
Belakangan saya agak terjebak dengan rutinitas akademis. Bosan. Tujuannya untuk mengejar nilai, bukan ilmu. Saya jadi ingin ke tempat sahabat sekaligus guru saya, pak Rianto, seorang kakek :) yang jenaka dengan beda usia 31 tahun dari usia saya. Seperti dalam buku Tuesday With Morrie, beliau saya anggap sosok dosen sejati, dosen kehidupan, berjiwa muda, tidak konservatif, pemikir independen.
Lalu hari itu juga, di Kompas ada artikel seorang keluarga tidak mampu berjuang untuk menyekolahkan anaknya, nekat, sampai akhirnya keluar dari sekolah karena tidak mampu membayar. Pendidikan masih begitu diidamkan oleh mereka, berharap agar kelak anak mereka bisa menjadi berguna setidaknya buat keluarga, syukur-syukur untuk bangsa dan negara juga.
Pendidikan di negeri ini begitu berantakan, mahal, syukur-syukur kalau benar-benar mendidik. Di IPDN pelajar yang masuk malah menjadi buas sampai tega memukul juniornya.
Inilah potret pendidikan di negeriku... kusut dan sampai hari ini saya tidak tahu dimana peran pemerintah selain hanya memberi ijasah. Bisakah dibenahi?
Saya lalu membaca kembali novel Saman-nya Ayu Utami. Ada pernyataan It is better to light the candle than just curse the darkness. Maknanya, terus berusaha! Gitu kali :)
Monday, June 25, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)